Home / Berita / Daerah / Pengamat: Ahok Ribut di Wilayah Kecil untuk Mengamankan Proyek Besar

Pengamat: Ahok Ribut di Wilayah Kecil untuk Mengamankan Proyek Besar

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).  (iberita.com)
Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). (iberita.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Direktur Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) Muhamad Hatta Taliwang mengatakan, di balik kisruh APBD DKI tahun 2015 antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dengan DPRD DKI Jakarta, terdapat kepentingan kelompok-kelompok tertentu seperti proyek raksasa Giant Sea Wall.


“Proyek Giant Sea Wall itu proyek raksasa dan besar. Ada analisis Ahok ribut di wilayah kecil untuk mengamankan wilayah yang sesungguhnya, yaitu Giant Sea Wall,” kata Hatta saat ditemui di kompleks gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/3/2015).


Dari informasi yang didapat, e-Budgetting yang disampaikan Ahok ke Kemendagri tercantum nama proyek Giant Sea Wall, padahal dalam pembahasan sebelumnya antara DPRD dan Pemprov DKI, anggaran tersebut sama sekali tidak tercantum.


“Itulah substansi yang disembunyikan. Mereka melibatkan pengusaha besar, pemilik modal besar, konspirasi kapitalis besar. Nah e-budgetting itu dalam sisi lain. Itulah cara pemilik modal besar meneropong mana-mana wilayah basah dari anggaran. Itu karena makin sulitnya bisnis di dunia sekarang, sampai APBD-APBD yang strategis pun mereka ingin tahu. Nah caranya, itu melalui mekanisme e-budgeting itu. Bisa diakses oleh mereka, para kapitalis global ini. Termasuklah di dalam kaitan proyek-proyek besar yang raksasa ini,” katanya.


Lebih lanjut Hatta mengatakan, dalam e-Budgeting itu semua terdapat rinciannya, seperti juga hal-nya proyek monorel.

“Ini siapa pihak asingnya. Ada Cina, ada Jepang, ada konsorsium dari Filipina, macam-macam ini justru luput dari daya kritis kita,” kata Hatta.

“Bahayanya dari proyek giant sea wall adalah kita tidak bisa mendeteksi kapal-kapal yang akan merapat nanti. Apalagi kalau nanti di monopoli oleh kelompok-kelompok tertentu,” tambahnya.


Dirinya menyebutkan, penyelundupan yang melalui pantai-pantai, spesialis penyelundupan uang palsu, narkotika dan senjata bisa dengan sangat mudah terjadi jika melalui Giant Sea Wall.


“Kalau mereka menusuk lewat bawah, dasar, bisa saja Jakarta, ibukota negara yang strategis ini, katakanlah diletakkan bom disana, maka kita tersandera semua. Negara ini tersandera. Jadi tidak bisa hak eksklusif seperti itu kita biarkan. Konflik yang kecil ini dijadikan arena tempur sementara yang raksasa ini terabaikan,” kata Hatta. (tribunnews/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Fahira: 100 Hari Kerja Anies-Sandi Mengecewakan Kaum Pesimis