Topic
Home / Berita / Nasional / Duduk Manis di Kongres PDIP, Jokowi Dinilai Hina Lembaga Kepresidenan

Duduk Manis di Kongres PDIP, Jokowi Dinilai Hina Lembaga Kepresidenan

Presiden Joko Widodo saat menghadiri Kongres PDIP ke-4 di Bali, Kamis (9/4/15). (palingaktual.com)
Presiden Joko Widodo saat menghadiri Kongres PDIP ke-4 di Bali, Kamis (9/4/15). (palingaktual.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Kehadiran Presiden Joko Widodo dalam Kongres PDIP ke-4 di Bali pada Kamis (9/4/15) sebenarnya bukan hal yang istimewa, apalagi Jokowi datang dengan status sebagai kader PDIP.

Mengenakan jas merah dan duduk di barisan terdepan bersama Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, Wapres Jusuf Kalla, dan Ketua DPP Puan Maharani, memang sulit membedakan status jokowi hadir sebagai Presiden atau sebagai kader PDIP.

Namun ketika Jokowi datang ke Bali menggunakan fasilitas negara didampingi beberapa menteri, tentu saja status presiden yang melekat kepadanya tidak dapat ditanggalkan begitu saja.

Mungkin baru kali ini terjadi, seorang presiden hadir pada sebuah acara kongres partai namun tidak diberi kesempatan pidato layaknya seorang presiden.

Kejadian unik dan aneh ini langsung mendapat sorotan dari aktivis antikorupsi Dahnil Anzar Simanjuntak.

“Ketika Presiden Hadir dalam satu acara hanya diam terbisu dan duduk manis…!!! Di NEGERI ini,” katanya melalui akun Twitter, @Dahnilanzar.

Ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah tersebut mempertanyakan mengapa panitia Kongres PDIP tak memberi kesempatan Jokowi untuk berpidato. Padahal, setiap presiden yang hadir di acara partai selalu diberi kesempatan tampil di depan.

“Kepresidenan itu lembaga. Dan, lembaga negara. Ketika seseorang jadi Presiden tak bisa dia dipisahkan, Antar dia sebagai ‘Jokowi’, dia sebagai ‘Presiden’,” katanya. “Wibawa lembaga Kepresidenan itu, ya wibawa Indonesia juga.”

Dahnil pun kembali menegaskan, status Jokowi sebagai presiden RI tidak bisa dilepaskan, meski hadir di acara sebagai kader partai. “Klo mau dipisahkan, ketika dia jadi ‘Jokowi’ ya tak ada fasilitas apapun terkait dia sebagai Presiden. Tapi kan impossible.”

Dia melanjutkan, “Mohon maaf saya harus sampaikan; Joko Widodo adalah Presiden yang tidak menghormati lembaga Kepresidenan.” “Berangkat penuh dengan fasilitas Kepresidenan (pswt, ajudan, Dana dll). Duduk Bengong mengaku sebagai Jokowi. Terang menghina lembaga Kepresidenan.”

Jika dibandingkan dengan SBY, apa yang dialami Presiden Jokowi memang sangat bertolak belakang. SBY selalu diberikan kesempatan untuk pidato dalam setiap kongres partai yang dihadirinya, termasuk dalam kongres Partai Demokrat. (ROL/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Soal ‘Jalan Tol Pak Jokowi’, Fahira Idris: Rakyat Sudah Cerdas

Figure
Organization