Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hudzaifah, Sang Paradoks Reformasi

Hudzaifah, Sang Paradoks Reformasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Hudzaifah, aku hampir merasa kalau bukan karena nama itu mungkin tak pernah ada kebersamaan antara kita. Tetapi begitulah takdir mempertemukan kita. Latar belakangmu teramat beda dengan kebanyakan kami. Engkau adalah seperti orang asing di antara kami.

Terlalu sering engkau mengambil sikap berbeda dengan kebanyakan teman-teman. Kadang di antara kami merasa jengah denganmu. Tetapi kami mengakui, dalam beberapa hal engkau cukup brilian. Biarlah kami anggap ini sebagai pembelajaran untuk bisa menerima perbedaan pendapat. Bukankah aneh bila kita memperjuangkan reformasi, kebebasan dan demokrasi, sedang kita sendiri tidak siap untuk berbeda.

Namamu mengingatkanku pada seorang sahabat Rasulullah, Hudzaifah Al Yamani. Ia memang tak se-nyleneh engkau. Tetapi ia dikenang karena mengajukan sebuah pertanyaan kepada Rasulullah tentang kejahiliyahan, ketika para sahabat lain pada umumnya bertanya tentang kebaikan.

***

Gegap gempita, pekik takbir, tangis haru, tak mampu lagi kuungkapkan histeria ini. Aku hanya melakukan sujud syukur, sementara di depan gedung ini begitu banyak kawan-kawan yang menceburkan diri ke dalam kolam. Rezim diktator yang telah mencengkeram kami selama puluhan tahun, akhirnya tumbang juga. Berakhir!

Hudzaifah, kau tak ada di sini. Engkau selalu berada di tempat yang jauh di sana. Engkau tak ikut merasakan kegembiraan kami kini, sebagaimana engkau tak pernah merasakan kepayahan kami di jalanan selama ini.

Tapi aku tahu betul apa yang kau rasakan di kejauhan sana. Aku seperti melihatmu jelas di hadapanmu. Gegap gempita yang kurasakan, tidak sama sekali olehmu, wajahmu muram, tertunduk, menanggung beban yang amat berat.

Sejak awal reformasi ini bergulir, tatkala masih seperti mission impossible, hingga rezim ini di ambang kejatuhan, sikapmu tak pernah berubah.

“Timah panas yang membunuh sahabat kita, masih juga tak kau rasakan?”

“Lupakan tentang reformasi ini, kembalilah!  Itu lebih baik bagi bangsa ini. Kita tak boleh mengukur negara ini dengan ukuran negara lain.”

“Dan kau akan tercatat sebagai orang yang berdiam diri terhadap kezhaliman, di mana tanggung jawabmu? Sedang kami ingin tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang yang berani mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zhalim!”

“Kawan-kawan, Mental bangsa ini yang harus mau berubah dahulu. Jangan terburu berharap terwujudnya kekuasaan yang baik! Kita belum siap, kalau tidak mengatakan sistem itu tidak cocok bagi negara ini.”

“Tidak, dengan kepemimpinan yang baik, bangsa ini akan menjadi baik!”

“Sebutan kalian memang intelektual, tapi kalian terlalu hijau untuk mengerti tentang dunia ini sesungguhnya. Tak sesederhana itu kawan, aku telah memperingatkan kalian sebelumnya, sebelum waktu yang berbicara dan kalian menyesal. Kalian hanya diperalat!”

“Siapa yang memperalat? Agar pemimpin rakyat bisa memilih figur-figur terbaik sebagai pemimpin mereka, tak ada sumbatan demokrasi, tak ada intimidasi. Agar terwujud kebebasan pers, transparansi, dan publik bisa sepenuhnya mengontrol pemerintah. Supremasi hukum ditegakkan dan tak ada lagi diskriminasi, tak ada lagi pelanggaran HAM. Aku yakin tak akan ada lagi korupsi, kesejahteraan rakyat akan terwujud, tak ada lagi kesenjangan sosial. Bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Mewujudkan semua itu, diperalatkah?”

