Home / Narasi Islam / Sosial / Gerakan dan Penyikapan Isu

Gerakan dan Penyikapan Isu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: ndsu.edu)
Ilustrasi. (Foto: ndsu.edu)

dakwatuna.com – “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabnya.” (Qs. Al-isroo’: 36)

Era informasi supercepat saat ini, semakin memperluas dimensi ruang kehidupan umat manusia, sekaligus mempersingkat jarak antar ruang tersebut. Seolah tak ada lagi jarak antara satu dengan lainnya. Ia menembus ruang-ruang kedap dan memperluasnya hingga ke sudut-sudut terkecil sekalipun. Dunia semakin luas, tapi sangat singkat untuk dijelajahi.

Keluasan wilayah dan keleluasaan jelajah inilah yang kemudian menawarkan opsi-opsi dalam kehidupan kita. Opsi yang kerap membingungkan, lantaran membanjirnya informasi yang sarat argumentasi yang tersaji. Ragam opsin inilah yang kelak akan menentukan ke arah mana keberpihakan kita. Mulai dari Keberpihakan yang paling “kendor” (simpatisan) hingga yang paling “kencang” (pendukung setia).

Dalam konteks Gerakan, Menyikapi isu atau opini publik yang sedang berkembang di masyarakat merupakan hal yang prinsip. Karena hal ini berkaitan dengan sensitifitas organisasi gerakan. Penyikapan tersebut muncul dari hasil pembacaan dan pengkajian baik oleh individu ataupun organisasi, dan pada akhirnya akan bermuara pada sebuah kesimpulan kolektif.

Media dan Hagemoni

Keberpihakan terhadap isu atau opini publik tidak lepas dari sejauh mana person-person tersebut menerima informasi, kedalamannya, serta tingkat kedewasaan psikologisnya. Dengan demikian, perlu adanya kesigapan kolektif oleh organisasi gerakan maupun individu dalam menakar dan menimbang informasi dan sajian data yang terpapar di hadapannya.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa media-media kita saat ini – sejak bergulirnya demokratisasi pasca reformasi – semakin “liar” dalam membangun opini publik. Kondisi ini adalah realitas yang mesti dihadapi secara cerdas, bukan sesuatu yang mesti dipandang dengan sisnisme yang mengedepankan ego. Karena setiap media juga memiliki standar keidealan wacananya senidri. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai pembangun arus utama (mainstream). Mainstream yang kerap menjadi trendsetter cara berpikir masyarakat. Media lainnya yang berseberangan pendapat tidak akan membiarkan wacana yang beredar begitu saja menjadi konsumsi publik. Jika ada prototype pasti akan berhadapan dengan countertype.

Berhadapan dengan artikel berita, opini, dan statemen-statemen dari para pakar – kerap menyajikan rasionalisasi-rasionalisasi yang berasaskan pada ideologi media pengusung. Seringkali kita dihadapkan pada sebuah isu, misalnya tentang Islam, ada media yang anti-Islam kemudian dengan wacana-wacananya ia membangun stigma negatif tentang Islam, kemudian bagi media yang islamis, stigma tersebut mesti dilawan dengan menghadirkan wacana-wacana yang lurus dan berimbang. Tak hanya itu, media sebagai senjata ideologi akan berusaha membangun masyarakat yang terideologisasi secara senyap. Pada akhirnya terbentuklah masyarakat yang hagemonik, yang dipengaruhi oleh arus opini/wacana yang beredar.

Upaya hagemonik ini tidak melulu bertendensi negatif, ada banyak yang bersifat positif dan produktif terhadap pembangunan, misalnya membangun wacana wajib belajar, partisipasi politik dalam demokrasi, program pembangunan desa, dan sebagainya. Namun, lepas dari itu, organisasi gerakan mesti sigap menyikapi isu-isu yang bersifat politis dan berkenaan dengan kebijakan publik, agar tidak terjebak dalam pusaran propaganda yang justru mematikan gerakan.

Membentuk narasi, membangun aliansi

Sejak bergulinya zaman media sosial dan arus pencitraan politik yang semakin getol, Gerakan sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit dalam menyikapi sebuah isu publik. Organisasi gerakan kerap terjebak dalam aksi-aksi protes yang tidak berisi, disatu sisi kerap diam lantaran termakan rasionaliasi-rasionalisasi para buzzer, ujungnya-ujungnya karena keseringan “memakan” rasionalisasi, lambatlaun menumpulkan daya kritis gerakan.

Gerakan mahasiswa, dalam menghadapi isu dan memberikan sikap politik acap tidak didukung oleh mayarakat secara utuh. Persoalan utamanya terletak dari cara mahasiswa membentuk countertype atau argumentasi tandingan untuk mempengaruhi rakyat. Budaya reaksioner yang tanpa kajian mendalam menjadi gaya kerja GM di sebagian wilayah di Indonesia. Belum lagi cara GM yang kerap anarkis cenderung membuat masyarakat antipati terhadap upaya gerakan mahasiswa, sehingga menjadikan rakyat apatis. Sudah semestinya gerakan mahasiswa merambah dunia literasi dan media; menulis opini, esai, atau artikel yang tentunya berkenaan dengan kegelisahan dan keresahan yang tengah dihadapi.

Ketika menerima informasi yang bernuansa kebijakan publik, yang perlu dilakukan selanjutnya ialah membangun konstruksi opini dari beragam sumber media yang saling berlawanan – tentu tidak sulit di era sekarang ini untuk menentukan media-media mana yang saling berlawanan – sehingga akan terbangun konstruksi informasi yang berimbang (meskipun tidak mutlak).

Selanjutnya, perlu adanya aliansi atau diskusi-diskusi antar gerakan, ini untuk menunjang dukungan dan basis gerakan yang masif antar elemen, kesatuan gerakan dalam mengahadapi isu sentral adalah kekuatan inti dalam menyikapi isu, tentu kita tetap ingat sejarah aliansi gerakan mahasiswa ’98 yang begitu kokoh.

Setelah terbangun aliansi yang masif dan mapan kajian. Upaya selanjutnya yaitu membangun basis dukungan masyarakat dengan membentuk opini lewat media-media sosial, media arus utama yang “sepemikiran” dan kampanye-kampanye ke lapangan. Baru setelah itu: Aksi demo. Aksi demo adalah jalan terakhir dalam memenangkan gerakan.

Menyikapi isu merupakan keniscayaan bagi organisasi gerakan. Sikap pasif dan polos dalam meyikapinya adalah kematian bagi gerakan itu sendiri. Semoga kita tetap melek dalam menjaga gerakan yang tetap cerdas, responsif, dan solutif.

Referensi:

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKIS

Bill Moyer. 2006. Membangun Perlawanan Rakyat. Yogyakarta: Pustaka Kendi

Serta hasil diskusi-diskusi Kebijaan Publik bersama rekan-rekan lainnya

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Gubernur Mahasiswa FKIP Unila 2013-2014, Kepala Kebijakan Publik PD KAMMI BandarLampung, tertarik dengan dunia gerakan, kepenulisan, dan pendidikan. Saat ini, selain aktif di organisasi, ia juga aktif sebagai staf pendidik di salah satu sekolah islam terpadu di Bandar Lampung.

Lihat Juga

Pernyataan Sikap PP Pemuda PUI Tentang Insiden Pembakaran Bendera Tauhid di Garut