Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Terompah Surga

Terompah Surga

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ada banyak hal dalam kehidupan di dunia ini yang dianggap orang sederhana namun memiliki nilai yang sangat berharga. Gejala demikian muncul pada komunitas yang menilai sesuatu itu hanya secara wadag materil. Penilaian demikian tentu sangat relatif dan subyektif. Pada gilirannya pihak yang berkuasalah yang menentukan standar penilaian materil. Misalnya: kulit putih dianggap sebagai kulit terbaik dan yang paling rendah ialah hitam; Yang dihormati dimasyarakat ialah yang kaya dan berkedudukan, sedangkan orang biasa dan miskin tidak dihormati; yang benar ialah pendapat subyektif manusia kaya, pendapat si miskin di kesampingkan; pendapat orang terkenal diutamakan meski salah daripada orang biasa meski benar. Masih banyak lagi berbagai standar penilaian yang sangat wadag.

Letak bernilai tidaknya sesuatu bukan semata terbatas pada lahiriah semata akan tetapi juga batiniah. Islam menetapkan standar bernilainya sesuatu pada kualitas bukan kuantitas; menilai sesuatu bernilai berdasarkan etos kerja, ketakwaan, dan kinerja terbaik, bukan pada kehebohan dan keindahan fisik. Orang dianggap berharga bukan terpaku pada kekayaan, kedudukan, kegantengan, kecantikan, dan berbagai standar lahiriah lainnya, tapi yang dijadikan acuan ialah seberapa baik amal dan kinerjanya, dan seberapa besar ketakwaannya. Walaupun berkedudukan jika tak takwa maka percuma. Meskipun kaya jika tak baik amalnya maka percuma. Meski rupawan tapi jika tak takwa maka tiada gunanya.

Pada zaman jahiliyah di mana Islam baru tumbuh berkembang, standar penilaian yang sangat wadag dan materil ini sangat mendominasi alam pikir dan idiologi mereka. Misal saja orang-orang kulit hitam dianggap sebagai orang kelas bawah, tak memiliki hak-hak seperti orang kulit putih, lebih dari itu kebanyakan dari mereka dijadikan budak. Hampir tak terdengar-kalau tak boleh dibilang sama sekali tidak- orang-orang kulit hitam yang menempati posisi penting. Mereka selalu dinomerduakan.

Di antara orang hitam yang tinggal di Arab jahiliyah kala itu ialah Bilal bin Rabah. Sebagaimana yang lain, sebelum masuk Islam ia tak lebih hanya sebagai budak. Melayani dan membantu keperluan tuannya. Tuannya kala itu salah seorang pembesar Qurays bernama Umayyah bin Khalaf. Kehidupan Bilal yang sangat sederhana dan bersahaja di waktu Jahiliyah terhitung sangat biasa dan tak begitu diperhitungkan. Namun ketika cahaya Islam menyinari kegelapan hatinya, seorang Bilal yang dianggap hina ini seolah terlahir kembali. Dalam Islam dia dimuliakan, disetarakan, dihargai dan dihormati. Ia merasakan keteduhan dan kesejukan dari agama yang baru datang ini. Sekali dia dapat petunjuk agung ini, tak akan pernah dilepas meski harus mendapat tantangan berat. Lambat laun berita tentang keislamannya pun bocor. Ketika tuannya tahu, maka Bilal disiksa sedemikian rupa di tengah terik mentari, ditindihi batu. Bilal tak gentar dan tetap teguh seraya berkata: Ahad Ahad Ahad. Sampai akhirnya Bilal dibebaskan oleh Abu Bakar as-Shidiq radhiyallahu `anhu.

Nabi sangat menghormati Bilal. Ia tidak pernah membeda-bedakan setatus, karena yang terbaik adalah siapa yang paling takwa. Bilal dapat kemulian menjadi muadzin tetapi. Bilal tahu bahwa bakat dan potensinya adalah suara, maka dia berkontribusi melalui segi suara. Lebih dari itu, yang menjadikan Bilal penuh kemulian dan kehormatan ialah: Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wassallam pasca pulang dari perjalanan isra` wa mi`raj, beliau menceritakan bahwa ketika melihat surga ia mendengar suara terompah Bilal. Rasulullah pun penasaran sehingga menanyakan langsung kepada Bilal tentang amalan apa yang membuatnya mendapatkan kepastian masuk surga padahal dia masih hidup di dunia. Dengan sangat sederhana Bilal menjawab: Aku selalu menjaga kesucianku, dan setiap kali aku selesai bersuci aku shalat dua rakaat. Mungkin ini terkesan sederhana. Namun di balik kesederhanaan ini menyimpan: kekontinyuan, kedawaman, ke-itqannan, dan keistiqamahan dalam beramal. Bukankah amal yang paling dicintai Allah ta`ala ialah meski sedikit tapi dawam dan istiqamah? Terompah Bilal pun mendahuluinya ke surga.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Anggota Manajemen Penulis Indonesia.

Lihat Juga

Rumahku (Bukan) Surgaku?