Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Dan Kami Menguji Kalian dengan Keburukan dan Kebaikan”

“Dan Kami Menguji Kalian dengan Keburukan dan Kebaikan”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)

dakwatuna.com – “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al Anbiya: 35)

Ujian adalah suatu keniscayaan hidup, tanpa ujian berarti tak ada pula prestasi. Jika kita bisa memilih, apakah ujian keburukan ataukah ujian kebaikan yang akan kita lalui, tentunya kebanyakan kita cenderung memilih diuji dengan kebaikan saja. Ujian kebaikan seolah akan lebih ringan kita jalani, dari pada bayang seram ujian keburukan yang menakutkan.

Dapat dikatakan, kehidupan kita di negeri ini bergelimang dengan berbagai nikmat Allah yang kita sendiri tak mampu menghitungnya. Kita hampir tak menyadari bahwa sebenarnya semua itu adalah suatu ujian, sebagaimana halnya saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia yang sedang diuji dengan malapetaka dan penderitaan.

Mereka ditimpa kelaparan dan pembantaian, ketakutan, penyiksaan dan penindasan, terombang-ambing di tengah lautan menghadapi maut, peperangan dan pengusiran. Sedang ujian kita, hanyalah seperti berbagai kesibukan duniawi dan kenikmatannya, atau beragam hiburan dan tontonan. Kita diberikan kecukupan hidup, kebebasan dan keamanan.

Lantas apakah syukur kita selama ini lebih besar dari mereka? Syukur atas nikmat yang jauh lebih besar kita dapatkan, sebelum bertanya tentang siapakah yang lebih memiliki ketabahan, kesabaran dan keteguhan, yang lebih memiliki kerelaan untuk berkorban dan kepedulian untuk dakwah dan perjuangan ini? Juga siapa yang mampu lebih khusyuk bermunajat kepada-Nya, lebih banyak berdzikir kepada-Nya, lebih ikhlas untuk beramal, dan siapa yang sebenarnya mampu menyempurnakan syukur kepada-Nya?

Mereka mengorbankan harta benda, bahkan harus mengorbankan jiwa, sedang kita mungkin hanya diminta sedikit menyisihkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu, atau pada urusan dakwah yang tak seberapa, itupun hampir-hampir kita tak pernah sempat. Mereka tertimpa luka dan kepayahan, mengalami kelaparan dan kehausan, sedang aktivitas yang harus kita kerjakan dipenuhi fasilitas dan kemudahan, kesulitan pun tak seberapa, tetapi kebanyakan kita tetap saja enggan. Kita terus saja berkutat pada kesibukan duniawi dan urusan pribadi yang tiada habisnya, sedang dalam kekurangan dan keterbatasan, mereka mampu berbuat jauh lebih besar.

Menjalani hari-hari dalam berbagai cobaan pahit tak melunturkan rasa cinta mereka kepada Allah, bahkan tumbuh lebih subur di hati mereka dari pada kita yang lebih banyak lalai, malas dan abai. Di Palestina, Suriah, Rohingya dan tempat-tempat di mana puncak-puncak kedzaliman menimpa, iman dan kesabaran tumbuh lebih subur, tekad dan semangat mereka lebih membaja, melebihi kita yang menjalani hari-hari bergelimang kenikmatan. Kerelaan untuk berkorban bagi agama dan menetapi jalan perjuangannya, tumbuh lebih subur pada mereka yang menjalani hari-hari dalam penderitaan.

Jalan menuju masjid-masjid kita terbentang mudah, tak ada rintangan dan aral, tak ada desingan peluru dan lemparan batu, tetapi ia tetap lenggang, dan masjid-masjid kita tetap sepi. Sedikit sekali dari kita yang mau melangkahkan kaki mendatangi majelis-majelis ilmu, mushaf-mushaf tersimpan hampir tak pernah tersentuh, makin langka yang menghidupkan malam dengan qiyamullail. Kebajikan menjadi seperti hanya dilakukan segelintir orang asing yang aneh. Tetapi begitu banyak yang berjejal di majelis-majelis lalai dan berbondong-bondong dalam berbuat maksiaat. Ketika halangan dan rintangan, intimidasi, terampas hak-hak hidup, kehilangan pekerjaan, bahkan todongan senjata, tak menghalangi mereka untuk taat. Tetapi banyak dari kita dengan sukarela berbuat maksiyat atau meninggalkan kewajiban.

Saudara-saudara kita yang sedang berada di puncak-puncak kedzaliman, tetapi semua itu malah bisa jadi merupakan jalan bagi kemuliaan mereka. Kita takut jika harus menjalani cobaan seperti mereka, tetapi dengan ujian kenikmatan yang kita jalani, kemuliaan itu hampir-hampir tak mampu kita raih. Banyak dari kita yang membalas kenikmatan yang diberikan Allah dengan kemaksiatan kepada-Nya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah: 216)

Bisa jadi cobaan itu adalah kasih sayang Allah yang diberikan kepada mereka. Meski mereka dipandang hina oleh kebanyakan dunia, kelak di akhirat segenap manusia menjadi iri atas apa yang mereka dapatkan. Semua itu menghapus kesalahan mereka, meninggikan derajat meraka, menjadi kemuliaan dan pahala yang besar. “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

Mampu melewati badai yang dahsyat, tetapi terlena oleh angin sepoi-sepoi. Teguh menghadapi kekerasan, tetapi terlena oleh kelembutan. Begitulah, ujian kenikmatan seolah akan lebih mudah dilalui, tetapi justru lebih banyak yang berguguran terjatuh di dalamnya. Betapa banyak pula yang bersungguh-sungguh mengingat-Nya ketika kesusahan menghampiri, tetapi setelah berlalu lalai dan berpaling, “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya.” (Az Zumar: 8)

Di Bosnia, atau di Ambon, ada sebuah pelajaran berharga, malapetaka menggugah mereka, menyadarkan mereka, membuat mereka kenal dengan agama dan Rabbnya. Mereka tidak marah atas cobaan yang menimpa, tetapi mereka tergugah, memiliki semangat lebih untuk mendekat kepada-Nya.

Kesulitan-kesulitan kecil yang kita temui, yang membuat kita berkeluh kesah, bahkan sebenarnya ia tak seberapa. “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali Imran: 186)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah: 214)

Apakah kita menunggu berbagai malapetaka datang, baru kita mau beranjak kepada-Nya. Tidakkah lebih baik kita ingat kepada-Nya sejak dalam keadaan lapang, agar Dia mengingat kita dalam kesempitan kita, bergegas kepada-Nya dalam sejak dalam keadaan senang, bukan baru bergegas kepada-Nya setelah tertimpa kesusahan, sehingga tak lagi berarti. Tidakkah cukup kenikmatan mengetuk kita untuk beranjak kepada-Nya? Apakah perlu menunggu datangnya berbagai cobaan seperti itu, baru mau peduli kepada agama ini, dakwah dan perjuangannya?

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Muhasabah, Kebaikan untuk Negeri

Figure
Organization