Home / Berita / Daerah / Terancam Dipecat Pemprov DKI, Ini Penjelasan Kepsek SMAN 3

Terancam Dipecat Pemprov DKI, Ini Penjelasan Kepsek SMAN 3

Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Jakarta, Retno Listyarti.  (kompas.com)
Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Jakarta, Retno Listyarti. (kompas.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3, Retno Listyarti yang diduga keluyuran saat sekolah yang dipimpinnya tengah menjalankan Ujian Nasional (UN) akhirnya buka suara. Retno membantah kabar itu, dirinya mengaku berada di sekolah seharian.

Wanita yang juga menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) itu menjelaskan, awalnya dia mendapat tawaran dialog dari sebuah stasiun TV swasta di SMAN 70, Jakarta Pusat, dengan kapasitas sebagai aktivis guru bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan. Namun mendadak, lokasi wawancara dipindahkan ke SMA 2 Taman Sari, Jakarta Pusat.

Retno menerima tawaran wawancara lantaran waktu acara dialog dilakukan di luar jam pelaksanaan UN. Dia juga mendapat kabar Menteri Anies juga menyepakati acara dialog yang dilakukan selama 20 menit itu.

“Kenapa saya mau di SMA 70? karena itu rayon saya, pagi-pagi saya selalu datang mengambil soal, sama staf saya,” ujar Retno di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (18/4/2015) dikutip dari Metrotvnews.com

Setelah mengambil lembar soal, Retno kemudian kembali ke sekolahnya dan dijemput kru stasiun TV untuk berangkat ke SMAN 2. Namun, kondisi berubah ketika Presiden Joko Widodo dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melakukan peninjauan ke SMAN 2.

Dari situ, Retno dianggap tak menjalankan tugas sebagai pendidik karena mementingkan kapasitasnya sebagai aktivis guru.

“Ternyata berubah di pagi hari, ketika itu pindah ke SMA Negeri 2 karena Jokowi mau ke sana, saya gak tau kalau ada Jokowi, ada Ahok juga, saya tak tahu, tapi bahwa saya murni akan talk show sama seorang menteri, dan saya mau bicara soal pendidikan, pendidikan yang mana? kebocoran UN,” tegasnya.

Acara dialog usai, Retno pun kembali ke sekolah pada pukul 07.26 WIB, atau 4 menit sebelum UN dimulai. Dia melakukan pengawasan pelaksaan UN sesuai waktu kerja.

“Saya tiba di sekolah jam 7.26 WIB, dan saya terus berada di sekolah sampai 16.45 WIB. Silakan di cek absensi saya, apakah saya datang pagi sebelum jam 6, coba dilihat, buktikan dong, semuanya buktikan,” jawab Retno menahan emosi.

Retno yang sudah mengajar sejak 21 tahun lalu mengaku keberatan atas tudingan yang menyudutkan dirinya. Sebab, Retno merasa tidak menyalahi aturan apapun. Apalagi yang dilakukannya, terkait pendidikan di Indonesia khususnya terkait kecurangan UN. Dia juga merasa aneh dengan rencana Pemrov DKI yang bakal memecat dirinya.

“Kalau saya dianggap melanggar PP 53 tahun 2010, saya juga dilindungi oleh UU Guru-Dosen tadi, PP dengan UU tinggi mana? kan Undang-undang. Jadi ketika saya menjalankan itu kalaupun saya yang melanggar yang satu ada pemaafan karena saya menjalankan UU Gur-Dosen yang tadi. Jadi ukurannya apa? tolong pakai aturan (jika memecat), jangan pakai perasaan, jangan pakai hal politik,” tukasnya.

Sebelumnya diberitakan liputan6.com, bahwa Retno terancam sanksi setelah pada saat pelaksanaan hari pertama UN setingkat SMA pada Senin 13 April 2015 ada di SMAN 2 Jakarta untuk menyambut Presiden Joko Widodo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang meninjau pelaksanaan UN di sekolah di Tamansari, Jakarta Barat. Padahal, Retno kepala SMAN 3 Setiabudi, Jakarta Selatan.

Ahok tak menerima alasan Retno yang menyebut kehadirannya di SMA 2 sebagai Sekretaris Jenderal Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI). Ahok justru menagih komitmen Retno sebagai kepala sekolah yang dinilai sadar akan kewajibannya. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Keluarga Cabut Banding Vonis Ahok, Apa Alasannya?

Figure
Organization