Home / Berita / Surat Pembaca / Puspo Wardoyo: Tegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Kepada Yusuf Mansur

Puspo Wardoyo: Tegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Kepada Yusuf Mansur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Puspo Wardoyo (inet)
Puspo Wardoyo (inet)

dakwatuna.com – Gerakan Hari Sedekah Nasional 27 April yang didengungkan Ust. Yusuf Mansur dengan mengajak para pengusaha bersedekah itu mendapat tanggapan beragam dari para pengusaha. Ada yang menanggapinya positif dan ada juga yang memberi catatan pada gerakan ini, salah satunya datang dari pemilik jaringan rumah makan nasional Wong Solo Group, Puspo Wardoyo. “Bersedekah sudah merupakan bagian dari hidup saya pribadi, keluarga, karyawan dan perusahaan saya setiap hari. Hanya saja, saya memberi catatan kepada Yusuf Mansur yang mencanangkan gerakan itu”, demikian kata Puspo Wardoyo yang ditemui penulis di rumahnya di Jalan Sentra Indah, Bandung Ahad (3/5).

Menurut Puspo Wardoyo, dia merasa perlu untuk memberikan catatan kepada gerakan-gerakan Ust. Yusuf Mansur untuk mengingatkan masyarakat. Puspo Wardoyo kemudian mencontohkan, perhatikan setiap ajakan sedekah dari Ust. Yusuf Mansur selalu lampirkan nomor rekening PPPA Darul Qur’an. Pada ceramahnya jamaah diajak untuk bersedekah kepadanya dan didoakan. Ini sama saja dengan mendidik masyarakat untuk bersedekah yang tidak afdhal. Sedangkan sedekah itu sudah jelas peruntukannya, yakni dari keluarga terdekat dan seterusnya. Puspo Wardoyo kemudian mengutip sebuah hadits Rasulullah yang menerangkan urutan-urutan orang yang berhak menerika sedekah dari kita. “Jadi, jika di antara kerabat kita masih ada yang membutuhkan bantuan finansial, kita harus memperhatikan mereka lebih dahulu”, jelas Puspo.

Sedekah itu bukan melulu harus uang seperti definisi Ust. Yusuf Mansur selama ini. Menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah, memberi senyum adalah sedekah. Sedekah, menurut Puspo, diperuntukkan kepada siapa pun yang membutuhkan dan tidak perlu minta didoakan oleh Yusuf Mansur. “Peringatan ini juga merupakan kewajiban moral. Saya juga ingatkan bahwa saya pernah didekati Yusuf Mansur untuk bekerja sama denganya, namun akhirnya sungguh di luar dugaan saya, saya sangat kecewa”, tandas Puspo.

Puspo Wardoyo memberikan beberapa kritikan terhadap cara-cara Ust. Yusuf Mansur dalam mengajak orang bersedekah. Dia berani menggaet jamaah memberikan hartanya sekaligus memberikan jaminan akan dilipatgandakan harta yang disedekahkannya dalam waktu yang singkat, seperti slogan ‘Keajaiban sedekah 7 hari’. Ust. Yusuf Mansur memberikan nomor teleponnya supaya jamaah menyampaikan informasi, bahwa dalam waktu singkat ada yang berubah dalam hartanya.

Lebih lanjut Puspo menyatakan, “Saya memang tidak punya hak dan kemampuan menghentikan gerakan Yusuf Mansur, hanya saja saya meminta agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih dan memilah saluran bersedekah. Jika bersedekah kepada personal atau lembaga harus melihat apakah orang atau lembaga itu dikelola secara baik dan benar atau tidak, diurus oleh orang-orang yang amanah atau tidak, para pengurusnya punya catatan kriminal atau tidak, dan lembaga itu diaudit secara transparan atau tidak.”

Oleh karena itu, Puspo Wardoyo meminta kepada pemerintah maupun ulama serta lembaga-lembaga keuangan resmi untuk segera mengaudit keuangan Yayasan Daarul Quran yang dibentuk Ust. Yusuf Mansur dan lembaga-lembaga yang dibentuk. Sudah saatnya kita tegakkan amar ma’ruf nahi mungkar kepada Ust. Yusuf Mansyur,” demikian Puspo Wardoyo. (darso/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lahir di Papela, Kec. Rote Timur, Kab. Rote Ndao. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan Bahagia, Bekasi. Pernah di redaksi Majalah Warnasari (Pos Kota Group) dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Lihat Juga

MK, Sosial Media dan Etalase Demokrasi