Home / Narasi Islam / Sosial / Memaknai Debat Kusir

Memaknai Debat Kusir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (alia.wordpress.com)
Ilustrasi. (alia.wordpress.com)

dakwatuna.com – Perdebatan adalah suatu keniscayaan dalam hubungan antarmanusia. Sederhananya, perdebatan adalah percakapan (baik secara lisan maupun tulisan) yang dikarenakan perbedaan pandangan. Ada debat yang menghasilkan sesuatu yang positif namun ada juga yang disebut debat kusir. Debat kusir adalah debat tak berujung yang tidak menghasilkan kesepakatan apa pun antara pihak yang berdebat. Debat kusir biasanya disebabkan oleh ego masing-masing orang yang tidak mau kalah.

Sekilas, debat kusir nampak seperti sesuatu yang tidak bermanfaat. Namun, ada dimensi lain dalam perdebatan. Yaitu gagasan yang dipaparkan oleh yang sedang berdebat dan  ‘penonton’ perdebatan (atau opini publik). Jika yang diperdebatkan adalah sesuatu yang bersifat krusial (contoh masalah aqidah dan pemikiran), maka sebenarnya tidak ada yang namanya debat kusir.

Apalagi kalau kita muslim, kita diperintahkan untuk beramar ma’ruf dan bernahyi munkar. Para pembangkang perintah Allah yang terdiri dari kafir dan munafik, mereka akan terus menyebarkan pemikiran mereka dan mengajak manusia pada yang mungkar. Sedangkan kaum muslimin wajib menghentikan kemungkaran tersebut semaksimal yang dia mampu. Maka, lewat apakah muslimin melawan pemikiran para pembangkang tersebut kalau bukan (salah satunya) melalui perdebatan?

Sebagai muslim, harus kuat menyampaikan argumen yang berdasar (bukan asbun). Sementara para kafir dan munafik juga kuat menyampaikan pemikiran mereka. Jika keduanya bertemu dalam perdebatan, pasti nampak seperti debat kusir. Karena tidak akan ada yang mau mengalah.

Lalu jika perdebatan dihentikan, maka pemikiran kafir dan munafik akan menyebar dengan mudah tanpa perlawanan. Sehingga perdebatan menjadi perlu bahkan urgent, sebab muslimin wajib menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah. Atau dengan kata lain muslim wajib mendebat apa yang disampaikan kaum pembangkang.

Ajaran Islam meliputi segala aspek. Termasuk dalam bernegara atau sebut saja dalam ber-ipoleksosbudhankam. Kaum kafir dan munafik berusaha memisahkan urusan agama dengan bernegara yang biasa kita kenal dengan sebutan kaum sekuler. Mereka secara pelan dan halus mengiring muslim untuk mengikuti pemikiran mereka. Salah satu caranya adalah menghindari perdebatan dengan muslim melalui propaganda menghindari debat kusir. Ini yang tidak kita sadari.

Barangkali ada di antara kita yang sebal pada saudara muslimnya lantaran ia sering berdebat dalam rangka meluruskan wabah sesat logika atau karena dia sering ‘nyinyir’. Barangkali ada di antara kita yang memilih diam daripada capek berdebat dengan orang lain. Boleh saja karena itu preferensi masing-masing. Tapi terkadang, tanpa kita sadari, alih-alih kita tidak menyukai perdebatan, kita malah menghentikan nahi mungkar. Alih-alih kita ingin suasana yang damai, kita justru memberi ruang pada pemikiran kaum pembangkang sehingga merajalela.

Misalkan ada kawan kita yang menulis status di sosmed miliknya atau malah tulisan panjang lebar di blognya. Ternyata untaian kata yang dirangkainya sukses menyayatkan luka di hati kita. Nah, bagaimana jika kondisinya di balik? Bagaimana kalau tulisan kita yang berisi justifikasi pada debat kusir, ternyata melukai saudara kita juga? Bagaimana jika setelah membaca tulisan itu lantas dia jadi takut menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan? Sebab ia jadi takut jika tergolong orang yang debat kusir.

Hampir segala sesuatu berpotensi diperdebatkan. Apalagi soal preferensi. Termasuk preferensi bagaimana menyampaikan kebenaran. Kalau kita berprinsip “memilih diam daripada berdebat kusir” ya monggo. Tapi hargai juga orang yang mau meluangkan waktu untuk meluruskan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Dasarnya sudah jelas: Alquran dan hadits. Itu saja.

Para kaum pembangkang menyebarkan pemikiran lewat media sosial mereka. Maka muslim pun semaksimal mungkin memanfaatkan media sosial untuk meluruskan penyimpangan mereka. Atau untuk meluruskan kebaikan yang tidak dieksekusi dengan cara yang benar. Misalnya sedekah tapi salah sasaran.

Bagi yang suka berdebat atau ‘nyinyir’, selama dalam rangka meluruskan penyimpangan pemikiran kaum pembangkang, selama meluruskan sesat logika, jangan menyerah dan jangan takut dianggap debat kusir. Segala sesuatu berisiko. Termasuk disebelin sesama muslim dan dianggap debat kusir. Hehe. Namun, wajib menjadi catatan, debat bukan berarti kasar. Debat tetap dengan santun dan menjaga adab.

Memang, tidak semua hal perlu diperdebatkan. Tergantung konteksnya. Ada ranah yang tidak perlu diperdebatkan sama sekali, tapi ada yang harus kita perdebatkan. Selayaknya kita tidak terburu-buru dan mudah menjustifikasi perdebatan tak berujung adalah debat kusir. Jika kaum muslim memilih diam karena takut dianggap debat kusir, lantas siapa yang akan melawan pemikiran menyimpang dari kaum pembangkang?

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Author of book 'Dalam Benciku Masih Ada Cinta Untukmu' https://dyahsujiati.wordpress.com/2015/03/11/dalam-benciku-masih-ada-cinta-untukmu-2/

Lihat Juga

Anies Tegaskan Data dalam Debat Pertama Relevan

Organization