Home / Berita / Nasional / Dewan Penasehat Marhaenisme: Jokowi itu Presiden tanpa Kedaulatan

Dewan Penasehat Marhaenisme: Jokowi itu Presiden tanpa Kedaulatan

Muhammad Jazir ASP, Dewan Penasehat Pusat, Keluarga Marhaenisme Nasional.  (Adhe/skb)
Muhammad Jazir ASP, Dewan Penasehat Pusat, Keluarga Marhaenisme Nasional. (Adhe/skb)

dakwatuna.com – Bogor. Pelatihan School for Nation Leader 1 yang diselenggarakan oleh Sekolah Kepemimpinan Bangsa, pada 14-20 April 2015, di Kampung Wisata Silat Jampang, Bogor di ikuti oleh perwakilan aktivis dari 40 kampus di seluruh Indonesia.

Muhammad Jazir ASP, Dewan Penasehat Pusat, Keluarga Marhaenisme Nasional dalam kesempatan ini menyampaikan materi berjudul Inspirasi Negara Madinah dalam Pembentukan Negara Indonesia.

Dalam paparannya, Jazir menyoroti pemerintahan Jokowi yang dinilainya telah kehilangan ideologi.

“Pemerintah Jokowi telah kehilangan ideologinya, kabinet trisakti yang kehilangan ideologi, dari kedaulatan menjadi “kerja”. ungkapnya dalam rilis yang diterima dakwatuna.com, Rabu (15/4/15).

Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan tersebut juga mengkritisi perguruan tinggi dan para guru besar yang telah kehilangan jatidirinya.

“Para guru besar tiarap karena guru besar hanya menjadi administratur pendidikan, guru besar yang seharusnya menjadi guru bangsa hanya menjadi tukang pendidikan”.

Perguruan Tinggi melahirkan tukang, kampus tidak lagi menjadi pencetak pemimpin tapi melahirkang tukang, saya pikir perlu sekali adanya Sekolah Kepemimpinan di luar kampus”.

Jazir melihat bahwa Kepala staf Kepresidenan telah mengambil alih peran presiden, sehingga presiden tidak lagi memiliki kedaulatan.

“Menurut saya Jokowi itu tukang presiden, presiden tanpa kedaulatan. Kabinet trisakti itu seharusnya ideologis, kalau kabinet kerja itu mentalitas budak”.

“Peran presiden dan wakil presiden saat ini telah diambil alih oleh Kepala Staf Kepresidenan, dimana peran mengevaluasi kinerja menteri telah diambil alih oleh Luhut Panjaitan, membuat presiden tidak punya kedaulatan”.

“Partai kembali menjadi dinasti politik, sekarang adalah para darah biru yang berkuasa di partai-partai politik, tanpa sadar kita kembali lagi pada zaman feodalisme politik”, pungkasnya.  (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Berbicara di Konferensi Keamanan Munich, Emir Qatar Tegaskan Kegagalan Para Pemboikot