Topic
Home / Berita / Nasional / Jaringan’98: Difitnah, SBY Harus Lapor Polisi

Jaringan’98: Difitnah, SBY Harus Lapor Polisi

Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono.  (jurnal3.com)
Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono. (jurnal3.com)

dakwatuna.com – Bandar Lampung.  “Polemik pembubaran Petral masalah serius, karena migas itu menyangkut hajat hidup rakyat banyak,” ujar Juru Bicara Jaringan’98 Lampung Ricky Tamba, Jumat (22/5/2015), menyikapi perseteruan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Menteri ESDM Sudirman Said.

Selain menyangkut perputaran fantastis dana triliunan rupiah yang rawan korupsi, jelas Ricky, dunia migas juga berdampak langsung ke perekonomian rakyat. Kenaikan harga khususnya bahan bakar minyak (BBM) yang melibatkan Petral selama ini, telah mengakibatkan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi dan memicu keresahan sosial.

Ricky berharap polemik tersebut dihentikan, dan SBY mengambil tindakan hukum, bila tuduhan saat menjabat Presiden RI keenam (6) seakan-akan SBY tidak setuju pembubaran Petral dan penataan sektor migas, adalah fitnah.

“NKRI negara hukum. Kalau SBY merasa difitnah, perkarakan saja Sudirman Said. Kan bisa bikin laporan pidana ke Mabes Polri dan Kejaksaan Agung. Bila tidak, persepsi publik bisa berbalik memojokkan SBY. Jangan cuma cuap-cuap di akun twitter dengan jutaan followers. Biar clear,” saran dia.

Di sisi lain, lanjutnya, Sudirman Said harus buktikan serius membenahi masalah migas Indonesia, jangan hanya kambinghitamkan rezim SBY, dan peralihan Petral ke ISC Pertamina tidak menjadi bahan bancakan baru seperti pesimisme sebagian kalangan.

Terkait isu reshuffle Kabinet Kerja, Ricky menganggap itu hak prerogatif Presiden Jokowi yang sebaiknya dilakukan tertutup dan mendadak sehingga tidak menimbulkan kegaduhan baru yang merugikan rakyat.

“Reshuffle gak perlu diributkan, biar gak gaduh terus, bikin rakyat muak dan stabilitas ekonomi terganggu. Harapan kami, presiden memanggil seluruh menteri untuk briefing dan kursus khusus tentang Trisakti Bung Karno, Nawacita dan bahaya neoliberalisme yang merajalela saat ini. Menteri yang dinilai presiden masih ‘geblek’ gak nyambung ya diganti demi stabilitas kehidupan ekonomi-politik bernegara,” pungkasnya. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

DPR Menentang Penghapusan Regulasi Syarat TKA di Sektor Migas

Figure
Organization