Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tongkat Lintas Akhirat

Tongkat Lintas Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (henydwi.wordpress.com)
Ilustrasi. (henydwi.wordpress.com)

dakwatuna.com – Tulisan ini bukan hendak menceritakan kehebatan dan keajaiban tongkat, meski jika dibandingkan dengan tongkatnya Harry Poter masih hebat tongkat ini. Karena di samping animasi, tongkat Harry Poter dimensinya hanya dunia saja. Adapun tongkat yang mau dicatat pada tulisan ini sebenarnya tongkat yang biasa. Yang menjadikannya luar biasa ialah faktor momentum kontekstual di mana tongkat itu diberi, oleh siapa tongkat itu diberi, untuk siapa tongkat itu diberi, dan sampai sejauh mana dimensi yang dilintasi tongkat. Tongkat ini diberi pasca keberhasilan salah satu sahabat Nabi yang telah berhasil menumbangkan musuh; diberikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam kepada sahabat yang bernama Abdullah bin Unais; dimensi tongkat ini tak hanya terbatas sirna di dunia bersama waktu, bahkan tongkat ini dimensinya lintas akhirat.

Sahabat mulia bernama Abdullah bin Unais merasa terpanggil untuk membuktikan rasa cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Ghirah yang begitu besar membuatnya bergelora untuk berjuang di jalan Allah. Apa lagi salah satu rekan sahabat dari suku `Aus telah berhasil menumbangkan benggolan Yahudi bernama Huyay bin Akhthub. Ketika ada momentum perjuangan untuk menumbangkan serangan suku Hudzail, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Abdullah bin Unais. Titah Rasul padanya ialah menumbangkan pemimpin Hudzail yang bernama Khalid bin Sufyan al-Hudzali. Pasca perang Uhud, suku Hudzail yang dipimpin Khalid bin Sufyan hendak menyerang Madinah. Singkat cerita, Abdullah bin Unais dengan segera melaksanakan titah Rasulullah. Kata Rasul, tandanya kamu ketemu dia ialah ketika bertemu dia kamu akan merasa gemetar ketakutan. Sesampainya di lokasi benar Abdullah bergetar. Kebetulan telah masuk waktu Dzuhur. Sambil berjalan shalat dengan isyarat ia bergerak menuju Hudzail. Ketika selesai terjadi obrolan singkat sampai akhirnya ketika berjalan bersama ada kesempatan mas dimanfaatkan Abdullah bin Unais untuk segera membunuh Khalid bin Sufyan.

Setelah terbunuh, Khalid bin Unais melapor pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Setelah menyampaikan keberuntungan, Rasulullah masuk rumah seraya membawa tongkatnya untuk diberikan pada Abdullah bin Unais agar disimpan dan dipegang dengan erat. Tanpa bertanya Abdullahpun pergi. Para sahabat menyuruh Abdullah untuk bertanya perihal kenapa Abdullah diberi tongkat Rasulullah. Ketika ditanyakan langsung ke Rasulullah, Beliau menjawab: “Tongkat ini sebagai bukti(tanda) antara aku dan dirimu pada Hari Kebangkitan”. Subhanallah …. betapa beruntungnya Abdullah mendapatkan momentum yang sangat berharga ini. Hanya dia satu-satunya sahabat yang diberi semacam rekomendasi / bukti dengan bentuk tongkat Beliau yang dijadikan bukti pada pertemuan di akhirat kelak bahwa Abdullah bin Unais benar-benar berjuang di jalan Allah.

Perjuangan yang tulus dan ikhlas akan membawa pada kejayaan abadi; perjuangan yang murni dan jernih hanya untuk Islam mengantarkan pada keberuntungan sejati. Layaknya Abdullah bin Unais, perjuangannya yang luar biasa meski harus kehilangan nyawa, berbuah manis, meski dia mati bukan di medan jihad. Bahkan tongkatpun yang sebenarnya hanya benda biasa, meski punya Rasulullah bisa menyertainya hingga melintasi dimensi akhirat. Adakah tongkat yang diberkahi mempunyai keberuntungan seperti tongkat yang diberikan pada Abdullah bin Unais? (cari saja sampai dapat, mungkin akan sangat sulit bahkan mustahil dicari).

Bukan tongkat benar yang bikin hebat. Tongkat hanya sebagai simbol rekomandasi kesaksian Rasulullah bahwa Abdullah bin Unais benar-benar pejuang. Abdullah bin Unais telah mampu melampaui kepentingan pribadinya demi kemaslahatan yang lebih luas; ia telah mampu mengontrol hawa nafsu pribadinya, untuk senantiasa peduli dengan kepentingan umat; mampu membuat jarak dengan egoisme pribadi untuk pergi lebih jauh pada kepentingan yang lebih luas dan hakiki. Lantas, bagaimana dengan kita? Apa yang akan kita persembahkan?.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Anggota Manajemen Penulis Indonesia.

Lihat Juga

Sahabat Akhirat