Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kembali Jatuh Cinta

Kembali Jatuh Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Apa pendapatmu tentang cinta yang terlalu cepat pudar bahkan sebelum dimakan usia? Romantisme yang hanya hangat di bilangan awal usia pernikahan dan kau dapati hati yang membeku begitu saja. Kau mungkin punya alasan untuk membela perasaanmu, tapi kau semestinya mengerti bahwa selain perasaanmu ada perasaannya yang harus juga dibela.

Ini tentu saja bukan tentang Anda, pembaca. Semoga Allah hadirkan sakinah di istana surga dunia Anda. Ini juga bukan tentang saya, sebab saat menulis ini istana saya bahkan belum dibangun.

Saat hati merindukan sebuah pernikahan dan azzam begitu kuat untuk menyempurnakan setengah agama, seringkali Allah membuka begitu banyak pintu. Allah hadirkan banyak pilihan dan Allah tetapkan atas pilihan-pilihan itu takdirnya masing-masing. Ada yang kita sudah mantap ternyata dia menolak. Ada yang dia sudah sreg dengan kita, tapi hati kita tidak juga menerimanya. Ada yang sudah saling cocok, tapi keluarga tidak memberi restu. Ada yang seperti mimpi, begitu mudah dan tiba-tiba sampai pada takdir pernikahan. Jika yang Anda alami adalah bagian terakhir, saya harap kisah Anda berbeda dengan kisah ini.

Sebut saja M&F, pasangan unik dari “dunia” yang serba berbeda. M yang rupawan, lulusan pesantren, berpunya dan berpendidikan, bergaul dengan begitu banyak kalangan, dan memiliki masa lalu beberapa –maaf- ‘mantan’ yang cantik. Cantik itu relatif, tapi sepintas F memang tampak kurang menarik. Ia masih terbata membaca Alquran, ia harus bekerja keras untuk menyambung pendidikan, ia ramah tapi hidup yang keras tak memberinya banyak kesempatan untuk bergaul.

M yang lelah dengan teka-teki takdir diperkenalkan dengan F untuk proses menuju pernikahan. F dengan penuh kesadaran atas keadaan dirinya menyerahkan sepenuhnya pada M tentang kelanjutan proses tersebut. M dengan perasaan yang ia sendiri pun tak mengerti, memutuskan untuk meminang F. Semua lancar. Serba mudah. Seperti mimpi. Saya percaya mereka berjodoh. M pun berusaha meyakin-kan dirinya bahwa ini skenario Allah. F sebagai wujud syukurnya berusaha mengejar ketertinggalannya. Ia belajar mengaji, ia bergaul dengan tetangga, ia memulai banyak hal.

Waktu berlanjut dan hidup tak memberi jeda barang sejenak. Cinta yang layu sebelum bermekaran. Romantisme yang hanya berumur sekian bulan. Sikap M berubah. Dingin. Cuek. Tak tampak di matanya seberkas rindu. Tak tampak di sikapnya sepucuk cinta. M akan begitu baik pada orang lain dan mengacuhkan F. Bahkan M tak segan memojokkan F di depan orang lain meskipun dengan nada bercanda. Dan F harus menguatkan hatinya untuk bersabar menunggu saat itu tiba. Saat untuk bahagia.

Hatiku terluka melihat seorang istri yang tak mendapat cinta dari suaminya. Bukan karena aku perempuan, hanya saja bukankah tak akan ada pernikahan tanpa komitmen seorang lelaki? Bukankah Anda, para suami, yang datang dan menyatakan bahwa Anda memilihnya? Bukankah Anda, para suami, yang memintanya masuk dalam hidup Anda? Bukankah tidak ada yang memaksa Anda untuk menjadikan ia istri? Maka jika kini, setelah Anda secara sadar memilihnya, salahkah ia karena telah hadir dalam kehidupan Anda? Ah, ‘Anda’ yang kumaksud di sini tentu bukan Anda, wahai pembaca. ‘Anda’ yang kumaksud adalah mereka yang lupa bahwa sebagai orang dewasa ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia pilih dan putuskan.

Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk menulis ini. Sebanyak apapun buku dan teori tentu tak berarti apa-apa. Sebab rumah tangga adalah sisi paling nyata dari realitas hidup yang sering tak peduli dengan apa kata teori di sebuah buku.

Ini juga bukan kritik sosial. Sebab ia mungkin hanya 1 kasus di antara 1000 cerita bahagia. Tapi bahwa ia ada, terbuka kemungkinan bahwa di tempat yang berbeda kasus serupa terjadi juga.

Pernahkah Anda kecewa atas satu, dua, tiga hal dari pasangan Anda? Jika iya, kuharap Anda tidak lupa bahwa bukan manusia jika sempurna. Saat kekurangan-kekurangan itu TIDAK melanggar batas syariat, kurasa Anda perlu sedikit melapangkan dada untuk menerimanya. Atau, Anda bisa melakukan beberapa upaya untuk membantunya berubah. Anda harus percaya, tak ada manusia yang tak ingin kebaikan atas dirinya. Jika ia punya pilihan, tentu ia memilih untuk menjadi lebih baik.

Pernahkah Anda merasa bahwa sosok perempuan Anda ternyata jauh dari istimewa? Dia tak se-cantik teman-teman Anda? Atau tak se-sholihat sejawat Anda? Atau tak se-pandai istri orang lain? Atau ia tak se-menarik mantan kekasih Anda? Semoga Anda tidak lupa bahwa pasangan ibarat cermin. Bukankah terbuka kemungkinan bahwa ia yang seperti itu adalah cerminan dari Anda yang seperti ini?

Pernahkah Anda kehilangan rasa terhadap istri Anda? Kuminta malam ini lihatlah bagaimana ia tidur. Carilah cinta yang hilang itu dan Anda pasti menemukannya. Tanyakan pada hati Anda, salahkah dia yang telah menerima pinangan Anda saat itu? Bukankah ia tak pernah memaksa Anda hadir dalam hidupnya? Saat ia berusaha menghargai Anda dengan mencoba percaya bahwa Anda orang yang tepat untuk membuatnya bahagia, apa yang Anda lakukan? Apa ia bahagia dengan Anda yang bahkan kehabisan cinta untuknya? Tak ada perempuan yang tak suka diperlakukan manis, romantis. Saat Anda bersikap dingin dan ia diam saja, sesungguhnya hatinya pun tak menerima, hanya saja ia sedang menghargai Anda. Jika Anda tak bahagia beristrikan dia, apa Anda yakin ia bahagia bersama seseorang yang kehabisan cinta seperti Anda?

Selalu tak ada terlambat untuk memperbaiki semuanya. Anda yang telah dengan sadar memilihnya, harus sadar menerimanya, menerimanya apa adanya. Anda yang memulai semua ini dengan baik, bertanggung jawab untuk membuat segalanya tetap baik. Anda yang telah berjanji di hadapan penduduk langit dan bumi, saatnya menepati janji-janji. Jika cinta telah habis untuknya, Anda bisa untuk mulai jatuh cinta. Kembali jatuh cinta padanya, pada istri Anda.

Bagaimanapun, ia takdir Anda saat ini. Bukankah kita sudah membuktikan banyak hal dalam hidup bahwa tak pernah salah keputusanNya? Selalu tepat kehendak Allah. Bagaimanapun, ia pasti yang terbaik. Maka ikhlaskan hati untuk menerimanya. Biarkan cinta menemukan caranya untuk tumbuh dan bermekaran. Selamat jatuh cinta, lagi. Selamat jatuh cinta, untuk kesekian kalinya. Selamat jatuh cinta, pada orang yang sama: istri Anda.

Persembahan untukmu, di jauh sana.

Dengarkan, cintai ia, sebab ia layak menerimanya.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Santri tahfizh Griya Quran Depok, di bawah asuhan Ustadz Drs. H.M. Taufik Zoelkifli, M.M.. Sempat menyelesaikan studinya di Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Tidak pandai menulis, tapi cinta menulis. Semoga cinta menemukan jalannya.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization