Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Ayah dan Sang Mentari

Ayah dan Sang Mentari

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pagi itu Masa dan kawan-kawan sedang belajar anatomi. Ini adalah pagi yang merenggut kebahagiaan gadis malang ini. Pagi yang mengubah status Masa menjadi yatim.. Pagi yang tak pernah diingini kehadirannya dalam hidup Masa.

Setelah terdengar dering lonceng yang menandakan pergantian jam pelajaran. 15 menit berselang setelah hadirnya dosen yang mengajarkan anatomi, terdengar bunyi sepeda motor datang. Tidak seperti biasanya, sepeda motor itu langsung parkir di depan kelas.

Ada apa gerangan?” desis Masa dalam hati.

Assalamualaikum, bolehkah saya bertemu dengan Masa?” kata laki-laki asing itu tergesa-gesa.

Waalaikumussalam. Memangnya ada perlu apa”? Tanya bu dosen dengan sedikit nada introgasi.

Masa mulai tak tenang, di dalam dirinya hadir sejuta tanya.

“Ayahnya Masa telah meninggal dunia” jawab laki-laki tadi sambil sedikit berbisik kepada ibu dosen.

Baiklah Masa bisa langsung pergi biar saja saya yang meminta izin kepada bagian kemahasiswaan, sekaligus ibu asrama” kata bu dosen tanpa berpikir lama. Saking sedihnya bu dosen tidak lagi menanyakan identitas lelaki pembawa kabar duka tadi.

Bu dosen segera kembali ke kelas seraya berkata “Masa, boleh pulang hari ini, nanti ibu yang meminta izin buat kamu”. Dengan bimbang dan sejuta tanda tanya yang memenuhi kepalanya, Masa pamit pada bu dosen dan kawan-kawan sekelasnya.

Lantas keluar dari lisannya “Ibu dan teman-teman, masa pamit dulu ya, selamat pagi” . tanpa banyak menjelaskan maksud kedatangannya, lelaki tadi segera menyalahkan mesin sepeda motornya. Lantas menyuru Masa untuk segera naik.

Jarak dari kabupaten tempat Masa menimbah ilmu ke Sunara1 kurang lebih 23 km. Sepanjang perjalanan, Masa banyak bertanya demi menghilangkan rasa penasaranya. Mulai dari identitas lelaki misterius tadi, sampai pada maksud kedatangannya.

Pemuda itu rupanya hanya mempunyai satu jawaban.. Nantinya juga kau akan tahu semuanya setelah sampai di rumah”. Satu jam berselang, sampailah mereka di Sunara. Tepat di depan rumahnya, telah berkumpul pemuka-pemuka adat dan kepala-kepala suku dusun itu.

Pagi itu mendung bergurun menutupi hati calon perawat muda itu. Di kamarnya ia berkurung diri tidak mau menyapa siapapun kecuali ibunya yang mengantarkan makanan kepadanya. Gadis belia yang masih berusia 22 tahun ini seakan tak rela melepaskan kepergian Ayahnya. Bagi dia, Ayahnya terlalu berarti. Dia terperangkap di antara perasaan takut dan sedih. Dia takut kalau-kalau dia tidak lagi bisa melanjutkan kuliyahnya. dan dia sedih karena telah kehilangan satu-satunya orang yang mau membiayainya melanjutkan studi.

Tidak seperti biasanya Gadis yang di beri nama Masa ini, dikenal sebagai gadis yang periang dan mudah bergaul. Kali ini semuanya berbalik 180 derajat. Dia kini larut dalam kesedihannya. Terbuang jauh sudah keperiangannya. Semua itu terjadi karena sangat besarnya cinta dia pada Ayahnya. Yang paling membuat dia sedih adalah semasa kuliahnya selama tiga tahun di AKPER (AKAdemi PERawat) dia tidak pernah melihat Ayahnya di bawah terik matahari. Apakah karena Ayahnya bukan seorang pekerja keras?

Bukan itu, bahkan Ayahnya lebih dari sekadar pekerja keras. Lalu apa yang membuat si gadis malang ini tidak pernah melihat Ayahnya di bawah terik matahari? Semenjak dia menginjakkan kaki di bangku kuliyah, Ayahnya tak pernah lagi terlihat di rumah pada siang hari. Sang Ayah berangkat ke tempat kerja ditemani sang fajar. Dan kembali berjumpa keluarganya ditemani sang rembulan. Di hutan rimba nun jauh di sana dinanti bermacam-macam hewan buas yang siap menerkam kapan saja ada perintah. Di sanalah tempat Ayah gadis malang ini mengais rezeki. Jika hari berganti, bertambah jauh jarak yang harus sang Ayah tempuh, aktivitas ini dia tekuni selama tiga tahun, tanpa mengeluh kepada siapapun jua. Semua itu dia lakukan demi tempat kebahagiaan anaknya dan kebanggaan dusunnya.

Masa adalah satu-satunya putri dusun tempat dia tinggal, yang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dia berbeda dengan gadis-gadis sebayanya yang rata-rata sudah beranak tiga bahkan empat. Mereka menikah di kala masih duduk di bangku SMP atau seusia itu. Tidak banyak di antara mereka yang sekolah. Bahkan masih ada di antara orang-orang tua mereka yang tidak bisah berbahasa Indonesia. Dari itu, jika ada yang putus sekolah lantas menikah, itu bukanlah sebuah hal baru lagi bagi mereka. Nikah muda bagi mereka adalah hal yang lumrah.

Masa bukannya tidak memiliki siapa-siapa yang bisa membiayai dia melanjutkan kuliah. Gadis ini bahkan memiliki dua orang kakak, yang satunya memiliki ladang cengkih yang sekali panennya, mampu menghasilkan ratusan juta. Yang satunya lagi memiliki kebun kelapa yang luasnya berpuluh-puluh hektar. Akan tetapi kemauanlah yang tidak ada pada mereka. Mereka lebih sepakat kalau dia menikah sama seperti gadis-gadis dusun itu. Hal ini, membuat Ayahnya yang harus bertarung melawan buasnya rimba dan dangkalnya pemikiran masyarakat dusun.

Kini yang tersisa hanyalah sang Ibu, Masa, dan cita-citanya. Lingkungan sekitar seakan pura buta dan pura tuli. Satu kata yang dia jadikan motifasi Adalah nasihat Ayahnya takkala pertama kali mengantarkannya masuk asrama.

“Nak, cukuplah jangan lagi ada kata orang, kalu hendak membeli orang bodoh, pergilah ke Sunara” kata Sang Ayah sambil mengecup kening Masa yang di balas dengan tetesan airmata bangga kala itu. Masa bangga memiliki Ayah yang semangatnya berbeda dengan semangat kebanyakan Ayah-Ayah yang ada di dusun tempat dia tinggal.

Lantas, apaka Masa masih dapat melanjutkan kuliahnya? Siapakah gerangan si pembawa berita duka yang menyayat luka? Apa penyebap kematian ayahnya?

Nantikan kisah selanjutnya.

Keterangan:

Sunara : nama sebuah dusun, di desa Sepa kecamatan Amahai kabupaten Maluku Tengah provinsi Maluku.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Gima
Guru bahasa Arab di SMP IT Al-Bina Masohi,

Lihat Juga

Doa Terbaik untuk Ayahanda Harvino, Co-pilot Pesawat Lion Air dan Ayah bagi 10 Anak Yatim

Figure
Organization