Home / Narasi Islam / Sosial / Lebih Intim Bersama Anak Yatim

Lebih Intim Bersama Anak Yatim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Dok. DPU DT Yogyakarta)
(Dok. DPU DT Yogyakarta)

dakwatuna.com – Ketika wahyu sempat terputus, Rasulullah shallallâhu `alaihi wasallam diterpa kesediahan yang sangat serius. Tak tahu lagi kepada siapa -selain Allah-, ia harus merintih. Ia khawatir Allah subhânahu wata`ala mencapakkannya setelah memberi hidayah dan wahyu yang tak pernah terkira sebelumnya. Beliau merasa sedih dan bimbang. Siapa yang tak sedih, jika tiba-tiba ditinggal oleh yang terkasih; siapa yang tak merana, jika tiba-tiba ditinggal oleh yang tercinta. Tak hanya itu, istri dari Abu Lahab, tak segan-segan mengejek beliau dengan umpatan yang membuat hati semakin perih. Ia berkata, ‘Muhammad telah ditinggal setannya’. Orang musyrik yang lain berkata, ‘Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepada-Nya’. Ketika kesedihan sudah begitu memuncak, turunlah satu surat sebagai penawar hatinya yang sedang dirundung gulana. Surat Ad-Dhuha turun sebagai jawaban sekaligus hiburan untuk Nabi Muhammad shallallâhu `alaihi wasallam.

Setelah surat Ad-Dhuha turun, Nabi Muhammad semakin yakin bahwa Allah akan selalu perhatian padanya. Namun, yang perlu diangkat pada tulisan ini, – tanpa mengurangi pentingnya ayat-ayat lain yang ada dalam surah Ad-Dhuha- ialah beberapa ayat dalam surat Ad-Dhuha yang secara khusus mengungkap tentang masalah yatim. Pada ayat keenam dari surah Ad-Dhuha, Rasulullah diingatkan dengan peristiwa sejarah. Dalam ayat keenam Allah berfirman, ‘bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?’. Pada ayat ini, Allah menyegarkan kembali ingatan beliau bahwa dahulu sebelum diangakat menjadi Nabi, Muhammad adalah seorang anak yatim – yang ditinggal ayahnya mati sejak berada dalam kandungan-, lalu Allah melindungi dan mengayominya dengan cara yang Dia kehendaki. Secara tersirat sebenarnya kandungan Surah Ad-Dhuha ayat enam ialah bukan sekadar sebagai hiburan bagi Muhammad yang sedang diterpa kesedihan. Pada waktu yang sama, tersirat pelajaran penting bagi umat Islam agar meneladani apa yang dicontohkan Allah pada Muhammad. Artinya: ‘setiap kali kita menjumpai atau menemukan anak yatim, maka kita harus segera menolong, mengayomi, melindungi, dan mengasuhnya’.

Kata ‘fa âwa’ dalam ayat keenam menunjukkan respon Allah yang sangat cepat untuk memberikan perlindungan. Dalam kaidah bahasa Arab kata ‘fa’ adalah termasuk huruf `athaf’ (kata penghubung) yang berfungsi sebagai: li al-tartib ma`a al-ta`qîb (kata penghubung yang menunjukkan urutan sesuatu dengan sesuatu yang lain tanpa jeda, artinya berhubung secara langsung). Secara sederhana, ketika Allah menjumpai Muhammad dalam kondisi yatim, Ia langsung merespon dengan cepat untuk segera melindunginya. Sedangkan kata ‘âwa’ dalam bahasa Arab berarti memberikan tempat perlindungan yang layak. Makanya dalam Alquran salah satu nama surga ialah, ‘jannatu al-ma`wa’(tempat tinggal yang layak diberikan kepada mereka yang beriman dan beramal shalih). Dengan demikian, `bahasa keimanan` tak membuat orang-orang mukmin khawatir dan takut ketika mengasuh anak yatim. Dengan mengayomi dan melindungi anak yatim, sebenarnya Allah akan segera merespon amal kita dengan perlindungan dan ganjaran yang tak terkira.

Pada ayat ke sembilan dikatakan, ‘sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang’. Kalau pada ayat keenam Allah sudah melindungi, mengayomi dan menjaga Nabi Muhammad sedemikian rupa sewaktu masih yatim, maka selain mengayomi dan mengasuh anak yatim ada larangan dari Allah yang tak boleh dilakukan, yaitu: melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap anak yatim. Dalam bahasa Arab, kata ‘taqhar’ berasal dari kata ‘qahru’ yang artinya memaksa, mengalahkan dan melakukan kekerasan. Cobaan yang akan dialami oleh setiap pengasuh anak yatim begitu besar, namun secara tersirat Allah mengingatkan jangan sampai ujian-ujian yang menimpa selama mengasuh anak yatim, menjadi pembenaran untuk berlaku semena-mena, kasar, dan memaksa terhadap anak yatim. Besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya beban yang diemban. Karena sangat berat dalam mengasuh anak yatim, maka ganjarannya tak tanggung-tanggung, yaitu akan hidup bersanding Rasulullah di surga.

Rasulullah shallallâhu `alaihi wasallam berada di garda terdepan dalam memberi teladan orang untuk mengayomi anak yatim. Hubungan beliau dengan anak yatim begitu intim. Dalam lembaran emas sejarah beliau, perhatian terhadap anak yatim begitu diutamakan. Maka tak heran jika para sahabat beliau pun meneladani dengan sebaik-baiknya. Abdullah bin Umar dalam suatu riwayat diceritakan bahwa: ia tidak makan jika tidak bersama anak yatim. Bayangkan!, betapa intimnya hubungan ibnu Umar dengan anak-anak yatim! Membina hubungan intim dengan anak yatim sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah memang tidak gampang, namun bagi siapa saja yang mampu mengamalkannya, pasti akan mendapatkan sesuatu yang tak pernah terbayang dari Allah ta`ala . Indikasi keintiman dengan anak yatim dalam surat Ad-Dhuha ada dua: Pertama: Segera merespon dengan cepat untuk memberi perlindungan jika berjumpa anak yatim. Kedua: Ketika mengasuh tidak melakukan tindakan sewenang-wenang. Pertanyaannya sekarang: sudahkah kita memiliki hubungan yang intim dengan anak yatim?

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Anggota Manajemen Penulis Indonesia.

Lihat Juga

Yakesma Babel Ajak Anak Yatim dan Dhuafa Shopping Bareng

Organization