Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Islam dan Rekonstruksi Spirit Kebangsaan

Islam dan Rekonstruksi Spirit Kebangsaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Seorang penerjun membawa bendera Merah Putih berukuran besar saat gladi bersih HUT TNI ke 66 di Mabes TNI Cilangkap, Senin (3/10/2012).(TEMPO/Yosep Arkian)
Ilustrasi – Seorang penerjun membawa bendera Merah Putih berukuran besar saat gladi bersih HUT TNI ke 66 di Mabes TNI Cilangkap, Senin (3/10/2012).(TEMPO/Yosep Arkian)

dakwatuna.com – Kedatangan bangsa-bangsa dunia ke nusantara berabad-abad yang lalu, memberi warna khusus bagi perjalanan sejarah negeri ini. Sebagai pusat interaksi dagang internasional kala itu, nusantara terbuka untuk menampung keragaman yang sempat singgah, bahkan menjadikannya sebagai bagian utuh dari terbentuknya negara-bangsa bernama Indonesia.

Salah satunya Islam, yang kelak menjadi entitas religius terbesar di negeri ini. Menurut berita Cina Dinasti Tang, diungkapkan oleh Buya Hamka bahwa islam masuk ke nusantara pada abad ke-7. Dibawa oleh wirausahawan Arab yang menjelajah ke pantai barat sumatera. Selanjutnya, Islam berkembang dan membangun peradaban baru, bermunculanlah kerajaan-kerajaan Islam, dan di kemudian hari membentuk sistem masyarakat secara kultural berbasis Islam hingga saat ini. [1]

Sebagai negara yang terlahir dari pergolakan dan perjuangan, kemerdekaan dan terbentuknya Indonesia dipengaruhi banyak oleh eksistensi dan pergerakan islam. Konsepsi Jihad kabangsaan melawan penjajah oleh pejuang muslim di masa lalu, memberikan gambaran utuh bahwa islam hadir sebagai pembentuk nasionalisme, atau lebih tepatnya cikal-bakal semangat kebangsaan. Karena dalam Islam sendiri, mencintai tanah air merupakan bagian dari ajaran Islam.

Pasca merdeka, kearifan masyarakat Indonesia dirangkum dalam sebuah wadah ideologis, berkat konsensus para the founding fathers, maka lahirlah Pancasila. Selain sebagai ideologi, juga sebagai falsafah dan pandangan hidup kebangsaan. Falsafah inilah selanjutnya menjadi landasan bergerak dalam berbangsa dan bernegara. Butir-butir sila Pancasila menggambarkan bahwa bangsa ini memiliki semangat dan cita-cita besar bagi peradaban dunia yang berketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan, dan keadilan. Lima butir sila ini, secara berurutan, selaras dengan konsepsi keislaman yang mengajarkan: fondasi tauhid, konsepsi akhlak dan keberadaban, prinsip persaudaraan dan persatuan, prinsip musyawarah, dan cita-cita keadilan dan kemakmuran. Dalam sejarahnya, islam memiliki peran strategis dalam membangun semangat perjuangan menghadapi kolonialisme sekaligus sebagai faktor pemersatu bangsa. [2]

“Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja, dia adalah satu kebudayan yang lengkap” – begitulah yang diungkapkan oleh sejarawan Prof. H.A.R. Gibb. Sebagai sebuah sistem yang syumul, Islam menyentuh seluruh bidang kehidupan masyarakat, termasuk dalam menumbuhkann semangat kebangsaan. Sehinga tidak ada irisan antara Islam dan keindonesiaan, ia berada dalam satu paket yang sistemik antara nasionalisme dan islamisme. [3]

Kita menyadari, perdebatan antara Islam dan nasionalisme terus digulirkan oleh kelompok-kelompok fundamentalis dari sisi kanan, di sisi berlawanan juga dilakukan oleh kelompok sekularis. Seolah islam dan semangat kebangsaan adalah sesuatu yang debatabel dan irrelevan. Padahal para pendiri bangsa ini, seperti Moh. Natsir menekankan bahwa keadaan sekulerisme tidak mampu memberi pegangan hidup dan keseimbangan hidup, baik bagi orang perseorangan ataupun bagi suatu bangsa. [4]

Sudah saatnya kita merekonstruksi spirit kebangsaan dengan menjadikan islam sebagai penyokong. Dengan memberi penjelasan utuh melalui pendidikan kultural bahwa segala gerak kehidupan kebangsaan kita berasaskan nilai-nilai keislaman. Selanjutnya, peran para pemimpin bangsa sangat diperlukan dalam membangun prototype negarawan yang islami juga nasionalis. Dengan begitu, Islam dan semangat kebangsaan akan menjadi budaya masyarakat sekaligus model bagi kepemimpinan nasional. []

Referensi:

[1] Suryanegara, A. Mansur. 2010. Api Sejarah. Salamadani: Bandung. hlm. 99

[2] KH. Achmad Shiddiq. 1985. Islam, Pancasila, dan Ukhuwah Islamiyah. Lajnah Ta’lif Wan Nasyr PBNU: Jakarta. hlm. 12

[3] Natsir, Moh. 1961. Capita Selecta I. U.B. Ideal. Jakarta. hlm. 3

[4] Kusuma, Erwin dan Khairul. 2008. Pancasila dan Islam. Baur Publishing: Jakarta. hlm. 169

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Gubernur Mahasiswa FKIP Unila 2013-2014, Kepala Kebijakan Publik PD KAMMI BandarLampung, tertarik dengan dunia gerakan, kepenulisan, dan pendidikan. Saat ini, selain aktif di organisasi, ia juga aktif sebagai staf pendidik di salah satu sekolah islam terpadu di Bandar Lampung.

Lihat Juga

MK, Sosial Media dan Etalase Demokrasi