Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Baju Hijau Lumut Anakku

Baju Hijau Lumut Anakku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Setelah seminggu lamanya menunda-nunda, siang itu aku berniat merapihkan lemari pakaian. Menurutku, merapihkan isi lemari adalah pekerjaan yang membosankan. Duduk lama berhadapan dengan tumpukan baju yang berantakan sangat membosankan bukan? Tapi karena aku  ingin isi lemari teratur rapi, bismillah.. kukerjakan tugas ini. Secangkir kopi panas pun kusiapkan sebagai penambah semangat.

Di tengah aktivitas melipat-lipat dan menyusun pakaian, kutemukan sebuah kaos milik anakku. Kaos itu jelas sudah tidak muat lagi dipakai olehnya. Kekecilan. Biasanya bila menemukan baju yang kekecilan, segera kuberikan kepada orang yang membutuhkan.

Kupandangi kaos itu sekali lagi, warna yang indah, hijau lumut kesukaannku. Ah, daya pikat si hijau lumut telah membuatku jatuh hati padanya. Kaos itu pun kembali kulipat rapi, kembali menjadi penghuni lemari.

Alhamdulillah.. Tunai sudah tugas ini. Baju-baju telah tersusun rapi, hatiku pun berseru riang.

Sore menjelang. Kunyalakan televisi di ruang keluarga, mencari tayangan berita terkini. Ternyata channel televisi yang biasa kutonton sedang menayangkan Reality Show. Tentang perilaku orang-orang yang menderita penyakit psikologis, penyakit gemar menimbun barang. Menyaksikan tayangan ini aku terpana…

Keadaan rumah para penimbun ini sungguh memprihatinkan. Seluruh ruangan penuh dengan barang! Bahkan untuk melangkah di dalam rumah pun sulit dilakukan karena barang-barang berserakan di mana-mana… Perabot-perabot rusak, tumpukan majalah bekas, baju-baju usang, hingga botol-botol kosong yang kotor…

Tak hanya kondisi rumah yang memprihatinkan, kondisi keluarga pun ikut  berantakan. Hubungan antar anggota keluarga tidaklah harmonis. Mereka bertengkar, saling menyalahkan, depresi, bahkan ada yang mencoba bunuh diri. Sungguh menyedihkan…

Seorang psikolog dan tim pembersih rumah didatangkan untuk membantu membersihkan rumah dan menyadarkan penderita penimbun barang. Konflik pun terjadi, para penimbun keberatan, marah, tidak terima barang-barang miliknya dikeluarkan dari rumah padahal mereka tahu, kehidupan mereka berada di titik kritis.

Mereka mencari berbagai alasan untuk tetap mempertahankan barang-barang miliknya yang maaf, lebih tepat disebut sampah…

Astaghfirullah.. Aku langsung teringat kaos hijau anakku. Demikian pula halnya aku, hatiku menolak mengeluarkan kaos itu dengan alasan jatuh hati kepada warnanya. Tak lagi menunggu, aku berlari ke lantai atas, menuju lemari pakaian. Segera kuraih dan kukeluarkan kaos hijau anakku. Tak perduli lagi dengan warna kesayangan. Daya pikat si hijau tak lagi mempengaruhiku.  Aku tak mau menjadi seorang penimbun!

MasyaAllah, bukankah Allah Swt mengecam mereka yang bakhil?

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya , mengira bahwa kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Apa yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan di langit dan di bumi. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al Imran : 180)

Penelitan terbaru di Amerika juga menunjukan ternyata  gemar berbagi memberikan banyak efek positif bagi pelakunya. Dalam bukunya ” The Paradox of Generosity” sosiolog Christian Smith mengungkapkan bahwa mereka yang gemar berbagi memiliki hidup yang lebih sehat dan lebih bahagia.

Bukankah menjadi sehat dan bahagia adalah hal yang selalu kita dambakan? Masihkah kita enggan berbagi?

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik