Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mendongeng di Tengah Sawah dengan Boneka Kertas

Mendongeng di Tengah Sawah dengan Boneka Kertas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Nurhasanah)
Ilustrasi. (Nurhasanah)

dakwatuna.com – Aku adalah salah satu dari 29 orang Relawan Sekolah Guru Indonesia dan ditugaskan di SDN Sindangresmi 2. Sekolah Dasar tersebut terletak di Kampung Lebak Gedong Desa Sindangresmi Kecamatan Sindangresmi Kabupaten Pandeglang.

Aktivitasku setiap paginya mengajar di sekolah dan sorenya aku mengadakan program Istana Anak. Istana Anak adalah kegiatan di mana anak-anak di wilayah atau di sekitar sekolah diajak bermain sambil belajar. Kegiatan ini disebut juga sebagai kegiatan memanfaatkan waktu bermain anak-anak agar mereka produktif. Tidak hanya membuang waktu mereka dengan sia-sia, tetapi belajar bagaimana mereka agar lebih cerdas dan pintar.

Tepat pukul 14.00 WIB setiap senin-kamis aku mengadakan program istana anak. Ini sudah menjadi hal yang rutin bagiku. Setiap pulang sekolah pukul 12. 10 WIB, aku beristirahat sejenak melepaskan kepenatan dan kelelahan berjalan dari sekolah ke rumah induk semangku. Memang, rumah induk semangku tidak terlalu jauh dari sekolah. Hanya berkisar 200 meter saja. Tetapi jalanan yang becek membuatku harus berhati-hati dalam melangkah, karena aku takut terjatuh. Akhirnya akupun memutuskan untuk menghitung waktu kepergian dari sekolah ke rumah. Ternyata setelah dihitung lama perjalananku 4 menit. Bayangkan 200 meter jarak yang ditempuh dengan waktu tempuh 4 menit. Lumayan menyita waktu juga untuk berjalan.

Sebelum pulang sekolah, anak-anak di Sekolahku selalu menyapa dan menghampiriku. Kemudian bertanya layaknya ingin mendapatkan jawaban yang pasti dari ku.

“Bu, hari ini sekolah sore?” Tanya salah seorang siswaku.

“Ya nak, sekolah, jam 2 Siang ya. Seperti biasa.” Jawabku meyakinkannya.

“Ya bu,” Jawabnya penuh dengan kegirangan.

07 April 2015 menjadi hari yang spesial untukku. Alhamdulillah, akhirnya aku sudah menyelesaikan boneka kertas yang sudah aku buta di hari minggunya, 05 April 2015.

Sepulang dari mengajar di sekolah, seperti biasa aku duduk sebentar meredamkan kelelahan di saat berada di sekolah. Merefleksikan otot-ototku yang sudah mulai lelah. Namun sejenak aku berpikir ada gambar di Selembar kertas HVS jenis A4 yang sudah aku gambar. Tetapi aku belum menyelesaikannya sama sekali. Dan akhirnya aku putuskan untuk menyempurnakan gambar tersebut dengan cara mewarnai dan menebalkan warnanya agar terlihat hidup dan menarik.

Tak butuh waktu yang lama, hanya berkisar 1 jam saja untuk bisa mewarnainya dengan rapi. Aku menggunakan crayon sebagai colouringnya. Setelah di crayon, aku memberikan lem fox agar terlihat mengkilap.

Di saat aku sedang mewarnai gambarku, tiba-tiba datanglah dua orang muridku dan mereka bertanya kepadaku. Mereka adalah Irpan dan Agus. Irpan adalah muridku kelas III dan Agus adalah muridku juga kelas IV. Mereka adalah anak yang selalu hadir ketika Istana Anak dilakukan. Mereka adalah anak yang baik dan rajin. Tak perlu diragukan lagi mereka itu adalah muridku yang juga pintar.

“Lagi ngapain bu?” tanya Irpan kepadaku.

“lagi bikin boneka kertas ini, jawabku.

“Ooh, tungkas keduanya.

Setelah selesai membuat boneka lalu aku pun melihat jam dinding. Ternyata sudah hampir jam 2 siang. Akupun bergegas mempersiapkan buku Tajwid, Absen dan membawa boneka kertas yang sudah jadi tadi.

