Topic
Home / Berita / Opini / Fanpage Aliansi Nasionalis, Penebar Fitnah dan Pemecah Belah Umat

Fanpage Aliansi Nasionalis, Penebar Fitnah dan Pemecah Belah Umat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
AN
Fanpage Aliansi Nasionalis (Facebook)

dakwatuna.com – Jakarta. Sebuah Fanpage Facebook bernama ALiansi Nasionalis terus menebar kebencian dan perpecahan. Berdasarkan penelusuran penulis, Fanpage ini tak henti-hentinya menulis status yang mengajak para netizen untuk membenci media-media Islam yang baru-baru ini dituding sebagai media radikalisme. Selain itu, terdapat juga status yang mengajak netizen membenci para ulama seperti KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan KH Muhammad Arifin Ilham, lantaran Aa Gym dan KH Muhammad Arifin Ilham ikut mencekal aksi pemblokiran media Islam.

Dalam sebuah status yang di posting pada 1 April 2015, Fanpage Facebook ini menuding 34 situs Islam sebagai situs radilkalisme yang mendukung terorisme dengan mengunggah sebuah foto yang berisi 34 situs Islam tersebut.

Dalam status tersebut Fanpage ini menulis, “Saat ini para pendukung Teroris sedang playing victim, berakting seakan “umat muslim” yang sedang terdzolimi oleh rezim pemerintahan saat ini. Mereka menyebarkan hastag #SelamatkanMediaIslam agar membuat orang mengira mereka adalah sebenar – benarnya muslim…. BUKAN… Mereka Simpatisan TERORIS!”

Padahal, media-media yang telah diblokir pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) sejak Senin lalu tidak terbukti sama sekali terdapat ajaran radikalisme. Bahkan, media-media tersebut sudah mulai bisa diakses kembali lantaran tidak ditemukan bukti ajaran radikalisme, yang ditemukan justru berita yang mengajak pada persatuan, memberikan artikel-artikel keislaman dan mendukung pemerintah dalam upaya menangkal radikalisme.

Diketahui, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) turut bersuara atas pemblokiran media Islam. Menurutnya, Kemkominfo jangan asal memblokir tapi tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu. “Jangan semuanya yang ada nama Islam nya langsung diblokir. Yang jelas saja, yang kontennya memang selalu ada radikalisme,” ujar JK di kantornya, Jakarta, seperti yang dilansir JPNN, Selasa, (31/3) lalu.

JK berpendapat, Menkominfo harus punya kriteria atau standar untuk menentukan apakah sebuah situs benar-benar mengajarkan radikalisme. Jika memang terbukti situs tersebut mengandung unsur radikalisme, baru Kemenkominfo bisa memblokirnya.

“Kalau hanya penafsiran-penafsiran saja atau kontennya tidak mengikat ya harus diseleksi juga,” tegas JK.

Dalam kolom komentar pada postingan tersebut, mengundang reaksi banyak netizen. Di antaranya akun Feri Naldi. “lihat aja apa yang dposting oleh situs aliansi nasionalis,ada hal2 yang menimbulkan kebencian terhadap orang lain,” tulis Feri.

Akun Suhar Tomo menulis, “situs islam dlrang,.nntiny orng shlat,bca qur’an,bdah tfsir,bljar hadist djrang.,Islam djauhkan dri agamanya.tpi kuasa Allah lbh hbat dri rncna manusia..Allahu Akbar.”

Bahkan ada yang mensinyalir Fanpage Aliansi Nasionalis merupakan pendukung dari JIL atau Syiah. “bagi nt syi’ah … JIL … ahmadiyah yang bukan teroris y min ??!!” tulis Faruq Ibrahim.

Akun Dhyk Terragon menulis, “era muslim dan ddakwtuna serta hidayatullah bukan situs radikal min.”

Pernyataan Fanpage Aliansi Nasionalis ini justru bertolakbelakang. Fanpage ini menyebut banyak netizen yang mendukung pemblokiran. Padahal diketahui, banyak netizen yang mencekam pemblokiran. Bahkan, hashtag #KembalikanMediaIslam berhasil duduki “trending topic” dunia.

Berikut beberapa akun Twitter yang mengecam aksi pemblokiran yang dilakukan Kemkominfo:

rachma_rahayu ‏@RachmaAyoe: “Mau jd apa negeri ni?Harga BBM yg ababil,nilai Rupiah yg anjlok&skrng media islam utk mengajak kebaikan akn di-blokir #KembalikanMediaIslam.”

@yudissejahtera: “#KembalikanMediaIslam #GULINGKANJOKOWI Kominfo Sewenang-wenang, Blok Situs Tnpa Perintah Pengadilan http://dlvr.it/99v3qP”

Umer ‏@mair_raihan: “@kemkominfo mengapa pengambilan keputusan dilakukan diam2 & tertutup? Apakah sdh berkonsultasi dgn tokoh Islam? #KembalikanMediaIslam.”

Alif Aditya Candra ‏@alifaditya: “Sangat disayangkan pemblokiran media2 islam yang sebenarnya sebagai media edukasi dan menambah wawasan malah di begal. #KembalikanMediaIslam.”

mulyasariYURI ‏@yuriZhu: “alasannya radikal? Kan aneh , selama ini fine-fine aja baca situs media islam , malah menambah wawasan #KembalikanMediaIslam.”

Tidak hanya itu, Fanpage Aliansi Nasionalis juga menyebarkan dan mengampanyekan petisi yang isinya mengajak netizen mendukung pemblokiran yang dilakukan BNPT melalui Kemkominfo.

“Yukkk… Bantu tanda tangani petisi online ini untuk menghapus situs situs radikal di Indonesia. Biar tambah “ampuh” ramuan senjata kimia kita untuk membasmi kutu kutu dan rayap rayap yg menggeroroti Pancasila dan NKRI kita,” tulisnya.

Banyak netizen yang menyayangkan setiap status yang ditulis Fanpage ini. Padahal, dalam keterangan Fanpage tersebut tertulis mempertahankan keutuhan bangsa dan negara yang bhinneka, tapi pada kenyataannya justru memecah belah. Sejatinya Fanpage yang menggunakan nama nasionalis harus menjunjung tinggi persatuan dan menghindari fitnah dan permusuhan. Seolah-olah Fanpage ini seperti ingin memecahbelah umat Islam, dengan mengadu domba umat Islam di Indonesia, khususnya antara NU dengan kalangan non-NU.

Akankah BNPT dan Kemkominfo juga mau sedikit meluangkan waktunya mengecek dan menilai Fanpage Aliansi Nasionalis sebagai Fanpage yang mengundang perpecahan, tidak mementingkan kebhinnekaan serta justru mengajarkan radikalisme dengan memfitnah dan mengadu domba rakyat Indonesia khususnya umat Islam?

Berikut beberapa hasil capture penulis dari Fanpage Aliansi Nasionalis yang menyebar kebencian, memfitnah dan memecahbelah umat Islam:

AN 3

 

AN 1

 

AN 2

(abr/dakwatuna)

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar

Lihat Juga

Dianggap Hina Muslim, Facebook Blokir Akun Milik Putra Netanyahu

Figure
Organization