Topic
Home / Berita / Surat Pembaca / Surat Terbuka untuk Presiden dan Wakil Presiden: Suara Hati Rakyat Indonesia

Surat Terbuka untuk Presiden dan Wakil Presiden: Suara Hati Rakyat Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

dakwatuna.com – Kepada Bapak Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. H. Joko Widodo dan Bapak Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla yang saya hormati mohon maaf atas ketidaksopanan saya menuliskan surat ini. Berangkat dari risaunya hati saya terhadap peliknya huru-hara bangsa ini, saya memilih menumpahkan sebagian suara hati saya yang mewakili suara hati rakyat Indonesia melalui surat singkat ini. Hari Kamis, 19 Maret 2015, sekitar 700 orang sahabat saya telah menyampaikan aspirasinya di gedung Istana Bogor. Saya tidak tahu apakah Bapak mengetahuinya atau tidak. Jikalau Bapak mengetahuinya, mohon untuk ditindaklanjuti, Bapak. Namun jikalau tidak, izinkanlah saya menyampaikan suara hati kami sekali lagi.

Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang saya hormati, sungguh tidak terkira kebanggaan saya kepada Bapak. Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang telah berani dan diberi kepercayaan 200 juta penduduk negeri ini untuk memikul amanah yang sungguh teramat berat. Tidak pantas rasanya saya menghakimi kinerja Bapak, walaupun hanya dalam hati, karena saya yakin bahwa Bapak pasti sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk bangsa ini. Bapak telah mengorbankan waktu, harta, bahkan nyawa hanya untuk memikirkan nasib bangsa ini. Sungguh, rasa terima kasih saja tidak akan mampu membalas seluruh perjuangan dan pengorbanan Bapak. Namun mengapa, bapak? Rasa bangga yang bapak tanamkan di hati saya kian lama menjadi pemicu luka dan air mata? Sadarkah Bapak? Bukan hanya saya, tapi hampir seluruh rakyat di Negeri yang kaya raya ini menangis, terutama mereka, rakyat kecil.

Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang saya hormati. Ke manakah bapak di saat negara membutuhkan ketegasan seorang pemimpin? Mengapa saya tidak melihat bapak yang gagah seperti saat menyampaikan janji-janji di hadapan ratusan ribu masyarakat saat kampanye? Mengapa saya tidak melihat bapak yang tegas seperti saat meyakinkan hati rakyat saat kampanye? Apakah bapak sudah lupa dengan janji-janji bapak? Apakah bapak sudah menyerah menghadapi kompleksnya permasalahan negeri ini? Ke mana Revolusi Mental yang akan bapak tempakan pada diri kami? Ataukah kericuhan ini revolusi mental itu? Bapak, tolonglah hadir di hadapan kami, sebentar saja, lihatlah air mata kami.

Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang saya hormati. Akhir-akhir ini harga bahan bakar dan bahan pangan naik. Pernahkah terbayangkan oleh bapak bagaimana nasib rakyat kecil yang penghasilannya berada jauh di bawah rata-rata? Pernahkah terbayangkan oleh bapak makan apa mereka yang berada di gubuk reot di pelosok desa saat ini? Pernahkah terbayangkan oleh bapak setiap hari mereka harus banting tulang demi sesuap nasi esok hari? Pernahkah terbayangkan oleh bapak bagaimana mereka menafkahi istri dan lima anaknya dari hari ke hari? Pernahkah terbayangkan oleh bapak mereka yang harus puasa berhari-hari karena sulitnya memperoleh sebutir padi? Bahkan sebagian mereka rela merampok, mencuri, mencopet, bahkan saat ini ramai membegal. Pernahkah, Pak? Saya tahu bapak begitu sibuk. Tapi saya mohon pak, hadirlah di hadapan kami, lihatlah air mata kami.

Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang saya hormati. Negara ini negara demokrasi. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Bukan oligarki. Tentu bapak jauh lebih paham akan hal ini. Namun mengapa, pak? Suara rakyat seolah mati. Pemerintahan diduduki oleh sosok-sosok misteri. KPK bentrok dengan POLRI. Korupsi semakin menjadi-jadi. Kini KPK tidak lagi bernyali. Di mana peran bapak? Bukankah di sinilah arti peran penting seorang pemimpin, pak? Ke manakah bapak saat ini? Saya mohon pak, hadirlah di hadapan kami, lihatlah air mata kami.

Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang saya hormati. Yang saya tahu bahwa negara kita adalah negara yang sangat kaya. Sumber daya alamnya begitu melimpah. Namun mengapa pak? Mengapa masih banyak rakyat yang belum sejahtera? Di mana kekuatan ekonomi kita? Bagaimana dengan kemandirian ekonomi kita? Bukankah itu termaktub dalam Nawa Cita yang bapak janjikan? Ke mana bapak saat ini? Saya mohon hadirlah di depan kami, sebentar saja, lihatlah linangan air mata kami.

Akhirnya pak. Dengan segenap cinta yang membuncah di hati kami. Cinta akan merdekanya bangsa ini. Cinta akan sejahteranya rakyat negeri ini. Hadirlah di hadapan kami. Stabilkan harga bahan pokok, Jamin kesejahteraan petani dan rakyat miskin, Usut tuntas korupsi. Sungguh masih begitu banyak yang ingin saya sampaikan kepada Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Semoga suatu hari Allah mempertemukan kita. Terima Kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Benni Situmorang

Institut Pertanian Bogor

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa IPB.

Lihat Juga

Amal Spesial, Manajemen Hati

Figure
Organization