Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Pelajaran Kehidupan

Pelajaran Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Guru SMP (tribunnews.com)
Guru SMP (tribunnews.com)

dakwatuna.com – Kring! Kring! Kring! Alarmku berbunyi nyaring sekali. Aku kaget setengah mati. Tak ayal aku pun terjatuh dari tempat tidur dan berguling-guling di lantai. Ah, rasanya baru beberapa menit saja aku memejamkan mata kembali setelah shalat Subuh tadi. Kulihat jam dinding. Alamak… Ternyata sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Bel sekolah tentunya sudah berbunyi sejak pukul tujuh pagi. Namun, pantang bagiku untuk bolos sekolah. Bisa-bisa hancur reputasiku sebagai siswa sejuta umat.

Apalagi jam pertama adalah jadwal mengajar Bu Guru Aisyah, guru favorit di sekolah, yang mengajar Matematika. Lewat tangan dinginnya, Matematika tidak lagi menjadi momok menakutkan bagi siswa. Aku yang sejak kecil menggila-gilai Matematika menjadi semakin cinta dengan Bu Aisyah. Ups salah… Maksudnya semakin cinta dengan Matematika.

Aku langsung berlari ke kamar mandi dan kulakukan mandi ala Paskibra, mandi kilat sepuluh detik harus selesai. Selesai mandi, kuambil seragam di jemuran. Tak ada waktu untuk menyetrika. Langsung saja kupakai dan bergegas melesat ke sekolah dengan belalang tempur, eh sepeda gowes milikku.

Bu Aisyah sudah berdiri di muka pintu kelas. “Maaf kamu tidak bisa masuk kelas, Dan.”

“Kali ini saja izinkan saya masuk, Bu,” wajahku memelas pasrah. Napasku masih terengah-engah dan pakaian penuh keringat sehingga terlihat basah.

“Peraturan tetaplah peraturan, Dan. Peraturan dibuat untuk ditaati bukan dilanggar,” Bu Aisyah berkata pelan namun tegas dan lugas.

Memang Bu Aisyah telah membuat peraturan bahwa siswa yang datang terlambat di kelas yang diajar olehnya, maka siswa tersebut tidak diperbolehkan masuk kelas. Ketika ada siswa yang memprotes peraturan ini, Bu Aisyah bilang, “Jika kamu memprotes, maka bisa dipastikan kamu niat sekali untuk datang terlambat”. Pelajaran kehidupan pertama dari Bu Aisyah yaitu kedisiplinan.

Meskipun tidak boleh masuk, aku tetap bertekad untuk mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Bu Aisyah. Aku pun mengintip dari balik pintu kelas. Melihat kepalaku yang sedikit nongol, Bu Aisyah membesarkan volume suaranya supaya aku dapat mendengarkan pelajaran dengan lebih jelas. Bu Aisyah memang baik sekali dan aku menikmati proses belajar mengajar yang tidak biasa ini.

Satu jam kemudian.

“Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat menuntut ilmu, nikmat memiliki banyak teman, dan berbagai macam nikmat lainnya. Begitu banyak nikmat yang Dia berikan sehingga jika kita mencoba menghitung nikmat tersebut dengan rumus limit, integral, turunan, atau persamaan kuadrat sekalipun, tentu kita tidak akan sanggup menghitungnya. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Nasihat Bu Aisyah menutup pelajaran hari ini. Pelajaran kehidupan kedua dari Bu Aisyah yaitu selalu bersyukur.

***

Tet! Tet! Tet!

Bel pulang berbunyi. Para siswa langsung berlari berhamburan keluar kelas. Siswa di kelasku tidak ada yang pulang karena akan ada jam pelajaran tambahan Matematika yang akan diajarkan oleh Bu Aisyah. Siang itu sangat terik sekali sehingga aku dan teman-teman memutuskan untuk tetap berada di dalam kelas sambil menunggu Bu Aisyah.

Tidak lama Bu Aisyah datang dan masuk ke dalam kelas. Namun, beliau tidak langsung memulai pelajaran. Beliau mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kelas. Ketika beliau melihat lantai, matanya menangkap sesuatu yang tidak beres di sana. Sampah! Ya, banyak sampah berserakan di lantai kelas. Maklum jam terakhir tadi adalah praktikum mata pelajaran Biologi. Kami memang malas membersihkan karena besok pagi juga akan ada petugas piket harian yang harus melaksanakan tugasnya.

Tanpa pikir panjang dan banyak bicara, Bu Aisyah langsung jongkok dan memunguti sampah tersebut satu per satu. Mulai dari meja guru, tempat terdekat dari posisinya berada sekarang. Kami sempat terbengong-bengong melihat apa yang dilakukan oleh Bu Aisyah. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Tanpa dikomando, kami langsung ikut memunguti sampah yang berada di sekitar kami. Selain itu, ada dua orang siswa yang berinisiatif untuk menyapu ruangan kelas. Dalam tempo lima belas menit, ruangan kelas menjadi bersih kembali.

“Nah, kalau bersih kan jadi enak belajarnya,” kata Bu Aisyah seraya merapikan pakaian dinasnya.

