Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Orang-orang Gila di Jalanan, Siapa Peduli Mereka?

Orang-orang Gila di Jalanan, Siapa Peduli Mereka?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Baru-baru ini seorang sopir angkutan barang bercerita, katanya beliau baru saja mendapat order ‘membuang’ orang gila yang suka membuat onar. Warga sekitar yang merasa terganggu rela berpatungan untuk membiayai operasi penangkapan tersebut. Biaya itu dipakai untuk membujuknya agar mau diajak naik ke mobil dan kemudian membawanya pergi ke tempat yang jauh. Soal di tempat baru kemudian ia menjadi problem serupa, tak lagi terpikirkan. Itulah potret egoisnya kita, mungkin karena kita merasa tidak mampu mencari solusi lain.

Seringkali kita jumpai orang-orang seperti itu di jalanan. Dari yang suka berbuat onar dan mengganggu, sampai yang sebenarnya mengundang rasa iba. Seringkali kita tak mampu berbuat apa-apa untuk memberi solusi berbagai problematika kehidupan, yang memang besarnya tak sebanding dengan kemampuan pribadi kita.

Keberadaan orang-orang gila tersebut berbeda dengan problematika sosial jalanan yang lain. Kalau untuk para pengemis kita bisa mengatakan, mereka hanya orang-orang yang bermental malas, tidak mau bekerja, dan maunya mendapatkan uang dengan cara yang mudah. Untuk orang cacat kita bisa mengatakan, betapa banyak orang cacat yang memiliki kemauan untuk tidak bergantung pada orang lain, dan ternyata mereka mampu menyiasati keterbatasannya. Untuk anak terlantar kita juga bisa mengatakan, betapa banyak dari mereka yang bisa juga hidup secara mandiri, dan bahkan mereka yang semasa kecil menjalani hidup sebagai kaum papa malah kelak di kemudian hari menjadi orang sukses.

Apapun problematikanya, toh pikiran mereka masih waras, mereka masih bisa dituntut agar mau menggunakan akal pikirnya. Tetapi untuk orang-orang yang tidak waras, tentunya benar-benar membutuhkan uluran orang lain, tak mungkin diharap bisa berusaha sendiri mengatasi problematikanya.

Kepedulian kita semestinya terpanggil. Meskipun kita masih berada dalam keadaan kekurangan, baiklah untuk kita menyisihkan kepedulian untuk membantu mereka yang membutuhkan. Toh lebih baik menjadi orang yang bisa membantu orang lain daripada menjadi orang yang dibantu. Spirit memberi dan menahan diri adalah lebih mulia daripada meminta dan merasa sempit. Kebaikan itu juga akan kembali kepada kita. Mereka sebenarnya adalah ladang amal dan lahan dakwah bagi kita.

Siapa tahu mereka yang kini hanya menjadi sampah, suatu hari nanti bisa menjadi manusia sesungguhnya, mampu berbuat dan membawa kemanfaatan bagi sesama. Bukan mustahil suatu saat mereka bisa menjadi manusia berguna. Dilebihkannya sebagian kita atas sebagian yang lain menjadi ibrah bagi kita agar lebih bersyukur, menjadi penawar kesempitan kita dengan kepedulian dan berbagi.

Antara kepedulian kita dan keterbatasan kemampuan kita, diperlukan upaya mengefektifkan kepedulian tersebut agar lebih terarah. Memberi kail bukan ikan, produktif bukan konsumtif, sebagaimana Rasulullah mengajarkan hal tersebut. Agar esok mereka tak kembali meminta-minta tetapi sudah mampu mandiri, supaya mereka tak selamanya hanya ditolong, tetapi mereka kelak bisa menolong yang lain.

Antara keterbatasan kita dan mengefektifkan kepedulian tersebut, memang tak semudah memberi tetapi juga tentang pengelolaannya secara profesional. Perlu diprioritaskan untuk mereka yang paling membutuhkan. Di sinilah pentingnya kita untuk menyupport lembaga sosial yang profesional, agar kita tidak bergerak sendiri-sendiri, sehingga beban menjadi lebih ringan dengan dipikul bersama-sama. Sejak awal, Islam telah membawa konsep tentang amil yang mengelola zakat, bukan asal diberikan.

Terkadang begitu mudahnya kita memberi, tetapi hanya sekadar mengobati rasa iba. Akibatnya menjadi tidak mendidik dan bahkan merusak mental mereka, berakibat pada mental ketergantungan dan peminta-minta.

Tragisnya pula, banyak energi yang kita keluarkan untuk berbagi tetapi hanya menjadi seremonial yang dipertanyakan manfaatnya. Ada orang yang mengadakan pesta hingga puluhan juta, bahkan ratusan juta. Kita terjebak pada banyak hal yang berbau hura-hura, berujung pada tindakan mubazir dan berlebihan, seperti membuang-buang makanan atau pesta kembang api, padahal semua itu menghabiskan sumber daya yang tidak sedikit.

Alangkah baiknya jika kita berupaya menyalurkan kepedulian itu agar tepat sasaran, bermanfaat untuk mereka yang benar-benar membutuhkannya, sehingga menjadi amal shalih yang sesungguhnya. Untuk mengentaskan fakir miskin agar mereka bisa berusaha, membantu orang sakit yang tidak mampu berobat, anak-anak yang tak mampu membiayai sekolahnya, mereka yang tertimpa musibah dan bencana, termasuk juga suatu saat kita bisa menolong orang-orang gila yang berkeliaran di jalanan tersebut.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Dakwah Islam Kewajiban Semua Muslim

Figure
Organization