“Tetapi tahukah kalian mengapa pihak luar mensupport sepenuhnya reformasi ini, kau pikir tulus tanpa kepentingan? Tak ada yang bisa diharap dari sebuah permainan. Kalian telah masuk permainan mereka tanpa sadar!”

“Persetan dengan semua itu! Reformasi ini adalah agenda kita, kepentingan bangsa kita ini sendiri, terserah mereka mau apa!”

“Kalian akan lepas dari satu rezim, tetapi akan masuk ke dalam rezim berikutnya, bahkan lebih buruk!”

***

Pilpres 2014 tinggal menghitung hari. Suasana kurasa amat berbeda, hanya ada dua kubu, kami semua seperti terbelah, tegang. Pertempuran berlangsung sengit, apalagi di media sosial. Siapa saja bisa menyebarkan konten dengan sebebas-bebasnya, tanpa ada lagi kontrol. Jadilah ajang olok-mengolok dan bully-membully.

Aku tengok pasangan sebelah. Aku dapati status-status yang cukup membuatku penasaran. Apa-apaan ini? Seperti membuat dadaku mendidih, geram menahan marah. Betapa tidak, kepentingan umat dalam posisi krusial begini, saat benar-benar dipertaruhkan, ia malah seperti menyerahkan bulat-bulat umat ini pada liberalis sekularis islamofobi. Memutarbalikkan opini! Aku tak habis pikir. Apa nggak sadar dia? Aku harus telusuri sumbernya.

Astaghfirullah! Benarkah ia Hudzaifah yang dulu? Hampir 16 tahun ini aku tak bertemu dengannya. Mungkin aku tak sengaja melupakannya. Tapi mengapa aku bertemu dengannya lagi dalam suasana seperti ini?

Aku tak sabar menulis sebuah komentar. Kutulis dengan huruf kapital. YOU STAND ON THE WRONG SIDE!!!!!!!

Aku sedikit menyesal. Jika begini, mungkin ia tak akan mengonfirmasi pertemanan yang aku ajukan. Tapi biarlah, aku masih bisa mengebomnya dengan komentar-komentar selama privasinya belum diubah. Yang terpenting, aku sekarang segera menyiapkan argumentasi sebanyak-banyaknya untuk mematahkan penyesatan opini yang ia buat.

***

Aku tak menyangka, ia menerima pertemanan yang kuajukan. Ia juga masih mengenaliku. Ia memintaku untuk tidak sembarangan membuat komentar di statusnya. Ia mengajakku melakukan chatting saja, aku pun menerima tawarannya.

“Tidak terbalik kawan? Yang dulu kau anggap pelanggar HAM, kini malah kau dukung habis-habisan? Reformasi susah payah kau perjuangkan, kini kau mati-matian mendukung kembalinya diktator itu! Kau ingin hidupkan kembali rezim itu? Kawan, selama 16 tahun ini kau pasti bisa melupakanku, tapi kuyakin kau takkan bisa melupakan sahabat kita yang tertembus timah panas, kau sendiri yang membawanya ketika ia roboh, ingatkah ketika tanganmu berlumuran darahnya?”

“Kawanku, kau jangan menutup mata, siapa pelanggar HAM yang sesungguhnya, siapa yang sebenarnya melakukan penculikan, dan siapa yang sebenarnya mendalangi kerusuhan? Akan kau serahkan negeri ini pada konglomerat hitam dan asing?”

