Topic
Home / Berita / Opini / Jangan Ada Dusta di Antara Kita (Antara Rakyat dan Pemerintahan)

Jangan Ada Dusta di Antara Kita (Antara Rakyat dan Pemerintahan)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat kabinet.  (detik.com)
Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat kabinet. (detik.com)

dakwatuna.com – “Rezim Pencitraan” adalah frasa yang tepat dijadikan laqob untuk pemerintahan Joko Widodo. Bukan apa-apa, sejak awal dia dikenal masyarakat Indonesia hingga sekarang menjadi presiden, pencitraan-pencitraan atas dirinya terus disebar melalui media. Sebenarnya tidak masalah dengan pencitraannya, tapi ketidaksesuaiannya dengan fakta di lapangan lah yang jadi masalah bagi kita.

Sebuah I’tikad dan perilaku yang baik dan mendukung rakyat sebenarnya akan terlihat sendirinya, jika itu benar-benar ada tanpa perlu pencitraan. Begitu juga menuju Istana Negara tak perlu menggambarkan visual pribadi (Jokowi) oleh sebuah frasa atau kalimat. Tapi itu menjadi fair-fair saja jika apa yang dicitrakan sesuai dengan fakta, apa yang diangkat ke media harus selaras dengan nyatanya, apa yang dijanjikan saat kampanye harus benar-benar yakin akan terlaksana.

Tapi sayang itu semua tidak ada di rezim ini. Pencitraan tinggal pencitraan, janji tinggal janji. Semua hilang dimakan banjir di istana Negara Jakarta. Orang-orang paham mempertanyakan sejak awal, mahasiswa mulai bergerak dengan #20Mei, pada akhirnya rakyat awam sadar akan pembodohan yang dilakukan pemimpinnya melalui pencitraan.

Pencitraan yang akut yang sangat membingungkan dan menipu.

Pemilu yang diharapkan menjadi awal perubahan Indonesia lebih baik, justru menjadi malapetaka. Alih-alih membela rakyat kecil dan mengangkat ekonomi negara. Segala bentuk janji diumbar tanpa hijab, dengan polosnya media menggambarkan kemegahan janji itu. akhirnya janji pro rakyat itu diringkus habis bahkan tanpa sisa dengan karung-karung kepentingan politik.

Janji manis kampanye kini sudah tak laku, pencitraan saat kampanye juga tak laris. Karena bukan itu semua yang kami butuhkan, bukan bajaj yang kau tumpaki, bukan juga langkah kaki mu di gorong-gorong. tapi kepastian atas strategi dari tumpukan janji-janji yang membual dari mulut seorang pemimpin Negara. Yang kita inginkan itu tranparasi pemerintahanmu. Yang kita harapkan itu Indonesia terus berkembang dan maju. Yang kita tunggu itu kemaslahatan rakyat.

Satu frasa yang pernah fenomenal di indonesia “jangan ada dusta di antara kita” bisa menjadi kaidah untuk keberlangsungan hidup sejahtera rakyat kita. Rakyat memilih sesuai hati nuraninya, capres sadar akan kemampuannya, tidak ada kepentingan politik yang memalingkan kepentingan rakyat, dahulukan pertiwi dari pada asing. Indonesia oleng karena dusta-dusta dari segudang pencitraan. Dan semuanya jadi ambigu, rakyatpun kebingungan dalam ketidaktahuan berkat pencitraan dan dalam kesengsaraan.

Kini tabir sudah terbuka. Hampir semua kalangan telah terbangun dari mimpi citra Jokowi. Rakyat sudah mengantongi hal-hal yang dulu membodohinya, kajian mahasiswa menghasilkan hashtag #GULINGKANJOKOWI dan #RAPORMERAHJOKOWI yang ramai dan turunnya SP 1 dari BEM SI dengan perencanaan 20 Mei sebagai puncak aksi seluruh Indonesia. Tak lama presiden meminta waktu untuk membenahi negeri carut marut ini, toh katanya beliau menjabat presiden belum sampai kurun waktu satu tahun, meminta diberi kesempatan untuk mempebaiki.

Tapi pencitraan bukan lagi langkahmu untuk kembali menghancurkan harapan kami. Apa tidak cukup kurun waktu yang sudah anda lewati di kursi presiden untuk meperburuk negeri ini? Atau masih ada proyek lain yang akan diiklankan kepada kami melalui media-media? Atau jangan-jangan alarm penghancuran negeri ini sudah berdering, dan butuh visualisasi dari janji manismu hingga rakyat kembali tertarik dan memberikan perpanjangan waktu bagimu? Ini semua dusta.

Hentikanlah pencitraan dan kedustaan serta perangkatnya. Presiden itu sejarah bagi kita , apakah rela jika dalam buku sejarah anak cucu kita nanti tersurat “Presiden ke-7 Indonesia : Bapak Pencitraan” setelah sebelumnya ada bapak bangsa Indonesia, bapak pembangunan indonesia, bapak teknologi indonesia dan bapak demokrasi indonesia. Sangat mungkin Bapak Pencitraan itu ada, mengingat julukan bagi presiden-presiden sebelumnya melihat dari tragedi kepemimpinannya. Dan tragedi pencitraan itu di hadapan kita sekarang.

Tidak ada pencitraan, tidak ada pendustaan publik maka tidak ada bapak pencitraan dalam buku sejarah kita nantinya. #GULINGKANJOKOWI dan #RAPORMERAHJOKOWI itu tidak berasas pada kebencian dan dendan pada seorang Jokowi semata. Tapi , ada hal yang harus diprioritaskan, itu adalah negeri kita. Negeri yang tidak bisa dibangun dengan hanya pencitraan tanpa fakta dan kepentinga asing. Dan hanya bisa dibangun dengan transparasi dan tiada dusta antara pemimpin dan rakyat.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Azhar Fakhru Rijal, Mahasiswa Mahad Aly Annuaimy dan Anggota FLP Jakarta, pernah juga menjadi pimred madding Al-Furqon Post (ponpes Alfurqon).

Lihat Juga

Buah Impor

Cina Masih Jadi Sumber Impor Nonmigas Pemerintah

Organization