Topic
Home / Narasi Islam / Life Skill / Menumbuhkan Gairah dan Vitalitas Hidup

Menumbuhkan Gairah dan Vitalitas Hidup

ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Hidup sejatinya berisi persaingan. Lihatlah para pedagang kaki lima yang bersaing satu sama lain untuk menjajakan dagangannya yang notabene jenisnya sama dengan pedagang lain. Atau lihatlah para pekerja yang bersaing mendapat tempat duduk di commuter line demi berangkat kerja.

Jika kita bertanya, apa yang membuat mereka begitu rela melakukan itu semua? Jawabannya satu, karena mereka memiliki gairah. Mengapa penting memiliki sebuah gairah? Karena dengan adanya gairah, kita mampu untuk menjalani hidup yang isinya penuh dengan persaingan. Jika saja gairah itu tidak ada, mungkin kita memilih tidak berangkat kerja, atau memilih untuk lebih santai di rumah menikmati hidup yang ala kadarnya.

Padahal kita sudah paham bahwa “waktu adalah pedang“. Kita tahu pedang kan? Kalau kita tidak tahu bagaimana cara memakainya maka kita akan terbunuh oleh pedang itu sendiri, kalau kita tidak dapat mematahkannya maka ia yang justru akan memenggal kita. Oleh sebab itu, waktu 24 jam yang ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan tentu harus diimbangi dengan sebuah kegairahan dalam menjalaninya.

Barang siapa yang hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang sukses. Barang siapa yang hari ini sama seperti yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang tertipu. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan yang terdahulu, maka dia termausk orang-orang yang merugi di hadapan Allah swt

Lantas, bagaimana tips agar kita bisa lebih bergairah dalam menjalani hidup? Berikut saya bagi tipsnya…

  1. Miliki tujuan hidup. Hal ini penting karena jika kita tidak memiliki tujuan hidup kita akan kebingungan hendak melakukan apa dan untuk apa melakukannya. Sebab bagi seorang yang memiliki gairah hidup, ia tahu untuk apa ia bekerja, untuk apa ia beribadah dan untuk apa ia melakukan aktivitas lainnya. Cobalah tuliskan apa impian dan harapan kita dalam kehidupan ini. Dan coba untuk merealisasikannya secara perlahan.
  2. Lakukan aktivitas yang disenangi. Kunci gairah dalam beraktivitas adalah ketika kita menyenangi apa yang kita lakukan. Mungkin sesekali kita bosan dengan sebuah rutinitas, namun dengan memiliki sebuah gairah kita mampu mengatasi kejenuhan dengan mengalihkan kesibukan dengan aktivitas yang disenangi. Cobalah sesekali mencari hiburan di tengah kepenatan. Misalnya dengan bersepeda di sekitar komplek, atau mengamati anak-anak yang sedang bermain di lapangan dekat rumah.
  3. Menikmati setiap aktivitas. Hal ini yang sering terlupa oleh kita. Mungkin kita berkerja setiap hari atau beraktivitas yang itu-itu saja tapi kita tidak menikmatinya, kita bekerja sambil menggerutu atau hati tidak ikhlas dalam mengerjakan sesuatu maka hasilnya pun tidak maksimal. Cobalah untuk bisa menikmati setiap apa yang kita kerjakan dan menghayati setiap prosesnya. Karena proses yang berlangsung belum tentu dapat terulang kembali nantinya.
  4. Cari lingkungan yang mendukung. Betapa penting memiliki teman-teman maupun lingkungan yang mendukung setiap aktivitas kita. Semisal saja cari teman-teman yang juga memiliki gairah untuk berkeja, beribadah dan lain-lain. Hindari teman-teman maupun lingkungan yang membuat kita bermalas-malasan, enggan beribadah dan hanya menghabiskan waktu percuma. Nabi saw pernah bersabda, “Barangsiapa bergaul dengan tukang api, maka kita akan terkena percikannya. Sebaliknya, barang siapa bergaul dengan pedagang minyak wangi, maka kita akan terkena harumnya.”
  5. Syukuri apa yang sudah dimiliki. Berapa banyak orang yang tidak bergairah dalam setiap aktivitas lantaran ia tidak mensyukuri apa yang sudah didapati dan dimiliki. Ia merasa Tuhan tidak adil, ketika ia sudah bekerja mati-matian namun hasil yang didapat tidak sesuai dengan perkiraannya maka ia pesimis dan hilang gairah dalam menjalani kembali aktivitas yang digelutinya. Cobalah untuk bersyukur bahwa apapun yang kita kerjakan pasti Allah balas dengan setimpal, bisa dengan hasilnya yang sesuai atau kebaikan-kebaikan lain yang didapatinya.

Percayalah, hidup ini tak ubahnya seperti siang dan malam. Kalau jasad kita sedang mendapatkan kenikmatan, akan memberi kesenangan dan ketenangan pula pada jiwa. Sebaliknya kalau kesusahan dan kesulitan hidup sedang menerpa, maka jiwa ikut merasakannya dengan tidak ada ketenangan.

Jiwa kadang kala lebih sensitif daripada jasad dan dipengaruhi oleh segala macam persoalan yang masuk dari luar, yang direspon atau ditangkap oleh indera manusia. Oleh karenanya jiwa harus selalu dirawat, dibina dan dihidupkan. Jiwa, bagaikan tanaman yang mesti selalu disiram dengan air, diberi pupuk dan dirawat.

Seorang yang hidupnya tidak memiliki gairah, pada umumnya memiliki sikap apatis, pasrah, dan tidak berambisi dalam menjalani kehidupan. Manusia semacam itu, pada hakikatnya telah mati jiwanya.

Maka, untuk mengembalikan gairah hidup dan menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang hampir atau bahkan sudah mati, kita perlu perbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Memperbanyak intensitas beribadah dan lebih peka terhadap sekitar kiranya bisa membuat gairah hidup kita kembali muncul. Poin pentingnya yang perlu dipahami, “karena hidup cuma sekali, habis itu mati, maka jadilah manusia yang berarti”. (usb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Deasy Lyna Tsuraya
Fulltime mother yang sedang asyik mengurus seorang putra, senang menulis dan mengembangkan kemampuan diri menjadi seorang pembicara atau moderator acara kemuslimahan. Mengisi kesehariannya dengan mengelola web islami dan usaha Rumah Koleksi Antaradin yang bergerak di bidang fashion islami.

Lihat Juga

Teater Kehidupan

Figure
Organization