Topic
Home / Berita / Internasional / Asia / Jadi Korban Perang Saudara, Kini Pengungsi Suriah ‘Berperang’ Melawan Dingin

Jadi Korban Perang Saudara, Kini Pengungsi Suriah ‘Berperang’ Melawan Dingin

Relawan ACT mendistribusikan bantuan selimut untuk para pengungsi suriah. (ACTNews)
Relawan ACT mendistribusikan bantuan selimut untuk para pengungsi suriah. (ACTNews)

dakwatuna.com – Suriah. Hari-hari ini, keluarga Suriah masih berjuang melawan buruknya cuaca. Mereka ‘berperang’ melawan dingin, bersenjatakan tenda seadanya dan keyakinan sepenuhnya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka. Tanggal 15 Maret lalu, tepat menjadi penanda 4 tahun keluarga-keluarga di Suriah terusir dari rumah mereka sendiri. Perang saudara di salah satu negeri semenanjung Syam ini telah mencerai-beraikan seluruh elemen bangsa di negerinya sendiri.

Hingga tahun ke-5 masa konflik kini, hampir dari setengah populasi penduduk Suriah (8 juta jiwa), harus keluar dari rumah bahkan kota kelahiran mereka untuk mencari tempat yang lebih aman dari kecamuk perang. Sekitar 4 juta jiwa terpaksa menyingkir keluar negeri, berlindung ke negara-negara tetangga di sekitar Suriah. Dua ratus ribu orang meninggal dalam tragedi berkepanjangan ini.

Yang selamat dari amuk konflik tak berarti juga aman dari keadaan. Musuh mereka bukan hanya rasa takut dan keterancaman, tapi juga kondisi cuaca yang kini tengah hebat melanda hebat kawasan. Musim dingin dengan suhu terburuk mencapai -3o celcius masih menyelimuti. Jangankan membeli baju hangat dan selimut, untuk makan saja mereka terpaksa menanti uluran tangan yang peduli.

Cinta memang tidak mengenal jarak dan tempat. Hati mulia para pejuang Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) di Indonesia membuktikannya. Atas donasi dari rakyat Indonesia, yang sebagian besarnya dihimpun oleh para pejuang FSLDK, 1.433 keluarga pengungsi Suriah tak lagi kedinginan.

Meneruskan donasi FSLDK itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) dibantu IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri) mitra NGO dari Turki, sejak 22 Januari hingga 6 Maret lalu, menjalankan program bantuan bertajuk “Winter Aid” untuk membantu saudara-saudara di Suriah dengan mendistribusikan 1.433 selimut di sejumlah pos-pos pengungsian di Suriah.

Distribusi selimut berukuran 190x220cm itu dilakukan di berbagai daerah di Suriah, diantaranya di Khan Al Asal dan Kafarnaha, Aleppo; Abu Ad Dhuhur, Saraqib, Bidama, dan Alkastana, kota Idlib; dan Qaalat Al Madeek, di provinsi Hama. Distribusi bantuan dari rakyat Indonesia ini alhamdulillah mampu menerbitkan senyum dan raut berseri-seri saudara-saudara di pengungsian.

Semoga bantuan selimut dan cinta yang ada di dalamnya mampu menghangatkan tubuh serta hati mereka. Just because it’s not happening here, doesn’t mean that it’s not happening. Let’s ACT, Indonesia!  . (Aisyah Darojati/ACTNews/sbb/dakwatuna)
Keterangan kondisi terkini Suriah:

  • Sampai dengan 7 Februari 2015, total korban tewas perang Suriah mencapai 215.518 jiwa. Sekitar 4 juta orang mengungsi ke negara tetangga. Dan setengah dari populasi penduduknya, 8 juta jiwa, mengungsi keluar negeri.
  • Lebih dari 75% (diprediksi sampai 83%) listrik di Suriah padam semenjak 4 tahun konflik. Peneliti China menganalisa citra satelit malam hari di Suriah. Di kota yang dikuasi oleh pejuang atau menjadi lokasi perang antara rezim pemerintah dengan pejuang, listrik nyaris padam 100%, seperti di Allepo contohnya yang padam sampai 97%. Sedangkan di Damaskus yang dikuasai rezim Assad, listrik padam hanya sampai 35%.
  • Rezim Assad juga telah membunuh 610 dokter dan tenaga medis selama 4 tahun perang. 139-nya disiksa dan dibunuh. Rezim juga telah menyerang sebanyak 233 kali ke 183 rumah sakit dan klinik menggunakan senjata berat.
  • Tnggal 15 Maret 2015 menandakan 4 tahun perang saudara di Suriah dan memasuki tahun ke-5. Dari 215 juta yang tewas, baru 176 ribu yang tercatat dan terdokumentasi.
  • IMF menyatakan perekonomian Suria terjun bebas seperti 30 tahun yang lalu (1980’an). Mata uang Suriah Ekspor-impor turun 90%. Pengangguran mencapai lebih dari 50%.
  • Rata-rata dalam 4 tahun terakhir: setiap 10 menit 1 orang Suriah tewas. Setiap 1 hari 9 anak Suriah tewas. Sampai saat ini para pengungsi sangat membutuhkan bantuan bahan makanan, pendidikan, dan kesehatan.

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Erdogan Bantah Turki Berniat Kuasai Wilayah Negara Lain

Figure
Organization