Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Nasihat Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk Persahabatan

Nasihat Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk Persahabatan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

dakwatuna.com – Kita pasti menginginkan persahabatan yang kita bina ini tidak hanya memberi manfaat di dunia saja, tapi juga memberikan kebaikan yang besar di akhirat kelak. Kita adalah manusia yang beriman pada hari akhir dan kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Jadi, betapa indahnya jika kita bisa mengamalkan nasihat yang diberikan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib ini di dalam kehidupan keseharian dan persahabatan kita.

Pertama, berjalanlah menuju akhirat, tinggalkan dunia. Khalifah Ali bin Abi Thalib menasihatkan, “Sesungguhnya aku berjalan menuju akhirat yang ada di hadapanku, aku meninggalkan dunia yang ada di belakangku. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, bukan anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini (dunia) adalah amal tanpa hisab, sedangkan nanti (akhirat) adalah tanpa amal.”

Sesungguhnya di setiap pergantian waktu, usia kita berkurang. Kita mesti menyadari betul bahwa ada jatah waktu yang diberikan oleh Allah untuk kita gunakan selalu untuk menyiapkan bekal menuju akhirat. Dunia hanya persinggahan untuk menghimpun bekal. Dunia adalah ladang untuk menyemai amal yang akan dipanen buahnya nanti di akhirat.

Tenggelam di tengah lautan nikmat dunia adalah kebinasaan, tapi alangkah indahnya bila bisa menyelami samudera nikmat itu untuk menemukan kemanfaatan. Sungguh indah. Itulah sebabnya, ketika kita membina hubungan persahabatan dengan sesama, hendaknya kita punya prinsip; kita bersahabat untuk tolong-menolong dalam mempersiapkan bekal kita menuju akhirat.

Kedua, ikhlaslah dalam beramal. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Tidak perlu banyak bicara tentang kebaikan-kebaikanmu. Sebab orang yang mencintaimu tidak memerlukannya. Orang yang membencimu tidak mempercayainya.”

Ada orang yang beramal karena ingin dilihat oleh orang lain (riya’). Ada orang yang beramal karena ingin didengar oleh orang lain (sum’ah). Dan, yang terbaik adalah orang yang beramal semata karena ingin mendapatkan ridha Allah (ikhlas). Balasan yang didapat oleh dua golongan pertama hanya akan ia rasakan di dunia, itu pun belum tentu. Bagi golongan ketiga, mereka akan mendapatkan balasan yang besar di dunia, apalagi di akhirat.

Ketiga, “sahabatmu” belum tentu sahabatmu. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah ditanya, “Berapa orangkah sahabat sejatimu?” Jawab beliau, “Aku tidak tahu. Tungguhlah nanti ketika aku sedang kesulitan, lalu lihatlah berapa orang yang masih setia membersamaiku. Itulah sahabat sejatiku.”

Persahabatan bukan wadah untuk mendapatkan keuntungan semata. Tapi, simbiosis mutualisme. Kita harus menyumbangkan manfaat dari masing-masing pihak, lalu berbagi. Bukan untung sepihak, rugi di pihak lain. Itu akan terlihat manakala ada pihak yang sedang ditimpa kesulitan, bila ternyata selama ini orang yang bersahabat dengannya masa bodoh, acuh tak acuh, tidak peduli, itu bukanlah sahabat sejatinya.

Nah, sudahkah engkau mengenali siapa saja sahabat sejatimu?

Tulisan ini terinspirasi dari buku Islami “Cahaya untuk Persahabatan (Quanta; 2015)”.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Sebuah Nasihat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Figure
Organization