Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / As-Safar (Berpergian)

As-Safar (Berpergian)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas)
Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas)

dakwatuna.com – ‘Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu dimuka bumi…(Q.S. Ali Imran:137)’

Bersafar ialah tabiat dasar orang yang berpengetahuan. Khususnya para ulama. Sehingga Imam Syafi’I memiliki qaul qodim dan qaul jadid selama perjalanannya menuntut ilmu. Imam Syafi’i tidak pernah puas dengan satu disiplin ilmu. Beliau selalu mendalami ilmu yang telah dipelajari, bahkan terus mempelajari ilmu-ilmu baru yang baru beliau ketahui. Sehingga pengembaraan intelektualnya, serupa dengan penjelasan para pemikir dakwah, yaitu minal masyriq ilal maghrib (dari penjuru bumi sebelah timur sampai penjuru bumi sebelah barat).

Imam Syafi’I ialah murid Imam Malik selama di Hijaz. Beliau juga berguru kepada Imam Abu Hanifah selama di Iraq. Fatwa lamanya selama berada di Iraq disebut Qaul Qodim, yang pasti banyak terilhami dari 2 guru besarnya tersebut. Dan setelah Imam Syafi’I pergi ke Mesir, di sana beliau menemukan banyak hal baru. Baik yang berkaitan dengan hadits, maupun yang berkaitan dengan fiqih. Sejak saat itulah muncul istilah Qaul Jadid. Sehingga pada terapannya, kita dapat menemukan perevisian kajian fiqh beliau seperti; air musta’mal, dan penyucian kulit bangkai.

Bersafar, janganlah hanya kita maknai sebagai jalan-jalan plesiran semata. Lebih dari itu. Bersafar akan membuat pikiran kita lebih terbuka, karena kita akan dihadapkan pada realitas yang bahkan tidak pernah terjadi di tempat tinggal hidup kita. Bersafar juga akan membuat wawasan dan ilmu pengetahuan kita lebih luas dan mendalam, karena kita akan mendapatkan ilmu pengetahuan dari banyak orang yang memiliki latar belakang dan identitas yang beragam. Dan bukan hanya ilmu pengetahuan yang bersifat formal, tetapi juga pelajaran hidup, yang membangun kedewasaan kita dalam bertindak. Dan yang terpenting di antara semuanya, bahwa bersafar akan memberikan kita kelapangan. Karena Allah berfirman:

‘Dan barangsiapa berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan dibumi ini tempat hijrah yang luas, dan (rezeki) yang banyak… (Q.S. An-Nisa:100)’

Kelapangan dada yang dimaksud, bukan hanya sebatas kelapangan rezeki. Tetapi juga kelapangan dada dalam menghadapi berbagai macam problematika kehidupan. Karena peristiwa safar akan membuka pintu-pintu silaturahim dengan banyak orang, yang bahkan tidak memiliki kedekatan kekerabatan dengan kita sedikitpun. Dan rasul bersabda, barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturahim.

Alangkah indahnya bersafar, bagi orang yang mencintai dunia ilmu pengetahuan. Karena ujung dari peristiwa safar ialah pikiran yang lebih terbuka, wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih mendalam, dan kelapangan. Dan akumulasi dari ketiga faedah bersafar, ialah pengalaman hidup yang berharga. Semoga Allah senantiasa meringankan langkah kita untuk senantiasa bersafar di jalan Allah..

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Pergi di Tengah Dinginnya Pagi