Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Pujian, Berupa Madu atau Racun?

Pujian, Berupa Madu atau Racun?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Sifat sombong (blogspot/muslimmulia)
Ilustrasi – Sifat sombong (blogspot/muslimmulia)

dakwatuna.com – Pujian adalah bentuk penghargaan kita kepada orang lain dengan mengapresiasi karyanya baik dalam bentuk sanjungan, pemberian hadiah, atau perlakuan spesial lainnya. Dalam banyak teori motivasi yang berkembang seperti teori yang dikemukakan Abraham Maslow bahwa memberikan pujian dapat menjadi dorongan positif kepada seorang untuk bekerja lebih keras. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin perusahaan memberikan pujian kepada bawahannya untuk meningkatkan produktivitas bawahannya. Tapi benarkah pujian akan selalu dapat memberikan dampak positif bagi seseorang?

Rasulullah adalah seseorang yang paling berhati-hati dalam memberikan pujian. Rasulullah SAW pernah bersabda:

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR. Bukhari)

Kehati-hatian Rasulullah dalam memberikan pujian tentunya beralasan, pujian dapat menjadi racun bagi hati seseorang dan menjauhkannya dari keikhlasan. Ketika hati kita mulai gandrung akan pujian, maka setiap amal yang kita lakukan hanya akan menjadi amalan sia-sia, amalan riya’ yang bukannya diniatkan untuk Allah tapi untuk memperoleh pujian orang lain. Shalat yang biasanya dilakukan dalam waktu 5 menit, mendadak menjadi sangat khusyuk dan lama ketika shalat kita dilihat orang lain merupakan contoh sederhana bagaimana riya’ dapat merusak ibadah kita. Dampak negatif dari pujian secara umum ada 2 yaitu menjadikan kita riya’ dan sombong. Riya’ akan membuat ibadah-ibadah kita tertolak dan menghilangkan keberkahannya sedangkan kesombongan akan menjerumuskan kita ke neraka.

Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari bahaya pujian:

  1. Sadar bahwa semua pujian hanyalah milik Allah

Di ayat pertama surat Al Fatihah sudah jelas disebutkan “Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam”. Maka segala pujian itu selayaknya hanya untuk Allah. Sehingga, ketika kita menerima pujian, maka kita bersegeralah mengingat Allah dan mengembalikan pujian itu kepada Allah.

A: “Anak ibu pintar sekali ya, bisa masuk PTN terkenal!”

Jawaban orang yang sombong

B: “Habis gimana ya, kecerdasan kan memang turun dari orang tuanya”

Jawaban orang yang ikhlas

C: “ Alhamdulillah, Allahlah yang mengkaruniakan kami dengan anak yang cerdas”

Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876)

  1. Sadar bahwa kita dipuji karena Allah masih berkenan menutupi aib, dosa, kejelekan, dan kekurangan kita

Jika kita sering bermuhasabah, merenungi akan lebih berat mana kebaikan atau dosa yang kita lakukan maka kita akan terhindar dari bahaya pujian. Karena sesungguhnya, orang yang memuji kita itu hanya tahu sedikit dari pribadi kita yang sesungguhnya, Allahlah yang maha tahu aib kita, dosa-dosa kita, kejelekan, dan kekurangan kita. Jika Allah tidak maha baik untuk menutupi aib-aib kita niscaya bukanlah pujian yang akan kita dapatkan tapi malah cercaan dan dijauhi oleh orang lain. Mencoba untuk sering mengulang pertanyaan pada diri sendiri tentang siapa yang menciptakan kita?, Siapa yang menjamin rezeki kita? Siapa yang memberikan kemuliaan?, Siapa sang pemilik surga?, juga akan membantu kita menghindari sikap gila pujian.

  1. Hanya berharap pada pujian Allah

Ketika manusia makin ingin dipuji, makin ingin dihargai, makin ingin dihormati, maka makin ia sering sakit hati. Maka agar kita tak mudah sakit hati, hanyalah berharap pada Tuhan Yang Maha Memberi.

Memuji dengan kadar yang pas dapat menjadi sebuah motivasi yang baik bagi sesorang, namun ketika diberikan secara berlebihan dan tidak sesuai dengan tempatnya pujian dapat menjadi racun bagi hati. Berhati-hati ketika menerima pujian dan segera mengingat kepada Allah adalah perbuatan bijak yang dapat kita lakukan untuk menghindari bahaya pujian.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa S1 Ilmu dan Teknologi Lingkungan semester ke 6. Saat ini mendapatkan amanah sebagai ketua LDF JIMM (Jamaah Intelektual Mahasiswa Muslim). Sangat tertarik pada dunia islam, sehingga ingin turut andil dalam berkontribusi memeriahkan media islam dan sekaligus berbagi ilmu kepada masyarakat.

Lihat Juga

Rusia Usir 23 Diplomat Inggris dari Moskow

Figure
Organization