Home / Berita / Internasional / Eropa / Mahinur Özdemir, Wanita Berhijab Pertama di Parlemen Eropa: Ketua Partai Terganggu dengan Hijabku

Mahinur Özdemir, Wanita Berhijab Pertama di Parlemen Eropa: Ketua Partai Terganggu dengan Hijabku

Mahinur Özdemir, muslimah berhijab pertama di parlemen Belgia dan Eropa. (Anadolu)
Mahinur Özdemir, muslimah berhijab pertama di parlemen Belgia dan Eropa. (Anadolu)

dakwatuna.com – Brussel. Mahinur Özdemir, muslimah berhijab pertama di parlemen Belgia, dan parlemen Eropa mangatakan bahwa ketua partainya merasa terganggu dengan dirinya yang berhijab. Hal itu untuk mengomentari keputusan memecatnya dari keanggotaan partai.

Seperti diungkapkannya kepada Anadolu, Sabtu (30/5/2015) hari ini, Mahinur Özdemir yang dipecat dari partai Centre Démocrate Humaniste (CDH) mengatakan, “Ketua partai, Benoît Lutgen, selama dua tahun ini tidak memberinya kedudukan yang berarti di dalam partai. Padahal aku menduduki peringkat kelima dalam perolehan suara di Brussel pada pemilu tahun 2014. Aku yakin dia sangat terganggu dengan hijabku.”

Mahinur Özdemir yang mulai berhasil masuk ke parlemen Belgia pada tahun 2009, menambahkan, “Pemecatanku, yang katanya karena aku menolak mengakui adanya pembantaian Armenia tahun 1915, hanyalah alasan belaka. Keputusan pemecatan ini mencerminkan opini di dalam partai yang memang menginginkan aku keluar dengan cara apa pun.”

Pemecatan ini mendapatkan komentar negatif dari banyak kalangan. Misalnya dari staf pengajar Universitas Louisville, Amerika, Justin McCarthy. Pakar sejarah ini mengatakan, “Keputusan pemecatan Mahinur Özdemir adalah sebuah kesalahan besar. Ini sangat bertentangan dengan demokrasi. Kebebasan berekspresi adalah hak dasar. Seseorang tidak bisa dipaksa untuk menganut pendapat tertentu, atau dilarang mengemukakan pendapatnya.” (msa/dakwatuna)

Sumber: Anadolu

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Meski Kalah, Ternyata 64 Persen Warga Israel Ingin Operasi Militer di Gaza Lanjut