Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Kerucut Kontribusi Mahasiswa S2/S3

Kerucut Kontribusi Mahasiswa S2/S3

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wikipedia)
Ilustrasi (wikipedia)

dakwatuna.com – Saat ini sudah banyak masyarakat yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, tidak hanya sebatas jenjang S1. Lulusan magister maupuun doktor baik dalam negeri ataupun luar negeri sudah lumayan sering kita temui di Indonesia. Pada tataran akademik, salah satu syarat untuk bisa menjadi dosen minimal sudah bertitel master. Tidak hanya pada tataran akademik saja, perusahaan-perusahaan juga berlomba-lomba mengirim kariyawanya untuk lanjut studi. Tentu ini sangat potensial dalam mendobrak kondisi bangsa Indonesia menuju bangsa yang lebih baik. Idealnya, Semakin banyak jumlah masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi akan berdampak pada kualitas bangsanya.

Produk lulusan S1 tentu tidak sama dengan lulusan S2/S3. Mahasiswa S2/S3 biasanya mengkaji suatu ilmu yang digelutinya dengan lebih spesifik lagi, sudah terbiasa berfikir dan bersikap ilmiah, segala sesuatu yang diperoleh berdasarkan ilmu dan pengamatan. Oleh karenanya tuntutan yang diberikan juga semakin besar. Dan kesemuanya bermuara pada satu kata, Kontribusi! Kontribusi yang dimaksud adalah dari berbagai aspek tidak hanya terbatas dengan ilmu yang digeluti.

Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang tentunya semakin tinggi pula kontribusi yang ia berikan, semakin berpengaruh ia bagi orang- orang di sekitarnya (tentunya pengaruh dalam hal kebaikan), ia dapat menjadi rujukan dalam berbagai masalah yang ada, bukan malah pembuat masalah, dengan begitu jenjang pendidikan tidak hanya menjadi sekadar tujuan untuk kenaikan jenjang karier. Sayangnya masih banyak dari kita yang belum sadar akan hal ini, atau malah para penuntut ilmu itu bukan menyumbang kontribusi terbaik yang dimiliki, melainkan malah memperkeruh kondisi bangsa.

Harapannya, semoga para cendikia yang lahir dapat dimanfaatkan sebagai mutiara bangsa untuk menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang tangguh, bermoral, dan semakin dekat dengan sang pencipta. Mari bergeraklah!

“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az Zumar: 9)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
S-1 Pendidikan Fisika Uniersitas Negeri Medan, Pengajar Fisika, Jaringan Muslimah FSLDK SUMUT, Akpro Ukmi Ar-Rahman Unimed. Going The Extra Miles, Berusaha di atas rata-rata orang lain. Fastabiqul Khoirat.

Lihat Juga

Masa Kampus: Sebuah Rangkaian Fase