Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Bekal Pilkada, Sukses Memilih Pemimpin dengan Akal Sehat

Bekal Pilkada, Sukses Memilih Pemimpin dengan Akal Sehat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: Antara - dengan modifikasi)
Ilustrasi. (Foto: Antara – dengan modifikasi)

dakwatuna.com – Pemilu Presiden sudah selesai, 2015 Kita kembali dihebohkan dengan Pilkada diberbagai di daerah Republik yang Kita cintai ini, dari Sabang sampai Marauke, dari sunda (Jawa) hingga pulau selat karimata (Kalimantan), usaha-usaha licik dilakukan berbagai Partai Politik dengan mengganggu pengurus Partai lain dan memecahnya menjadi berantakan, padahal sebelumnya sudah membisiki KPU untuk tidak membolehkan partai yang pecah kepengurusannya mengikuti Pilkada, inti dari semua yang mereka lakukan hanya ingin menang dan entahlah apa yang diinginkan setelah menang dengan cara jahat itu. Jika caranya sudah jahat maka tak mungkin orang baik yang melakukannya, sudah bisa dipastikan mereka adalah penjahat.

Ketika kita memilih pemimpin harus hati-hati, karena setiap pilihan tidak hanya di dunia dirasakannya tetapi di akhirat akan diminta pertanggungjawabnya, sudah banyak penulis menulis mengenai ini. Kali ini, penulis ingin berbagi tentang bagaimana kita menilai pemimpin sebelum jatuh memberikan pilihan.

Berikut ini beberapa kesalahan pemilih ketika menentukan pilihannya baik itu dalam Pilkada maupun Pemilu Presiden.

  1. Halo Effect

Pemilih hanya melihat “kesamaan” tertentu yang ada dalam diri Pemimpin. Hal itu menimbulkan impresi yang bagus dalam diri Pemilih sehingga menutupi kualitas negatif tertentu dalam diri calon pemimpin yang seharusnya membuat Calon Pemimpin tidak layak dipilih. Misalnya: Kesamaan pendidikan, alumni universitas yang sama, ras/suku  yang sama, Ayah sang calon pemimpin adalah orang yang berjasa dalam diri pemilih, menggunakan model baju yang disukai dan banyak lagi alasan memilih yang tidak logis.

  1. Horn Effect

Kebalikan dari efek halo yaitu pemilih melihat sesuatu hal dalam diri calon Pemimpin yang tidak disukainya. Hal ini menimbulkan impresi negatif dalam diri pemilih sehingga menutup kualitas baik tertentu dalam diri calon Pemimpin yang seharusnya membuat Sang Calon Pemimpin ini dapat diterima sebagai Pemimpin daerah atau negara tersebut. Misalnya: suku/ras yang berbeda, calon Pemimpin dari universitas yang tidak disukai oleh sang pemilih, wajah sang calon mirip dengan “mantan”  yang dibenci oleh sang Pemilih dsb.

Lalu bagaimana solusinya?

Fokuskan pada faktor yang benar-benar berhubungan dengan kriteria kepemimpinan dalam Islam, Stop Asumsi, Stop prasangka / kesan positif dan negatif anda, Bandingkan pandangan Anda dengan pemilih lain, konsultasikan dengan ahli agama yang lurus bukan ahli agama yang cendrung berpolitik.

  1. Contrast Effect

Efek ini sesuai dengan pepatah “Kalau anda berada di antara orang-orang yang gemuk, anda akan kelihatan lebih kurus.  Atau bila anda berada di antara orang-orang berpenampilan buruk, anda terlihat lebih cantik.” Misalnya pada saat anda akan memilih  5 kandidat Pemimpin daerah Anda dengan kualitas personal yang buruk, lalu muncul kandidat ke 6 yang berkualitas sedikit lebih baik, maka anda akan merasa menemukan kandidat yang tepat. Padahal belum tentu.

Kandidat Pemimpin ke-6 ini kelihatan berkualitas baik karena dikontraskan dengan 5 orang sebelumnya yang sudah membuat anda jengah dan lelah.

Lalu solusinya? Ajukan pertanyaan dalam diri Anda,”Jika Kandidat Pemimpin ini adalah satu-satunya Calon Pemimpin yang akan saya pilih, apakah saya akan memilihnya?” Jika tidak, Anda konsultasikan lagi dengan Ulama (karena pertimbanganya pilihan Anda akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat).

  1. Merasa Diri yang Terbaik

Terkadang ada juga para pemilih yang merasa dirinya paling layak menjadi calon pemimpin ketimbang calon-calon yang ada. Narsis yang berlebihan, sehingga tidak ada keungulan sedikitpun dari semua kandidat. Kenapa Anda nggak “nyalon” aja kalo gitu.

  1. Tidak memiliki informasi banyak tentang calon Pemimpin

Pemilih tidak punya infirmasi mendalam atau luas tentang kandidat pemimpin yang akan dipilihnya, atau lebih parah pemilih tidak tahu tujuan yang mau dilihat dalam diri calon pemimpin.

Solusinya adalah buatlah daftar informasi positif dan negatif sekaligus tentang calon pemimpin Anda dan konsultasikan dengan yang lebih memahami dan bukan partisan.

  1. Terlalu Mengandalkan Perasaan

Perasaan terkadang bisa berpengaruh dalam sikap kita mengambil keputusan. Tetapi mendasarkan keputusan hanya menggunakan feeling saja membuat Anda akan menyesal nanti karena kondisi emosi akan dipengaruhi media yang pastinya sudah dibayar oleh sang kandidat pemimpin demi kemenangannya.

Perbanyaklah mendekat kepada Allah Swt, Tidak memilihpun berarti Anda mengiyakan pilihan buruk yang ada. Memilih dengan logis dan menggunakan pendekatan religius adalah cara terbaik.  Selamat Menjemput Kemenangan!

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
HR Manager PT Hitachi Power Systems Indonesia, Tinggal Di DKI Jakarta kelahiran Kota Ketapang, Kalimantan Barat. A Speaker, Motivation Trainer, Thinker and a Writer on culture, humanity, education, politics, peace, Islam, Palestinian, Israel, America, Interfaith, transnational, interstate, Management, Motivation and Cohesion at workplace. Committed to building a Cohesive Indonesia, Cohesive Industrial relation, Cohesion at workplace and offer Islamic solutions to the problems that inside. Lulus dari Fakultas Dakwah STAI Al-Haudl Ketapang, Kalbar, Melanjutkan S-2 Manajemen di Universitas Winaya Mukti Bandung, Jawa Barat.

Lihat Juga

Meraih Kesuksesan Dengan Kejujuran (Refleksi Nilai Kehidupan)

Figure
Organization