Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / 7M Ketika Ramadhan

7M Ketika Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Marhaban ya Ramadhan (ilustrasi).  (lintas.me)
Marhaban ya Ramadhan (ilustrasi). (lintas.me)ramadhan

dakwatuna.com – Bulan penuh ampunan, rahmat dan berkah sudah hadir di tengah-tengah kita. Sudah cukupkah bekal yang kita persiapkan untuk menjalankannya. Janngan-jangan kita masih berpikir bahwa menyambut Ramadhan cukup hanya dengan sambutan-sambutan yang sifatnya materil, sehingga yang menonjol hanya menyiapkan makanan dan perkakas lainnya yang dianggap penting dalam Ramadhan. Apa tidak boleh menyiapkan kebutuhan materil dalam untuk menyambut bulan Ramadhan? Tentu saja boleh. Tapi jangan sampai itu dijadikan prioritas utama. Karena sejatinya bulan Ramadhan adalah bulan untuk menahan dan mengontrol diri. Untuk sesuatu yang halal saja kita harus mengontrol diri, apalagi yang haram. Dengan memfokuskan diri pada bidang materil untuk menghadapi Ramadhan, maka tak jarang dijumpai fenomena yang sama sekali bertolak belakang dengan nilai puasa di bulan Ramadhan, di antaranya yang kerap terjadi di kalangan masyarakat muslim ialah: membengkaknya pengeluaran. Karena itulah supaya ibadah kita di bulan Ramadhan bisa maksimal, serta terhindar dari hal-hal yang tidak begitu penting, maka berikut ini ada beberapa poin yang perlu diperhatikan agar ketika Ramadhan kita bisa memanfaatkannya dengan baik:

  1. Menata Niat

Menata niat sangat penting bagi setiap muslim. Syarat diterimanya ibadah ialah jika diniati dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya. Sejak awal kita harus menata niat dengan baik. Kita niatkan bahwa segala amal yang dilakukan di bulan Raadhan hanya untuk merah keridhaan Allah subhanahu wata`ala. Kita juga berniat sejak awal bahwa amalan yang akan dilakukan akan diupayakan sedemikian rupa agar tetap berkesinambungan baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Mengingat sangat pentingnya niat, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya (setiap) amalan tergantung pada niatnya”(Hr. Bukhori dan Muslim). Kalau niat kita sejak awal adalah benar-benar tulus hanya untuk Allah, insya Allah akan dimudahkan dan dianugerahi keistiqamahan setelah bulan Ramadhan. Dengan niat yang tulus ini kita akan masuk dalam kategori hadits Rasulullah shollallahu `alaihi wasallam: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan (karena) iman dan (tulus untuk) mengharap (ridha Allah, maka dosa-dosa yang telah lampau (pasti) diampuni Allah ta`ala”(Hr. Bukhari dan Muslim).

  1. Memulai Dengan ‘BASMALAH’

Memulai Ramadhan dengan basmalah (dengan nama Allah) berarti kita secara sadar menanamkan kesadaran mendasar pada hati kita bahwa Allah menjadi tumpuan awal dan akhir dari amal kita. Tidak ada segala sesuatu yang terjadi tanpa kehendak dan pengetahuan Allah. Dengan basmalah kita akan menjalani ibadah di bulan Ramadhan dengan aman dan tenteram. Ketika sebelumnya banyak dosa, kita merasa aman karena Allah adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih), sebesar apapun dosa manusia pasti diampuni asal mau bertaubat. Ketika kita merasa kebaikan yang dilakukan lebih banyak daripada keburukan, maka kita merasa tentram karena Allah adalah Ar-Rahim (Maha Penyayang), orang-orang yang beriman mendapat kasih sayang khusus dari Allah subhanahu wata`ala. Kesadaran basmalah bila dipraktikkan secara benar, akan membantu setiap muslim senantiasa semangat dalam beramal dan bekerja, apalagi di bulan Ramadhan. Kesadaran ini pula akan membuat setiap muslim tidak sembrono dalam beramal, dan selalu mementingkan kepentingan yang mengarah pada keridhaan Allah daripada kepentingan-kepentingan pribadi. Allah menjadi tumpuan utama dan menjadi tempat bergantung.

  1. Memulai Amal Yang Paling Ringan

Kebanyakan orang menjadikan bulan Ramadhan menjadi semacam ‘bulan pelampiasan’ sehingga ada yang melakukan amal sebanyak-banyaknya dengan sebenap macamnya untuk diluapkan di bulan Ramadhan. Tiba-tiba banyak dijumpai orang yang rajin shalat jama`ah, sedekah, shalat malam, mengaji Alquran dan lain sebagainya. Karena tidak memilih amal yang paling ringan dan mudah dilakukan sesuai kemampuan diri, akhirnya di luar bulan Ramadhan amalan-amalan menjadi terhenti dan putus. Putus karena di samping persepsi dan niat yang salah, amalan-amalan dilakukan tanpa melihat kadar kemampuan diri. Sehingga kita tidak heran jika banyak orang gagal ketika keluar dari bulan Ramadhan, karena tidak memilih amalan yang paling ringan dilakukan. Maka dari itu, yang perlu diperhatikan agar amalan kita berkualitas baik dan tetap istiqomah, kita perlu memilih amalan yang paling mudah kita lakukan, agar tidak membuat bosan dan putus di tengah jalan.