“Kau sendirilah yang menyerahkan kedaulatan negeri ini pada mereka. Memangnya siapa yang sebenarnya mendesain reformasi, engkau dan kawan-kawanmukah? Aku sudah mengatakan sejak semula, reformasi yang kau perjuangkan akan menjadi penyesalan bagimu. Mana pemberantasan korupsi yang kau janjikan, mana penegakan hukum, kedaulatan rakyat dan kesejahteraan? Piye kabare, isih enak jamanku? ”

“Mungkin aku memang salah, banyak hal yang tak kumengerti tentang dunia. Tapi reformasi ini belum selesai kawan. Kita akan terus berjuang. Sekarang, persoalan krusial yang kita hadapi adalah menyelamatkan umat ini dari ancaman sekularis, liberalis dan islamofobi. Lantas engkau justru menyerahkan bulat-bulat umat ini pada mereka? Kau akan dimintai pertanggung jawaban bila umat mendapatkan perlakuan represif dan tekanan, bila umat menghadapi upaya marjinalisasi, menghadapi kebijakan-kebijakan yang tak ramah? Lantas takbiran dan kurban dilarang, jilbab dilarang, nikah beda agama diperbolehkan, kolom agama di KTP dihapus, aliran sesat dibebaskan, pelajaran agama dihapus. Itukah yang kau cita-citakan?”

“Lagi-lagi kau bawa-bawa agama untuk tujuan politikmu. Memangnya kau mau memonopoli agama ini dengan tafsir politikmu sendiri? Justru kau sendiri yang telah banyak mencemarkan nama baik agama ini, menjerumuskan agama ini dalam kubangan kotor politikmu, korupsi dan praktek kotor yang kau lakukan atas nama agama. Agama kita dirundung malu karena perilakumu. Jawab siapa yang sesungguhnya mengkhianati agama kita?”

“Aku menyadari, kami tak selamanya bebas dari kesalahan, di antara kami pun pun tak seluruhnya sebaik agama yang kami perjuangkan. Tapi yang kau harus mengerti, kami tak seburuk apa yang diblow-up media dan digambarkan para haters. Karena kami ditelanjangi oleh media, kasus yang menimpa kami digoreng habis-habisan, kami ditimpa vonis yang zhalim, karena itu kami bersyukur, bahwa sejelek-jelek kami, kepalsuan dunia tidak menempatkan kami dalam pencitraan yang indah, yang menipu dunia, kebaikan ditampakkan sebagai kejelekan, dan sebaliknya. Belum tentu yang ditampakkan jelek oleh kedustaan dunia adalah jelek, dan belum tentu yang dicitrakan indah adalah mulia.”

“Dulu ketika pemerintah beranjak ijo royo-royo kau tumbangkan, kau hanya melihat sisi negatifnya saja. Kini kau bawa-bawa agama untuk menutupi keburukanmu. Kau masih saja mencari kambing hitam.”

“Tidak, ini fakta. Kita berada dalam era penuh konspirasi dan permainan. Alangkah bodohnya kau tentang realitas ini, anak kecil pun tahu dunia sedang penuh kepalsuan. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, begitu gamblang jelas hanya permainan belaka, festivalisasi dan sandiwara untuk suatu kepentingan politik semata. Begitu mudahnya tipuan dunia mengelabuimu. Kau ikut bersama media-media yang membangun opini mencitra burukkan dakwah ini, kau membantu mereka ketika media-media itu melakukan pembunuhan karakter terhadap dakwah ini. Padahal, kejelekan dakwah ini sekalipun adalah tanggung jawabmu juga. Malahan fitnah dan tuduhan yang dibuat-buat untuk dakwah ini, kau aminkan juga.”

“Tanggung jawab? Di mana tanggung jawabmu atas reformasi yang kau perjuangkan, tanggung jawab terhadap aset-aset bangsa yang diprivatisasi?  Padahal aku telah memberi peringatan serupa sejak awal dulu, dan kau terus acuhkan?”

“Maafkan aku, tapi kita jangan mengulangi kesalahan sama, kali ini.”

“Memangnya posisimu benar, sedang posisiku pasti salah? Apa tidak sebaliknya?”

“Kau benar-benar telah menjadi korban penyesatan opini mereka!”

“Apa bukan kau yang terjerumus dalam permainan mereka? Kau sangka dirimu pahlawan? Bisa jadi, yang kini kau anggap habis-habisan sebagai musuh dakwahmu, kelak akan menjadi mitra koalisimu. Kau pun bisa menciptakan segudang dalil untuk menjadi pembenarnya. Sebagaimana yang dulu kau hujat habis-habisan, kini kau bela habis-habisan.”

