Home / Narasi Islam / Sosial / Kesetaraan Gender, Kungkungan Budaya Patriarki Dalam Sistem Kapitalisme

Kesetaraan Gender, Kungkungan Budaya Patriarki Dalam Sistem Kapitalisme

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Menerima penghargaan Academy Award untuk aktris pembantu terbaik untuk perannya dalam “Boyhood”, yang sudah diperkirakan secara luas sebelumnya, Patricia Arquette memberi sentuhan politik pada upacara yang biasa dibuat ringan itu.

“Untuk setiap perempuan yang dilahirkan, untuk setiap pembayar pajak dan warga Negara ini,” ujar Arquette, 46. Dalam pidato penerimaan penghargaan, Minggu (22/2).

“kita telah berjuang untuk hak-hak persamaan untuk setiap orang. Kini saatnya bagi kita untuk mendapatkan persamaan pendapatan untuk semua orang. Dan hak-hak persamaan untuk perempuan di Amerika Serikat.”

Pidatonya mendapat tepukan dan seruan bergemuruh di seluruh gedung Dolby Theater, dengan seruan yang paling kencang datang dari sesama nomine untuk kategori yang sama, Meryl Streep yang terus berseru “Yes! Yes! Yes!”. Pidato itu menambah kritikan terhadap industri film yang memiliki jurang perbedaan tinggi antara honor aktor dan aktris, voaindonesia.com (23/02/2015).

Saat ini kesadaran akan kesetaraan gender semakin meningkat sehingga membuat para aktifis sosial khususnya kaum perempuan semakin gencar menyerukan agar persamaan hak perempuan terpenuhi layaknya hak laki-laki. Para aktifis sosial kesetaraan gender ini memberi pemahaman kepada kaum perempuan bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama untuk hidup secara bebas dan terhormat serta bebas dalam menentukan pilihannya.

Kesetaraan gender atau feminismie merupakan suatu pemahaman yang dihasilkan dari keterbatasan pemikiran manusia, feminisme merupakan cabang pemikiran dari sekulerisme sebagai induknya dimana sekulerisme adalah pemisahan agama dari kehidupan umat manusia, sehingga dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari manusia berlepas diri dari aturan yang telah dibuat oleh Sang Pencipta karena agama dianggap sebagai pengekang kebebasan dan kebahagiaan.

Paham dan gerakan ini muncul akibat adanya ketidakpuasan kaum perempuan terhadap sistem kapitalisme yang selama ini selalu menomorduakan kaum perempuan setelah laki-laki. Kaum feminisme selalu berjuang keras untuk mendapatkan hak mereka layaknya hak yang dimiliki laki-laki, mereka memahamkan kepada dunia bahwa mereka juga dapat berkiprah, baik di kehidupan umum maupun kehidupan pribadi.

Seperti yang kita ketahui di zaman yang serba bebas ini, di mana peran sebagai istri dan ibu yang selama ini telah melekat pada sosok kaum perempuan telah berubah haluan, tidak hanya sebagai pengatur urusan rumah tangga, sosok perempuan juga telah menjelma menjadi wanita karir. Bahkan peran sebagai wanita karir lebih menonjol ketimbang perannya sebagai pengatur urusan rumah tangga, sangat disayangkan saat ini justru kaum perempuan telah mendominasi kaum laki-laki, yang lebih memprihatinkan lagi, peran dalam mencari nafkah yang menjadi tugas utama kaum laki-laki namun, kini telah diambil alih oleh kaum perempuan.

Gerakan ini berhasil memotivasi kaum perempuan berlomba-lomba untuk meninggalkan rumah untuk bekerj di luar rumah, baik untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarga atau sekedar eksistensi diri saja. Para isteri merasa mampu dan mandiri secara materi dibandingkan suaminya. Kemandirian materi mendorong para isteri bersikap lazimnya kepala keluarga bagi suaminya.

