Topic
Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Merenungkan Kembali Makna Pernikahan

Merenungkan Kembali Makna Pernikahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pernikahan (ilustrasi). (depokpost.com)
Pernikahan (ilustrasi). (depokpost.com)

dakwatuna.com – Pernikahan adalah peristiwa bersejarah. Di mana dari sebelumnya “sendiri”, setelah pernikahan ada yang harus kita jaga (bagi suami). Ada yang harus kita taati (bagi istri), selama mengajak kepada kebaikan. Untuk itu penting bagi kita untuk kembali merenungkan tentang makna dari pernikahan. Salah satu peristiwa bersejarah ini.

Salah satu esensi dari pernikahan ada dalam QS Al Baqarah ayat 187. Dalam Surat ini Allah berfirman “Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu dan kamupun pakaian bagi mereka.”

Dari ayat ini kita bisa belajar, untuk kembali meluruskan niat tentang pernikahan. Bahwa suami istri itu seperti pakaian. Setidaknya ada tiga fungsi pakaian :

  1. Menutup Aurat

Saling menutupi kekurangan. Tentu sebagai manusia tak lepas dari kesalahan. Ketika nanti sudah menjadi suami istri, pasti akan ditemui kekurangan dari pasangan kita. Tetapi alangkah baiknya kita saling menutupi aib yang ada pada diri masing-masing. Seperti halnya pakaian yang berfungsi untuk menutup aurat, sebagai seorang istri hendaknya mampu untuk menutupi aib yang ada pada suami, begitu pula sebaliknya. Suami menutupi aib yang ada pada istri.

  1. Melindungi

Saling melindungi dari kuburukan azab neraka. Seperti halnya pakaian yang berfungsi untuk melindungi badan dari panas dan hujan, suami istri hendaknya saling melindungi dari keburukan azab neraka. Saling mengingatkan dalam kebaikan

  1. Memperindah

Masing-masing dari suami istri pasti punya kelebihan dan pasti punya kekurangan. Untuk itu alangkah indah jika kita saling melengkapi kelebihan dan kekurangan yang ada. Pada akhirnya ketika sudah menjadi satu keluarga, harusnya membuat kita menjadi tumbuh bersama (growing together) dalam kebaikan.

Maka dengan itu semua yang kita harapkan adalah istri kita / suami kita adalah penenang / penyejuk hati. Seperti kata Ibnu Abbas: “maksudnya para isteri merupakan ketenangan bagimu dan kamu pun merupakan ketenangan bagi mereka.

Tulisan di atas terinsipirasi dari materi pekanan halaqoh.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Alumnus Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Lihat Juga

Menikahi Sepupu, Apakah Boleh dalam Islam?

Figure
Organization