“Iya, Bu.” Kami menjawab serempak, tak ubahnya kelompok paduan suara.

“Jika kamu memberi tahu mereka, maka mereka hanya akan melihat gerakan bibirmu. Jika kamu menunjukkan kepada mereka, maka mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri.” Bu Aisyah kembali memberikan nasihat seperti biasanya. Pelajaran kehidupan ketiga dari Bu Aisyah yaitu keteladanan.

***

Hari ini pengumuman hasil Ujian Akhir Nasional (UAN). Pengumuman dipampang di mading sekolah. Dengan langkah gemetar dan badan mendadak panas dingin, aku mulai berjalan mendekati mading. Deg deg plas hati ini dibuatnya. Aku mulai menyusuri nama-nama siswa satu persatu, mulai dari yang berawalan huruf ‘A’. Beberapa menit kemudian, aku berhasil menemukan namaku di situ.

D A N I   R A S Y I D I : L U L U S

Alhamdulillah. Aku langsung melakukan sujud syukur. Beberapa temanku yang lulus juga melakukan hal yang sama denganku. Aku bergegas pulang ke rumah dan segera menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan ibu. Aku juga bilang kepada bapak dan ibu bahwa aku ingin sekali melanjutkan kuliah meskipun masih agak bingung juga mau kuliah di mana dan ambil jurusan apa. Ternyata bapak dan ibu lebih meminta diriku untuk bekerja saja dengan harapan dapat membantu orangtua dalam memperbaiki ekonomi keluarga. Bagai pungguk merindukan bulan. Aku sedih sekali karena keinginanku untuk kuliah kandas di tengah jalan. Tetapi aku juga menyadari kondisi keluarga yang bisa dibilang pas-pasan. Aku berada dalam dilema. Kuliah atau kerja. Sudah berhari-hari diri ini dilanda gamang dan bimbang. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.

Kabar ini terdengar juga sampai telinga Bu Aisyah dan beliau langsung mendatangi rumah untuk membantu mencarikan solusi masalahku. Bu Aisyah menemuiku dan kedua orangtuaku.

“Maksud kedatangan saya kemari mau silaturahim. Selain itu, saya juga ingin mengklarifikasi berita yang saya dengar. Katanya Dani ingin sekali kuliah tetapi bapak dan ibu tidak ada uang sehingga meminta Dani untuk bekerja saja. Betul, Pak, Bu?” Bu Aisyah memulai pembicaraan.

“Betul, Bu Aisyah. Kami juga sebenarnya merasa berat. Namun, kondisi perekonomian yang memaksa kami untuk mengambil keputusan ini.” Bapak membenarkan pertanyaan Bu Aisyah.

“Dani itu anak yang sangat pandai terutama dalam pelajaran Matematika. Sayang sekali kalau tidak melanjutkan kuliah. Menurut saya, Dani harus kuliah. Kalau boleh, saya minta izin kepada bapak dan ibu untuk membantu biaya kuliah Dani, mulai dari pendaftaran sampai wisuda nanti.” Bu Aisyah menawarkan solusi kepada bapak dan ibu.

Alhamdulillah.” Aku, bapak dan ibu mengucap syukur dengan serempak.

“Bagaimana cara kami membalas budi baik dari Bu Aisyah?” Tanya ibu.

“Kalian tidak perlu memikirkan hal tersebut. Biar Allah saja yang membalas.” Bu Aisyah menenangkan hati ibu.

“Saya selaku kepala keluarga di sini mengucapkan terima kasih banyak. Semoga Allah membalas dengan yang lebih banyak dan lebih baik lagi.” Bapak mengucapkan terima kasih dengan perasaan haru.

Aamiin.” Bu Aisyah meng-aminkan doa bapak. Pelajaran kehidupan keempat dari Bu Aisyah yaitu ketulusan.

***

Aku juga tak kuasa menahan haru dan rasa senang yang membuncah di dada. Aku memutuskan untuk mengambil jurusan Pendidikan Matematika dan bercita-cita menjadi guru Matematika yang hebat seperti Bu Aisyah. Beliau bukan hanya sekedar memberikan pelajaran Matematika tetapi juga pelajaran tentang kehidupan. Perjuangan yang dilakukannya tidak mengharapkan pamrih. Cukuplah kesuksesan anak didiknya menjadi hadiah paling berharga bagi pengabdiannya sebagai seorang guru. Terima kasih Bu Aisyah. Tunggulah aku dan akan kulanjutkan perjuanganmu.

“Sampaikanlah walaupun satu ayat.” (H.R. Bukhari)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Bayu Bondan
Bayu Bondan adalah nama pena dari penulis berkacamata ini. Setelah 4 tahun berguru kepada maestro angka, Alhamdulillah saya berhasil merengkuh toga gagah di kepala dan telah bekerja sebagai PNS di daerah Jakarta Pusat. Di sela-sela kesibukan aktivitas sehari-hari, saya mulai sedikit berpaling dari angka dan mencoba berteman dengan aksara. Biarkan saja pena menari dan lihat saja hasilnya nanti.

Lihat Juga

Meraih Kesuksesan Dengan Kejujuran (Refleksi Nilai Kehidupan)

Figure
Organization