Topic
Home / Narasi Islam / Sejarah / Guru Besar Bangsa, HOS Tjokroaminoto

Guru Besar Bangsa, HOS Tjokroaminoto

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
HOS Tjokroaminoto. (warkopmbahlalar.com)
HOS Tjokroaminoto. (warkopmbahlalar.com)

Semurni-murni tauhid
Setinggi-tinggi ilmu
Dan, sepandai-pandai siasat

dakwatuna.com – Satu per satu pilihan yang diambil, nantinya akan sambung menyambung membentuk bentangan jalan kehidupan yang unik dan tentunya berbeda untuk masing-masing individu. Pilihan yang diambil seorang Tjokroaminoto pada era 1900an, mau tidak mau harus diakui sebagai sebuah awalan besar yang membuat generasi kini menghirup kemerdekaan di atas tanah airnya sendiri. Pilihan-pilihan Tjokroamonoto yang saat itu dianggap sebagai sebuah perlawanan oleh pihak Belanda, siapa sangka akan benar-benar mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Kejadian-kejadian penyiksaan yang dengan sengaja atau tidak terpampang di depan matanya, membuat Tjokro kecil semakin sadar bahwa ia dan semua warga pribumi sedang dikepung oleh orang-orang Belanda yang jahat. Ia memang mendapat perlakuan yang baik dari mereka mengingat posisi Tjokro adalah anak bangsawan, namun hatinya tidak tega melihat semua kekerasan itu berlanjut terus begitu saja tanpa ada daya dari penguasa setempat untuk mencegahnya. Kesadaran bahwa sesungguhnya ia juga seorang korban semakin kuat merasuk dalam dirinya setelah ia beranjak dewasa.

Saat semua keturunan bangsawan tidak diperhitungkan lagi dalam pemerintahan, ia dan keluarganya diberi keistimewaan khusus, sehingga Tjokroamonoto dapat bekerja menjadi salah satu juru tulis di sebuah perkebunan. Namun lagi-lagi, perlakuan sewenang-wenang dari mandor Belanda tetap menjadi pemandangan harian di tempat kerjanya. Hingga pada suatu hari, Tjokro memberanikan diri bangkit dan melawan dengan membalas perlakuan mandor Belanda yang seenaknya menyuruh seorang pekerja pribumi untuk memegang teko panas dalam waktu yang lama. Sejak saat itulah Tjokro malah dikeluarkan dari tempat bekerjanya.

Keputusannya untuk menentang memang sudah bergemuruh hebat sejak lama. Namun selama itu ia terus menahan diri. Kejadian pemecatan itu kemudian menjadi titik awal ia memulai hijrahnya. Dengan meninggalkan isteri yang sedang hamil dan rumah tangga yang sedang gonjang-ganjing, ia pamit untuk berhijrah. Pergi ke tempat yang lebih baik lagi. Menemukan jawaban-jawaban atas semua pertanyaan yang selama itu mengusiknya.

Semarang adalah kota pertama yang ia kunjungi. Di sana ia bertemu dengan H. Samanhudi yang merupakan ketua dari Sarekat Dagang Islam. Di sana juga jiwa kepemimpinannya terlihat dan semakin berkilau. Hingga akhirnya ia disarankan oleh H. Samanhudi, pengusaha batik dari Solo, untuk berhijrah ke Surabaya, pintu gerbang jalur pelayaran di Pulau Jawa.

Bersama isteri dan anaknya yang masih kecil, Tjokroamonioto memutuskan untuk benar-benar hijrah. Surabaya menjadi tempat tujuan selanjutnya. Di rumah Peneleh ia mulai semuanya. Target Tjokroamonoto sangat jelas. Hal yang paling awal ia lakukan adalah bergabung dan menginisiasi perkumpulan Sarekat Islam setelah perkumpulan sebelumnya di Semarang, Sarekat Dagang Islam dibubarkan oleh Belanda. Dari total penduduk Pulau Jawa yang saat itu 30 juta, ada 2 juta yang menjadi anggotanya. Ia berkata bahwa semua perubahan itu harus dimulai dari kemandirian, termasuk dalam kemandirian ekonomi. Rakyat tidak boleh terus menjadi pekerja bagi penguasa Belanda. Rakyat harus memulai perekonomiannya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan mulai bermunculannya koperasi dari tiap perkumpulan yang sudah dibentuk tadi. Koperasi inilah yang kemudian mengakomodir kebutuhan para petani sehingga penghasilan panennya tidak hanya ke tangan Belanda, namun ada sebagian yang masih berputar untuk kebutuhan masyarakat itu sendiri. Di samping itu, Tjokroaminoto juga mendirikan sebuah badan pers yang mengabarkan segala kegiatan Sarekat Islam dan pergerakan-pergerakan yang sedang dilakukannya. Hijrah yang telah dilakukannya itu, mendatangkan Agus Salim dari Sumatera Barat untuk bergabung karena kesesuaian visi dan misi antara mereka. Nantinya, Agus Salim inilah yang menjadi teman seperjuangn semasa hidupnya dan membantu mengetahui sejauh mana hijrah yang telah mereka lakukan. Baik hijrah secara lahiriyah maupun pemikiran dan batin.

