Home / Berita / Nasional / Subhanallah, Pria Ini Hidup Kembali Setelah 24 Jam Detak Jantungnya Berhenti

Subhanallah, Pria Ini Hidup Kembali Setelah 24 Jam Detak Jantungnya Berhenti

Kembali dari kematian, Jantung Bulent Sonmez berfungsi kembali melalui perawatan mandi es. (mirror.co.uk)
Kembali dari kematian, Jantung Bulent Sonmez berfungsi kembali melalui perawatan mandi es. (mirror.co.uk)

dakwatuna.com – Jakarta. Seorang pria yang secara medis dinyatakan telah meninggal dunia akibat serangan jantung dilaporkan ‘kembali dari kematian’ setelah dokter menempatkan dia dalam penangas es.

Bulent Sonmez, pria itu, tampak seperti telah mati ketika tim dokter gagal mengembalikan jantungnya yang berhenti berdetak saat ayah dari dua anak ini pingsan di rumah sakit.

Sebagai upaya terakhir, petugas medis menggunakan pengobatan terapi hipotermia kontroversial untuk menurunkan suhu tubuhnya menjadi 30 derajat Celcius guna membatasi efek dari kekurangan oksigen pada organ.

Seperti yang dilansir Mirror pada Selasa, 14 April 2015, dikutip dari tempo.co, Jumat (17/4/15), tiba-tiba secara ajaib jantung Bulent mulai berdetak lagi setelah dokter menghabiskan sekitar 24 jam untuk menjaga denyut jantung dan suhu tubuhnya kembali normal.

Tapi, kegembiraan keluarganya tidak berlangsung lama, karena pria 40 tahun itu hanya bisa mengingat setengah hidupnya dan tidak ingat istri dan anak-anaknya. Bulent, yang berasal dari Ankara, Turki, kini masih berjuang mengumpulkan beberapa ingatannya.

“Rasanya seperti sebuah film. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada dua anak kami yang menunggu di rumah,” kata Sibel Sonmez, 39 tahun, istri Bulent. “Saya mencoba untuk mengatasinya dengan menunjukkan foto-foto, tapi butuh waktu yang sangat lama untuk bisa meyakinkan dia.”

“Kami tidak menemukan banyak literatur melihat secara rinci pada efek samping dari pengobatan terapi hipotermia,” kata dokter Omer Zuhtu. “Ini tetap menjadi prosedur yang kontroversial, tetapi kami percaya dalam hal ini tentu menyelamatkan nyawa orang ini.”

Terapi hipotermia dapat digunakan untuk membatasi efek dari kekurangan oksigen pada pasien serangan jantung, tapi bisa menyebabkan kerusakan otak yang parah. Hal ini kadang-kadang digunakan di Inggris ketika izin tertulis telah disediakan oleh keluarga terdekat.

Dikutip dari news-medical.net, menurut Dr George A. Lopez, asisten profesor neurologi di Baylor College of Medicine di Houston, Hipotermia terapi secara dramatis meningkatkan kemungkinan pemulihan di antara mereka yang menderita serangan jantung

Hipotermia juga dapat diterapkan dalam kasus cedera otak traumatis dan gagal hati. Dalam kasus terakhir, hati terhambat dalam perannya pembersihan racun yang dapat melakukan perjalanan ke otak dan menyebabkan membengkak. Hipotermia telah ditunjukkan untuk mengurangi jumlah pembengkakan dan meningkatkan kesempatan bertahan hidup sampai hati melahirkan dan menyembuhkan atau sampai pasien menerima transplantasi liver baru. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Serangan Jantung

Kenali Tanda-Tanda Jantung Kita Mulai Bekerja Tidak Wajar