Topic
Home / Berita / Nasional / Bank Muamalat Indonesia dan Baitulmaal Muamalat gelar Seminar Nasional Kemanusiaan Disaster Risk Reduction

Bank Muamalat Indonesia dan Baitulmaal Muamalat gelar Seminar Nasional Kemanusiaan Disaster Risk Reduction

Penyerahan bantuan kemanusiaan dari Bank Muamalat kepada Pemprov Jawa Barat.  (Neneng/BMM)
Penyerahan bantuan kemanusiaan dari Bank Muamalat kepada Pemprov Jawa Barat. (Neneng/BMM)

dakwatuna.com – Jakarta. Pengurangan resiko bencana adalah salah satu sistem pendekatan untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana. Tujuan utama dari mengurangi resiko bencana yakni membangun kembali dan mengokohkan bidang-bidang yang ada, diantaranya:  bidang agama, sosial, ekonomi, teknologi dan juga lingkungan alam.

Sejak tahun 1970 evolusi pemikiran dan praktek manajemen bencana telah mengalami kemajuan pengertian yang semakin luas dan dalam tentang mengapa bencana alam terjadi, disertai oleh pendekatan dan analisa secara menyeluruh yang lebih terfokus untuk mengurangi resikonya pada masyarakat. Paradigma manajemen modern dengan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) merupakan langkah terbaru meningkatkan kesiagaan menghadapi resiko sebelum maupun pasca bencana. Konsep ini telah diimplementasikan langsung oleh Negara Jepang pada bulan Maret tahun 2015.

Memasuki awal tahun 2014, Indonesia mengalami beberapa bencana besar berupa air bah atau banjir bandang yang menerjang Manado, Sulawesi Utara. Sebanyak 19 orang tewas tersapu air bah pada 15 Januari 2014 tersebut, ratusan rumah serta harta benda warga hilang terbawa arus banjir bandang. Sepanjang 2014, peristiwa gunung meletus merajai bencana alam terdahsyat di Indonesia. Dimulai dari erupsi Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara, hingga erupsi Gunung Sangeang di Bima, Nusa Tenggara Barat, tak hanya menimbulkan kerugian materi, letusan gunung juga menelan korban jiwa yang tak sedikit jumlahnya. Jelang tutup tahun 2014, bencana dahsyat kembali menghentakkan rakyat Indonesia. Tanah longsor yang menimbun Desa Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara pada Jumat 12 Desember 2014 sore itu menyisakan pilu yang mendalam bagi para keluarga korban. Diperkirakan 108 orang tertimbun material longsor dan  97 korban jiwa ditemukan tewas (Liputan 6, 26/12/2014).

Pada awal tahun 2015, Provinsi Jawa Barat memiliki potensi rawan bencana banjir maupun longsor. Upaya prepentif yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan mensosialisasikan pengurangan resiko tersebut kepada masyarakat setempat. Melalui sosialisasi ini diharapkan dapat mencapai tujuan dengan optimal. Adapun tujuan dari Sosialisasi Pengurangan Resiko Bencana adalah memberikan Pengetahuan dan Wawasan kepada masyarakat khususnya tentang tindakan prefentif, tindakan emergency dan rehabilitasi bencana.

Sebagai komitmen membangun tindakan siaga bencana, Bank Muamalat bersama Baitulmaal Muamalat dibantu DPW Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Megapolitan menggelar seminar nasional kemanusiaan “Disaster Risk Reduction”, Unite For Humanity. Bertempat di Aula Muzdalifah, Asrama Haji Jawa Barat Jl. Jend A Yani 22, Kayuringin Jaya, Bekasi, Jawa Barat dari Pukul 09.00 – 14.00 WIB. Sabtu,  (18/04/2015).

Ahmad Heryawan selaku Gubernur Jawa Barat di dapuk sebagai Key Note Speaker. Seminar ini juga diisi oleh beberapa narasumber dengan beragam materi diantaranya pemaparan materi tentang manajemen kebencanaan (disaster manajemen) oleh Bapak Suyatno (Deputi Perencanaan dan Diklat ) BASARNAS, peran ilmu teknologi dalam mengatasi problem kemanusiaan oleh Tri Mumpuni (Direktur IBEKA), dan Sustainable Business and Corporate Social Responsibility (CSR) oleh Yuri Pratama (CEO dan Founder Urchindonesia). Dalam acara ini turut digelar pemutaran film tentang kemanusiaan serta penyerahan secara simbolik bantuan sebesar 1 milyar rupiah dari Bank Muamalat kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Tahun ini, melalui program Aksi Tanggap Muamalat (ATM) berupaya untuk memiliki SDM yang telah dibekali dengan skill Ke-Relawanan dan kegiatan emergensi, rehabilitasi dan recovery sebagai salah satu upaya kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, pembangunan karakter, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Tentunya diperlukan sinergi dari Pimpinan Pemerintah setempat agar tujuan dan capaian yang dicanangkan dapat berjalan dengan baik.

Upaya-upaya tersebut dibuat dalam bentuk pengurangan kerentanan dan meningkatkan Ketahanan Bencana, maka masyarakat harut kuat secara ekonomi, sosial dan memiliki kapasitas pribadi yang baik.  Diharapkan melalui seminar ini dapat memberikan pembekalan dan wawasan kepada peserta untuk bijaksana dalam menyikapi bencana, meningkatkan kepedulian peserta dengan lingkungan sekitar dalam upaya penanggulangan bencana terutama upaya pengurangan resiko bencana, meningkatkan peran aktif masyarakat dalam upaya pemerintah daerah untuk penanggulangan bencana, membangun kemandirian masyarakat dalam upaya yang lebih preventif dalam penggulangan bencana, menghasilkan rekomendasi bagi gerakan kemanusiaan di masa mendatang dalam aksi kemanusiaan, serta mengetahui bagaimana Peran Ilmu dan Teknologi dalam mengurangi dampak bencana salah satunya early warning system. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Tujuh Kompleks Pengungsi Sulteng Diresmikan ACT

Figure
Organization