Setelah rakyat dapat mandiri finansial, kemudian dirumuskanlah target perjuangan selanjutnya yaitu pendidikan. Tjokro menyadari betul bahwa pendidikan akan melahirkan orang-orang yang pandai terutama dalam menghadapi Belanda nanti di bidang politik. Perumusan ini digelar dalam kongres akbar yang meenghadrikan banyak tokoh-tokoh cendekia terkemuka di dalamnya. namun, tidak semua setuju dengan usulan ini. Sebagian peserta kongres menyatakan bahwa yang terpenting saat itu bukan pendidikan namun tanah. Hal ini karena banyak tanah yang dirampas oleh Belanda atau tingginya pajak tanah yang ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dalam sidang itu terpampang jelas, mulai terpecahnya Sarekat Islam ke dalam dua kubu.

Tjokroaminoto menghadapi keadaan itu dengan optimis. Ia paham bahwa Semaun dan Muso adalah pemuda cerdas yang memilih ideologi itu pasti dengan alasan yang jelas. Sejak saat itulah isu perbedaan ideologi makin meruak dan berakhir pada pecahnya Sarekat Islam menjadi Sarekat Islam Merah. Tjokroaminoto yang dianggap semakin mesra dengan pemerintah di volksrad juga main diragukan geraknya dan dianggap lambat. “Revolusi”, jargon penyemangat bagi Sarekat Islam Merah yang begitu radikal diambil dari jargon Rusia yang berhasil menggulingkan penguasa yang ada disana.

Hal ini tentu mengundang kebencian dari pihak pemerintah Belanda. Pasukan pun dikerahkan untuk menangkap satu per satu pemimpin dari Sarekat Islam Merah dan membubarkan partai itu. Karena mengusung visi pemerataan (sosialis) dan gerak radikalnya maka Sarekat Islam Merah benar-benar dibubarkan.

Tjokroaminoto juga kerap ditangkap untuk dimintai keterangan terkait dengan tuduhan melakukan pergeran-pergerakan yang mengancam pemerintahan Hindia Belanda. Namun, seorang Tjokroaminoto adalah pendebat yang ulung. Ketegasan dan kecerdikannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, membuat Belanda geram. Berpindah dari penjara satu ke penjara yang lain tidak membuat Tjokroaminoto jera memperjuangkan prinsip dan cita-citanya.

Gerak Tjokroaminoto yang selama ini dinilai lambat, adalah salah satu efek dari strateginya yang ingin menyusup ke pemerintahan dengan cara moderat. Perjuangan panjang itu mencapai hasilnya setelah Tjokroaminoto wafat, setelah tahun 1935, dimana Kusno (Seokarno) salah satu anak didik yang dulu sempat kos di kediamannya di rumah Peneleh memegang tampuk kekuasaannya, Tjokroaminoto memang memilih jalan yang tanpa kekerasan namun ia tahu persis letak tujuannya. Ia memang memilih jalur moderat yang lebih mengutamakan jalur negosiasi daripada jalur kekerasan. Hasilnya memang tidak langsung bisa dipetik bahkan saat ia masih hidup. Keniscayaan menunjukkan bahwa strategi yang matang dalam pemikiran yang bijak tidak akan pernah usai.

Raga HOS Tjokroaminoto memang telah beristirahat dengan tenang, namun pemikiran dan semangatnya masih menggelora pada diri Soekarno, Semaun, hingga Kartosuwiryo. Seorang pakar sejarah ada yang menyebut bapak proklamator kita itu sebagai ‘modifikasi dari Pak Tjokro’. Karena memang, selama Soekarno di rumah Paneleh, ia kerap mencontoh gaya berorasi dari Tjokroaminoto. Ketokohan Tjokroaminoto ini dapat dilihat dari keterbukaan dan kekritisan anak-anak kosnya dalam berpikir, yang dibuktikan dari bagaimana Semaun serta Kartosuwiryo berseberangan ideologi. Kartosuwiryo dianggap terlalu kanan karena ingin mendirikan negara Islam diatas nusantara ini, dan Semaun dianggap terlalu kiri karena mengambil paham sosialis demi menjunjung kesetaraan dan persamaan (tanpa berpaham komunis-ateis pada awalnya). Berbenturan ideologi ini memang sudah kerap dibawa dalam diskusi-diskusi di rumah Paneleh dengan penuh kecerdasan. Sehingga mereka sadar bahwa kebebasan dalam berpikir dan memihak adalah hak setiap orang, namun perlu dilandasi dengan dasar yang jelas dan kuat. Pondasi itu adalah semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu dan, sepandai-pandai siasat.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada || Team Research Disaster Nursing || Peserta PPSDMS Regional 3 Yogyakarta angkatan 7 || Lahir di Gunungkidul tahun 1995 ||

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Figure
Organization