Home / Narasi Islam / Sosial / Bias Kesetaraan Gender

Bias Kesetaraan Gender

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (galleryhip.com)
Ilustrasi. (galleryhip.com)

dakwatuna.com – Kampus merupakan tempat di mana para calon pemimpin bangsa ini dilahirkan, dari tempat inilah banyak pemikir-pemikir kritis pembaharu lahir. Reformasi yang tercipta tak ubahnya merupakan hasil dari perjuangan dan pemikir didikan kampus. Segala pengaruh pemikiran dan gagasan yang tumbuh subur di arena kampus, dapat dipastikan akan menjadi dasar pegangan arah tujuan bangsa ke depan. Aktor utama dinamika yang mewarnai kampus salah satunya adalah peran dari mahasiswa. Masyarakat awam menganggap pemikiran yang telah dicetuskan oleh mereka, adalah pemikiran yang baik, benar, dan dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, sehingga turut sedikit banyaknya mempengaruhi pola pikir masyarakat sekitar.

Isu kesetaraan gender di kampus dewasa ini mulai gencar disosialisasikan di arena kampus. Isu ini telah lama populer sejak dulu dan kembali gencar disosialisasikan kembali lagi di ranah kampus. Melalui media sosial, sosialisasi terbuka, maupun ranah seni gencar dihembuskan melalui kritik para kaum feminis. Mereka yang berpredikat sebagai kaum pembela hak perempuan bergeriliya di ranah kampus, berebut simpati melalui olah kata tegas nan memikat untuk mempertegas bahwasannya mereka mampu berdikari tanpa campur tangan kaum lelaki, yang katanya “penindas” dalam upayanya memarjinalkan peran strategis perempuan.

Gagal pahamnya sebagian mahasiswa terhadap paham feminis dalam memahami isu kesetaraan gender, menyebabkan segelintir mahasiswa salah kaprah dalam mensosialisasikan isu diskriminasi, pelecehan seksual, kebebasan berpakaian dan kekerasan terhadap perempuan. Pada hakikatnya mereka hanya memahami isu tersebut didasarkan pada pandangan yang tidak sejalan dengan tujuan awal dari ideologi gender. Segala pandangan yang menolak usaha untuk mempromosikan perempuan keluar dari ranah domestik atau membatasi peran publik perempuan adalah diskriminasi. Padahal semestinya berperan di mana pun, boleh jadi merupakan konstruksi sosial sebuah masyarakat di tempat lain.

Dahulu wacana untuk mengurangi jam kerja oleh pemerintahan Jokowi-JK pada karyawati di Indonesia, sempat mendapat respon sinis dari sebagian kelompok yang mengatasnamakan pembela hak perempuan. Pada kenyataannya mereka hanyalah segelintir orang yang salah kaprah dan secara mentah-mentah memahami isu gender gaya barat, tanpa memahami esensi dari kesetaraan gender itu sendiri.

Kalau saja ditilik melalui tinjauan sains dan aspek psikologi maka, hakikat fisik dari kaum wanita tidak setara dengan fisik kaum pria contohnya saja dalam hal volume besar otot penyusun yang membuat keberbedaan kekuatan, apabila disamakan dalam hal waktu kerja saja maka bisa jadi wanita lebih cepat kelelahannya daripada pria, apabila terus menerus terjadi akan menyerang ke kondisi kesehatan. Lantas yang menjadi pertanyaan “Masih Pantaskah Kelompok yang Katanya Pembela Hak dan Kesetaraan Gender ini Dianggap Pembela Perempuan? Alih-alih disebut pembela mereka lebih cocok disebut pakar eksploitasi kaumnya sendiri.

Awal dari kemunculan gerakan kesetaraan gender bermaksud dan bertujuan baik, guna merubah kehidupan kaum perempuan menjadi lebih mapan dan mandiri dalam bingkai kesetaraan gender. Namun semakin berkembangnya pemikiran tentang kebebasan dan kesetaraan gender di indonesia, ada baiknya kita sebagai mahasiswa untuk menyaring dan memahami tujuan awal munculnya gerakan ini.

Akan menjadi kerugian besar ketika pemikiran yang berkembang dikampus menjadi tak terkendali secara adat istiadat, budaya, serta nilai-nilai moral yang tertanam dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Nilai-nilai budaya dan moral tercermin dari gaya pakaian masyarakatnya, tingkah laku menghormati yang lebih tua, serta nilai religiusitas yang ada.

Isu kebebasan menjadi hal yang sangat riskan apabila pemikiran tersebut tersebar luas di arena kampus melalui orang-orang yang gagal paham antara kebebasan dan aspek nilai kebudayaan di suatu daerah tertentu. Konsekuensi dari gagalnya memahami makna isu kebebasan akan berdampak pada penghapusan hak-hak Allah (Tuhan) dan segala otoritas yang diperoleh dari Allah (tuhan). Ciri kebebasan (liberal) pemikiran dan keagamaan yang paling menonjol adalah pengingkaran terhadap semua otoritas yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan di luar dan di atas manusia yang mengikatnya secara moral.

Menentukan peran adalah pilihan hidup yang tidak seharusnya dicampuri oleh pihak manapun. Gender adalah suatu proses aktif dari terjadinya kategori sosial dalam konteks sejarah dan budaya tertentu, seharusnya netral. Gender sebagai pemaknaan sosial diberikan kepada laki-laki dan perempuan tidak seharusnya menghilangkan kultur dalam keberagaman masyarakat dengan bentuk satu sistem sosial baru yang diikuti oleh semua perempuan dari berbagai bangsa. Tidak ada yang salah terhadap gerakan menuntut kesetaraan gender di negeri ini, namun yok mari kita renungkan lagi isi landasan pancasila, sila kedua “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sila tersebut merupakan manifestasi dari cita-cita luhur bangsa untuk membawa rakyatnya menjadi beradab.

Menyaring dan memahami setiap pemikiran yang ada adalah sumbangsih kita sebagai mahasiswa dalam pengabdian kita untuk bangsa Indonesia, menghindari dibodohkan dan diracuni secara ideologi agar kita tak terkena dampak pada krisis keberadaban moral, kebudayaan, falsafah dan melupakan jiwa keindonesiaannya, bahkan tak tahu lagi tradisi asli Indonesia.

Kebebasan berekspresi adalah hak bagi setiap manusia, namun keadilan dalam bingkai kebenaran adalah hak mutlak bagi setiap insan yang memanusiakan manusia. Manusia banyak belajar dari pengalaman tapi kadang terlupa untuk belajar dari kebenaran. Berdikari tak selalu “harus” menuntut untuk setara dalam segala hal, karena kreativitas yang terarah sesuai porsi dan fitrah adalah sebagian dari hakikat reformasi kesetaraan gender itu sendiri.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mungkin tulisan hanya kan menjadi pajangan, namun dengan tulisan kita mampu mengekspresikan keresahan dan harapan. melalui tulisan pun kita mampu menciptakan perubahan yang akan terekam dalam keabadian. Seorang biasa yang berusaha untuk terus belajar dan melengkapi kekurangan

Lihat Juga

Reshuffle Kabinet akan Sia-Sia Jika Cara Memimpin Jokowi Tidak Berubah

Figure
Organization