Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Anak Bisa Percaya Diri, Bagaimana Cara Melatihnya?

Anak Bisa Percaya Diri, Bagaimana Cara Melatihnya?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Google Plus)
Ilustrasi. (Google Plus)

dakwatuna.com – “Siapa yang berani ke depan mengerjakan soal nomor 3 ?”. Begitulah sekelumit pertanyaan yang saya lontarkan kepada siswa kelas 3 di sebuah sekolah di kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, sekolah di mana saya di tempatkan untuk mengabdi selama satu tahun ke depan hingga Januari 2016. Kelas yang awalnya sedikit gaduh berubah hening seketika. Beberapa kali mengajar, ternyata kejadian ini kembali terulang di kelas- kelas lain. Ketika pertanyaan yang sama dilontarkan, responnya pun serupa, tak jauh berbeda. Keadaan berubah menjadi hening, siswa tak berani meskipun hanya untuk sekedar mengangkat tangan apalagi untuk mengerjakan soal ke depan kelas. Bukan karena siswa-siswa tersebut tidak mampu mengerjakan soal melainkan kurang adanya motivasi dan kepercayaan diri untuk tampil ke depan. Beberapa siswa mengerjakan dengan jawaban yang tepat, tapi karena kurangnya percaya diri untuk tampil di depan itulah maka siswa hanya sebatas memendam jawabannya tanpa berani unjuk gigi di depan kelas untuk mengerjakannya.

Belajar dari kasus siswa kelas 3 di atas kita mendapat gambaran bahwa betapa anak-anak usia sekolah dasar masih jauh dari rasa percaya diri. Padahal sejatinya percaya diri merupakan aspek kepribadian yang penting dalam kehidupan, pun bagi anak seusia SD. Berdasarkan kamus Bimbingan dan Konseling, percaya diri merupakan kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, maka akan sering menutup diri. Untuk menumbuhkan percaya diri pada anak memang butuh proses, bukan hal sulit namun juga tak bisa dibilang sebagai hal yang mudah. Proses penumbuhan percaya diri ini semata-mata tidak hanya menjadi tanggung jawab guru akan tetapi didikan orang tua juga punya andil besar. Bagaimana tidak, porsi anak di lingkungan rumah tinggal bersama orang tua lebih banyak daripada porsi anak menghabiskan waktu di sekolah. Otomatis, tingkah laku anak cenderung banyak dipengaruhi oleh didikan tangan halus orang tua daripada gurunya.

Dalam keseharian, percaya diri bisa dimulai dari hal – hal kecil. Di antaranya, pertama memberi pujian atas karya anak dengan ungkapan yang menyenangkan, misalnya, “wah, cantik sekali lukisanmu, sungguh pekerjaan yang bagus” dengan ungkapan yang demikian, maka akan menumbuhkan rasa gembira, mampu memunculkan percaya diri karena kemampuan si anak diakui, dan tentunya hal ini akan menambah semangat anak semakin menggelora karena si anak merasa karyana dihargai. Posisi ini bisa berbalik, jika guru atau orang tua pelit memberikan pujian atau bahkan tega mencemooh dengan kata-kata yang kurang mengenakkan telinga, “aduh nak… belepotan sekali ini lukisanmu, tidak jelas apa yang ingin kau lukis”, sama-sama ungkapan tapi memberi dampak yang jelas berbeda. Kata-kata yang berisi ungkapan “meremehkan” ini cenderung membuat anak merasa kecil hati, karyanya merasa tidak dihargai, bisa berdampak mematikan semangat dan kreativitas anak. Kalau sudah begini, darimana kepercayaaan diri akan tumbuh? Yang ada justru surut tekad dan langkah karena karyanya hanya dipandang sebelah mata. Kedua, mengucapkan terimakasih dengan tulus kepada anak atas bantuan yang sudah diberikan. Mengapa memberikan ucapan terimakasih itu penting? Sama halnya dengan poin pertama mengenai karya, sekecil apa pun bantuan yang telah dilakukan anak, dia akan merasa senang karena apa yang dia kerjakan diakui atau dihargai. Ketiga, semangatilah anak maupun anak didik untuk ikut serta dalam ajang perlombaan, baik di tingkat kampung, desa, sekolah, kecamatan, kabupaten, dan sebagainya, yang intinya perlombaan itu mampu mendorong potensi anak. Terkadang anak-anak punya bakat atau potensi yang tersembunyi dan hanya dikeluarkan ketika ada target dan semangati. Melalui perlombaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan, anak berkesempatan menunjukkan “kemampuan yang sebenarnya” yang dia miliki selama ini. Keempat, membiasakan anak untuk tampil di depan umum. Selanjutnya, hal yang bisa dilakukan oleh guru kepada siswa adalah dengan menerapkan papan motivasi atau token prestasi yang dibuat menarik, dan dijalankan secara konsisten, papan ini bisa dipajang di kelas, setelah sebelumnya disepakati aturan, reward dan punishment antara siswa dengan guru. Aturan yang sudah disepakati bersama-sama harus dipatuhi, reward diberikan kepada siswa yang sudah menjalankan aturan dengan baik. Punishment tegas diberlakukan bagi siswa yang melanggar aturan. Token prestasi ini akan semakin memacu semangat apabila dibumbui dengan hadiah kecil bagi anak yang layak mendapatkannya.

Masa anak-anak adalah masa emas untuk menanamkan nilai-nilai. Saatnya membentuk karakter dan kepribadian positif bagi anak, selamat mencoba, semoga tips singkat menumbuhkan percaya diri pada anak ini mampu memberikan manfaat.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alhamdulillah sempat bergabung dengan divisi pendidikan di Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (SGI-DD) sebagai relawan guru untuk wilayah penempatan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (2014-2016) Saat ini menjadi bagian di School of Life Rumah Cahaya (Alam-Montessori-Islami)

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Organization