  1. Menjalankan Secara Bertahap

Di antara hal yang membuat orang mudah lelah, bosan dan putus asa ialah ketika melakukan sesuatu dengan sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan tahapan-tahapan. Ibarat orang lari maraton, ia langsung berlari sekencang-kencangnya sehingga sebelum sampai finish tenaga sudah habis lebih dahulu karena salah dalam menggunakan tenaga. Nabi sendiri sudah mengingatkan kita. Ada ungkapan menarik yang diriwayatkan Imam Baihaqi dalam kitab syu`abu al-Imân: “Sesungguhnya agama ini sangat kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan lembut”. Kelambutan mencerminkan kebertahapan. Itulah mengapa kita dapati beberapa larangan syari`at dilakukan secara bertahap seperti keharaman minum khamr dan perintah untuk berjilbab dan lain sebagainya. Melakukan amalan secara bertahap sangat penting lantaran untuk membuat kita konsisten dalam menjalankannya. Dalam bulan Ramadhan, kalau kita langsung melakukan amalan di luar kebiasaan kita langsung dengan jumlah banyak tanpa bertahap, bisa dipastikan di luar bulan Ramadhan pasti kita akan meninggalkan amalan-amalan itu. Padahal tujuan disyariatkan puasa di bulan Ramadha ialah untuk membuat orang bertakwa. Sedangkan ketakwaan itu harus tetap diupayakan baik di bulan atau di luar bulan Ramadhan.

  1. Menunaikan Amal Secara Berkesinambungan

Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shohih-nya meriwayatkan, Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “Amal yang paling dicintai oleh Allah ialah yang paling dawam (istiqomah, langgeng) meskipun sedikit”. Kelanggengan dan keistiqamahan amal ini erat kaitannya denga melakukan amalan sesuai dengan kemampuan serta dilakukan secara bertahap. Kebersinambungan amal ini juga menjadi sebagai tanda bagi sukses tidaknya muslim dalam beribadah di bulan Ramadhan. Suatu saat Rasulullah shallalahu `alaihi wasallam naik mimbar sembari berkata amin tiga kali. Para sahabat heran dan bertanya mengenai pengaminan beliau sebanyak tiga kali. Beliau mengatakan sedang mengamini doa Jibril. Salah satu yang beliau amini ialah: celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosa-dosanya(Hr. Turmudzi). Supaya Ramadhan kita diterima dengan baik maka kita mengusahakan amalan yang rutin di bulan Ramadhan untuk kemudian dilanjutkan di luar bulan Ramdhan.

  1. Mendawami Jama`ah dan Orang-orang Sholih

Membiasakan diri dan menjaga jama`ah adalah faktor penting yang membuat kita sukses di bulan Ramadhan. Dengan berjamaah kita akan menjadi kuat. Pekerjaan juga akan menjadi ringan. Meninggalkan jamaah bagaikan seekor biri-biri yang sendirian, amat mudah diterkam oleh serigala. Tak hanya itu, kita harus selektif dalam memilih teman baik. Teman yang baik diibaratkan oleh Nabi dengan penjual minyak wangi, yang berarti kita bisa membeli manfaat darinya, atau kalau tidak bisa membeli kita tetap terkena bau wanginya. Sedangkan teman yang buruk ialah diibaratkan seperti pandai besi, yang memercikkan api sehingga bisa membakar bahkan baunya tak enak (Hr. Bukhori Muslim). Singkatnya, kita harus menjaga jama`ah dan bergaul dengan orang-orang sholih. Ini persis seperti lagu yang sudah mayshur yaitu: Tombo Ati.

  1. Memanjatkan Doa

Kita tidak pernah tahu apakah amalan kita akan diterima oleh Allah atau tidak selama bulan Ramadhan. Sudah menjadi keniscayaan bahwa sebagai muslim kita harus berdoa kepada Allah ta`ala. Kalau kebanyakan dari antara kita merasa bahagia ketika bulan Ramadhan, maka lain halnya dengan para sahabat dan salafus sholih, mereka sedih bukan main memanjatkan doa agar diterima segala amal kebaikannya dan diberi keistiqamahan dalam menjalankannya. Kita tidak tahu secara pasti apakah kita masi menjumpai Ramadhan pada tahun berikutnya, maka kita harus berdoa agar amalan kita dikabulkan dan konsisten beramal sepanjang waktu hingga diperjumpakan dengan bulan Ramadhan tahun depan. Semoga ini bermanfaat dan menjadikan kita semangat dan konsisten dalam beramal baik dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Wallahu a`lam bi al-showab.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Anggota Manajemen Penulis Indonesia.

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1439 H: 2 Urgensi Ramadhan Dalam Mewujudkan Wihdatul Ummah