Aku datang ke sekolah, di ruangan kelas III biasanya aku dan murid-muridku belajar. Seperti biasa aku mengajarkan ilmu tajwid dan kamipun belajar tadribat. Kami terus berlajar, lalu akupun melihat ke langit, dan ternyata, hujan. Gerimis membuat semangatku menurun. Tetapi melihat wajah anak-anak yang semangat akupun mengatakan sesuatu kepada mereka.

“Belajar di Saung di tengah sawah yuk, “ ajakku.

Suaraku terdengar kegirangan sambil mengajak anak-anak yang sontak menjawab Ya sambil melompat kegirangan dengan meluapkan ekspresi mereka.

“Ye,…Hooreee……” jawab mereka serentak.

Melihat mereka seperti itu, aku pun tak tega. Aku berdo’a semoga saja Allah mencerahkan langit kembali. Tiba-tiba, hujanpun reda, akupun dengan penuh semangat mengajak mereka keluar untuk pergi ke saung. Mereka berlarian sambil keluar dari kelas. Lalu aku memberi aba-aba kepada mereka untuk tidak berlarian seperti tadi, aku khawatir mereka akan terjatuh, karena jalanan becek dan licin kembali.

Kamipun berjalan melewati rumah warga dan akhirnya sampai jua di sawah dan melihat pemandangan alam nan indah itu, rasanya semakin lengkap perasaanku kala itu. senang melihat anak-anakku yang luar biasa semangatnya, bahagia aku dapat menyelesaikan boneka kertasku. Apalagi ini sudah aku rencakan dari bulan-bulan lalu.

Sampailah pada salah satu saung milik warga. Kami pun duduk, kemudian akupun mulai memainkan dongengku. Dengan mengatakan kata kunci “teman baru” mereka jadi penasaran apa yang menjadi teman baruku.

“Ibu punya teman baru ini, mereka mau kenalan dengan kalian. Ada yang mau kenalan?” Tanyaku kepada anak-anak.

Naon bu, “ ujar salah seorang muridku menggunakan bahasa daerah mereka Bahasa Sunda.

Untungnya aku tahu artinya bahasa tersebut. Dan akupun menjawab, “ini dia, teman baru ibu,” ujarku sambil mengeluarkan boneka kertas dari dalam tasku.

“Ikannya lucu,” lirih Eka murid kelas V ku yang selalu hadir disaat istana anak.

“Ini namanya Momo (Ikan Anemon/Badut), yang ini Jerry (Ikan Lentera) dan ini siapa? (Sambil menunjuk), “ujarku semangat.

“Patrick bu (Bintang Laut),” jawab mereka serentak.

Kemudian akupun mulai berdongeng tentang si Jerry yang sombong. Jerry adalah ikan lentera yang bisa menerangi dikegelapan. Karena kesombongannya Jerry tidak mau berteman dengan Patrick dan Momo. Padahal kedua sahabatnya selalu ada untuknya. Suatu ketika Jerry terjerat rumput lau di dasar laut. Kemudia dia meronta-ronta sambil meminta tolong. Tapi tak ada yang mau menolongnya.

Kemudia datanglah kedua sahabatnya tersebut. Dan melepaskan ikatan rumput laut.

“Kenapa kau bisa terjerat rumput lau Jerry?” tanya Momo.

“Tiba-tiba saja lenteraku mati dan aku tidak bisa melihat ke dasar laut. Akhirnya aku terjerat di semak rumput laut. Sirip ekorku patah akibat rumput yang sudah mengikatku.” Ujarnya dengan nada lirih.

Dengan suara yang sedih, diapun meminta maaf kepada kedua sahabatnya. Dia berjanji untuk tidak mengejek dan menyombongkan dirinya kembali.

“Pesan yang dapat kita ambil dari cerita tadi adalah jangan menjadi orang yang sombong, karena kalau kita sombong, maka kita tidak akan punya teman yang banyak,” ujarku memberikan kesimpulan dongeng tadi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku dan murid-muridku segera bergegas untuk pulang. Kamipun pulang dengan hati gembira sambil bernyanyi di tengah sawah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Relawan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Penempatan Kab. Pandeglang-Banten.

Lihat Juga

Relawan Nusantara Jakarta Timur Gelar Indonesia Mendongeng 6