Topic
Home / Berita / Daerah / PKS Tolak Sertifikasi PSK oleh Pemprov DKI

PKS Tolak Sertifikasi PSK oleh Pemprov DKI

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja Purnama alias Ahok. (tempo)
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja Purnama alias Ahok. (tempo)

dakwatuna.com – Jakarta. Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang akan melegalkan prostitusi dengan melokalisir disebuah tempat dan memberikan sertifikasi Pekerja Seks Komersil (PSK) ditentang keras sejumlah kalangan, termasuk Anggota Legislatif Jakarta, Tubagus Arif dari Fraksi PKS, Selasa (28/4) di Gedung DPRD, Kebon Sirih Jakarta.

Politikus PKS asal Jakarta Utara ini mengatakan, meskipun Jakarta termasuk kota besar di dunia, namun tidak mesti semuanya bisa bebas. Indonesia, khususnya Jakarta masih menghormati adat istiadat, nilai-nilai agama yang dijunjung tinggi sebagai pilar dari Pancasila itu sendiri.

“Ada sila pertama Pancasila yang harus kita pegang dan hormati bersama, dengan itu seharusnya pemprov DKI tidak mengeluarkan ide-ide yang kontroversi, karena ini akan bertentangan dengan seluruh agama dan untuk urusan ini semua agama jelas melarang,” kata Tubagus dalam siaran tertulisnya kepada dakwatuna.com, Rabu (29/4).

Tubagus menilai, pemprov DKI seperti meniadakan lembaga-lembaga keagamaan dan tokoh agama di Jakarta untuk diajak berdiskusi pada isu yang dampak buruknya langsung diterima masyarakat, “Seharusnya sebagai pemimpin, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta mengundang diskusi sejumlah pihak, bukan langsung melontarkan ide liar seperti ini,” ujar anggota Komisi Kesejahteraan Rakyat DPRD DKI Jakarta.

Dahulu jaman Gubernur Ali Sadikin melokalisir Kramat Tunggak yang awalnya menjadi tempat lokasi rehabilitasi sosial, yang kemudian disalahgunakan menjadi lokasi prostitusi, akhirnya membawa dampak yang luarbiasa pada lingkungan sekitar, padahal lokasi tersebut berada diutara Jakarta yang saat itu masih sepi, hanya ada hutan dan laut, dan kini sudah menjadi Jakarta Islamic Center. Saat ini di Jakarta semua lahan telah penuh dengan penduduk, nyaris tidak ada lahan kosong dan tentunya akan lebih besar lagi dampak negatif yang akan diterima masyarakat Jakarta jika lokalisasi prostitusi tersebut dibangun.

Tubagus menyarankan pemprov DKI fokus saja dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), pemprov DKI sudah seharusnya melakukan sesuatu untuk warga Jakarta menjadi sejahtera, kotanya menjadi nyaman dan aman untuk dihuni, “Di RPJMD tidak ada lokalisasi dan sertifikasi untuk PSK, fokus saja pada RPJMD yang sudah ada, jangan selalu mengeluarkan ide liar yang kontroversi, karena ini dapat menimbulkan konflik horisontal kedepannya,” pungkasnya. (abr/dakwatuna)

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Halal Bihalal Salimah bersama Majelis Taklim dan Aa Gym

Figure
Organization