“Tidak mungkin. Ada fitnah, semua itu permainan belaka, aku telah mengerti.”

“Mungkin chatting kita cukup sampai di sini saja, sudah masuk masa tenang.”

“Di medsos nggak ada aturannya. Kamu takut?”

“Tidak, tapi kau telah naik kelas. Besok pelajaran sudah beda. Sahabatku, kau mengerti?”

Ia kemudian meminta alamat emailku, katanya ada sesuatu yang akan ia sampaikan.

***

Kubuka email masuk ini, sebenarnya aku malas membacanya, tetapi paragraf demi paragraf aku lalui, aku menjadi semakin gemetar. Hari-hari ini aku menjadi pendiam. Aku merasa menanggung beban yang teramat berat. Aku merenung tentang hal-hal yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya, sama sekali tidak.

Dari email yang kubaca ini, mungkin hanya sedikit yang kupahami. Jika lebih banyak lagi yang kumengerti, aku mungkin akan menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis.

Aku bersusah payah menempuh perjuangan, aku merasa sebagai pejuang sejati. Tapi, yang kulakukan sebenarnya hanyalah melebarkan pintu masuk bagi musuh. Karena langkahku, kota ini luluh lantak. Aku merasa sebagai pahlawan, sedang musuh tersenyum puas memperdayaiku. Betapa cerobohnya aku, betapa zhalimnya aku. Tidak! Aku telah berbuat sebatas kemampuanku.

Mungkin lebih baik aku tidur dan berdiam diri saja. Dari pada aku terombang-ambing tak berdaya dalam permainan musuh. Memang aku tahu jika aku tak dibebani kewajiban untuk berhasil, tetapi mesti berusaha sebaik-baiknya. Kekalahanku sekalipun sebenarnya bukan kerisauanku. Kemenangan dan kekalahan sejati tetap ada di sisi-Nya. Tapi terlalu pahit untuk menerima kenyataan jika diriku menempati posisi sebagai pecundang.

Sahabatku, adakalanya kita menempuh sebuah jalan yang sama, tetapi tujuan yang ingin dicapai berbeda. Adakalanya jalan kita berbeda, tetapi sedang menuju muara yang sama. begitu mudahnya kita berpisah dan menyalahkan, hanya karena ada perbedaan. Bukan ketika langkah mesti berputar, aku mengatakanmu mundur sebagai pengkhianat. Ketika jalan mesti berliku, aku menganggapmu melarikan diri.

Bagaimanapun, dengan perbedaan ijtihad di antara kita, kau tetap sahabatku. Ada saat-saat harus menentukan pilihan sulit. Ada saat harus berhadapan dengan realitas. Ada saat-saat harus menunggu, berproses, menanggalkan ketergesaan. Ketika tak boleh terbuai dengan yang berada di hadapan mata. Ketika harus memutar dan menempuh jalan berliku. Tak mungkin mengambil apa yang berada di hadapan singa, ada saat harus menentukan siasat, atau keberanian akan berakhir binasa sia-sia.

Tetapi bagaimanapun, setidaknya agar aku memiliki hujjah di hadapan Tuhanku, karena aku telah berusaha, sesuai keterbatasanku. Selebihnya aku serahkan kepada-Nya. Jika aku diam saja, tak mungkin kelak ada kisah. Mereka membuat makar, Tuhanku pun membuat makar. Aku punya pengharapan kepada-Nya, sedang mereka tidak sama sekali, karena Allah bersama kita.

Sahabatku, bukan hanya sebuah nama, tetapi memang ada takdir pertemuan antara kita. Di antara jurang perbedaan antara kita, ada sebuah jembatan yang amat berarti. Agar nama ini kelak terwujud menjadi legenda, Hudzaifah.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Reformasi Pangeran Muhammad bin Salman Dinilai Tak Meyakinkan

Figure
Organization