Seperti Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dikirim keluar negeri, kebanyakan dari mereka adalah kaum perempuan. Entah berapa banyak dari mereka yang telah berkeluarga dan meninggalkan keluarganya demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka telah rela mengabaikan perannya sebagai ibu dan istri demi mencari nafkah. Tidak hanya itu, bisa disaksikan di sekeliling kita berapa banyak kaum perempuan menjadi pelengkap keindahan mata memandang dengan mempertontonkan sebagian aurat mereka hanya untuk mencari uang dengan menjadi SPG, model dan yang sangat disayangkan ada kaum perempuan yang rela menjajakan dirinya kepada lelaki hidung belang demi mengejar berlembar-lembar rupiah. Serendah itukah harga diri dan kehormatan yang dimiliki kaum perempuan sehingga bisa dibeli dengan hanya beberapa lembar uang?

Seperti yang telah kita ketahui, saat ini ada sebagian kaum perempuan telah berhasil menduduki jabatan penting di parlemen, seperti Menteri bahkan beberapa tahun yang lalu Indonesia dipimpin oleh seorang perempuan. Namun hal itu, tidak membawa perubahan terhadap nasib kaum perempuan, nasib kaum perempuan tidak lebih baik justru semakin buruk dan tertindasnya kaum perempuan diakibatkan semakin lemahnya hukum yang melindungi hak-hak perempuan. Pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan human trafficking (perdagangan manusia) yang kebanyakan korbannya adalah kaum perempuan dari tahun ke tahun kasusnya semakin bertambah dan memprihatinkan. Hal ini membuktikan masih lemahnya Negara untuk melindungi dan menjaga hak-hak dan kehormatan kaum perempuan.

Lalu, kesetaraan gender yang seperti apa yang selama ini digadang-gadang oleh kaum feminisme? Apakah dengan mencari nafkah dan berpenghasilan tinggi bisa mensejahterakan dan melindungi kaum perempuan?

Sangat keliru, bila berpikiran bahwa dengan mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan tinggi yang selama ini selalu menjadi target kaum perempuan yang hidup di zaman kapitalisme ini, namun mengesampingkan peran mereka sebagai istri dan ibu. Padahal tugas utama kaum perempuan adalah mengatur urusan rumah tangga bukan mencari nafkah seperti yang dilakukan kaum laki-laki.

Peran wanita dalam Islam

Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan wanita, masing-masing memiliki peranannya dalam kehidupan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Allah menjadikan laki-laki dan wanita agar saling melengkapi dan menyempurnakan agar tercipta hidup yang tentram dan bahagia. Allah telah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin dan pelindung bagi kaum wanita, sekaligus sebagai pencari nafkah untuk keluarga.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya :

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (TQS. An-Nisaa : 34)

Wanita telah ditakdirkan untuk menjadi ummun wa rabbah al bayt (ibu dan pengatur rumah tangga), dan sudah kodratnya bahwa sosok ibu penuh dengan kelembutan dan kasih sayang sehingga dengan kelemahlembutan yang dimiliki kaum perempuan Allah telah mempercayakan amanah di pundaknya untuk mengatur urusan rumah tangga sekaligus membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang

Dalam Islam, wanita merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, dari wanita muslimah lah terlahir generasi yang sangat menentukan generasi Islam yang cemerlang dan merupakan faktor penentu dalam kebangkitan Islam. Jadi, dapat dikatakan bahwa wanita muslimah merupakan penentu kebangkitan atau sebaliknya sebagai penentu kebobrokan Islam. Selain mengandung dan melahirkan, disinilah letak terberat peranan wanita yang penuh dengan tanggung jawab dan dibutuhkan kesabaran untuk melaksanakannya.

Rasulullah Saw bersabda :

“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selain membesarkan dan mendidik anak-anaknya, wanita juga berperan sebagai istri dan pengatur rumah tangga. Kewajiban istri adalah mentaati suaminya dalam hal kebaikan, istri merupakan partner suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Jadi dibutuhkan kerja sama dan saling menghargai agar tercipta hubungan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.

Sungguh Allah telah memuliakan kaum wanita, melalui syariatnya Islam hadir untuk memberikan secercah cahaya terang untuk menepis segala fitnah yang selama ini menimpa para wanita khususnya muslimah, hanya Islam yang dapat menjamin kemuliaan wanita. Untuk itu dibutuhkan peran serta masyarakat dan negara untuk menerapkan hukum-hukum Allah yang selama ini telah terabaikan agar tidak ada lagi fitnah yang menghinggapi kaum wanita.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar

Lihat Juga

Turki: Barat Mulai Kehilangan Toleransi

Organization