Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Hanya Konsumsi Akal

Bukan Hanya Konsumsi Akal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi saw dari kalangan anshar yang dijuluki Abu Mughliq adalah seorang pedagang yang memperdagangkan barang miliknya dan milik orang lain yang dijajakan dipenjuru daerah. Dia juga seorang yang ahli ibadah dan wara’. Suatu ketika, dia keluar dan bertemu dengan perampok bertopeng yang membawa pedang. Lantas perampok berkata, “Letakkan harta yang kamu bawa! Sungguh aku akan membunuhmu”

Dia berkata, “Sepertinya yang kamu inginkan hanyalah darahku, bagaimana hartaku?”

Perampok berkata, “Hartamu menjadi milikku. Aku hanya ingin darahmu.”

Dia berkata, “Jika kamu masih memaksa, tolong biarkan aku melaksanakan shalat empat rakaat terlebih dahulu.”

Perampok berkata, “Baik. Terserah kamu.”

Lalu dia berwudhu dan melakukan shalat empat rakaat. Pada akhir sujud dia membaca doa:

“Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Memiliki Arsy lagi Maha Mulia, Dzat Yang Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Saya memohon kepada-Mu yang tidak dapat ditundukkan, dengan cahaya-Mu yang memenuhi pilar-pilar Arsy-Mu agar engkau menghindarkan kejahatan perampok ini pada diriku. Wahai Dzat Yang Maha Menolong, tolonglah aku. Wahai Dzat Yang Maha Menolong, tolonglah aku.” (Sebanyak tiga kali)

Tiba-tiba datang seorang berkuda yang membawa mata tombak di tangannya. Dia meletakkannya di antara kedua kudanya. Ketia dia melihat si perampok, maka dia menghadap ke arahnya, lalu menusuknya hingga mati. Kemudian penunggang kuda menghadap ke arah pedagang yang wara dan ahli ibadah ini. Dia berkata kepada si pedagang, “Bangunlah!”

Dia menjawab, “Aku adalah malaikat dari langit ke empat. Tadi ketika engkau memanjatkan doa yang kali pertama, lalu aku mendengar gemertaknya pintu-pintu langit. Kemudian engkau memanjatkan doa kedua kali, lalu aku mendengar suara gaduh para penduduk langit. Selanjutnya engkau memanjatkan doa ketiga kalinya, lalu dikatakan kepadaku, ‘Doa orang yang megalami kesulitan’. Lantas aku memohon kepada Allah swt memberi kepercayaan kepadaku untuk membunuhnya.”

Akhir-akhir ini sering kita simak dan saksikan betapa tidak berdayanya para aktivis dakwah di kalangan pemuda dengan seabrek PR yang seolah tak ada ujung dan pangkalnya. Seolah menghadapi jalan buntu dan tak tahu siapa yang salah dan siapa yang disalahkan. Ada yang merasa berat karena kurangnya komitmen dari para jundi. Ada yang merasa acuh karena kurang adanya jiwa keteladanan. Dan berbagai pandangan-pandangan subjektif yang terkadang saling menyalahkan dan meniadakan.

Barangkali yang menjadi pusat permasalahan adalah karena kita jarang berdoa, yakni dengan sesungguh-sungguhnya doa.

Wallahua’lam

Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita semua, aamiin.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 48 Institut Pertanian Bogor. Berasal dari Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Lihat Juga

Inefisiensi Anggaran Konsumsi