Topic
Home / Berita / Nasional / Kisah Wanita yang Selamat dari Kanker Mulut Karena Giginya Patah

Kisah Wanita yang Selamat dari Kanker Mulut Karena Giginya Patah

Lisa Epsom, sebelum dan sesudah operasi.  (milliyet.com)
Lisa Epsom, sebelum dan sesudah operasi. (milliyet.com)

dakwatuna.com – Ketika giginya patah saat membuka botol jus anaknya, Lisa Epsom mengira ia hanya membutuhkan perawatan lanjutan dari dokter gigi. Namun faktanya, saat memeriksa dokter justru menemukan kanker di mulutnya.

Lisa bahkan divonis tidak akan berumur panjang karena kankernya sudah masuk stadium lanjut.  Setelah 14 jam operasi untuk mengambil tumornya, Lisa mengatakan, “Botol jus itu’ menyelamatkan hiduku. Jika aku tidak membukanya dengan gigi, aku tidak akan berada di sini,” katanya.

Karena tumor itu pula, Lisa harus kehilangan separuh dari wajahnya. “Penampilanku berubah dan aku merasa cacat. Orang-orang menatap saya di jalanan. Tetapi aku hidup dan bisa melihat anakku tumbuh, jadi itu bukan masalah berarti bagiku. Aku ingin orang lain lebih waspada terhadap kanker mulut, karena aku sendiri belum pernah mendengarnya,” paparnya.

Wanita usia 34 tahun ini mengalami masalahnya di bulan September 2013. Ia membuka botol jus dengan gigi dan salah satu giginya patah.

Namun ketika dokter gigi memeriksa giginya, ia lebih memperhatikan bercak merah di langit mulut dan memberi Lisa cermin untuk melihatnya.

“Sebenarnya saya telah menemukannya setahun sebelumnya, namun dokter umum mengatakan itu tak perlu dikhawatirkan. Aku melihatnya makin membesar, sebesar koin 5 sen dengan urat yang menonjol,” katanya.

Hasil pemeriksaan lanjutan memastikan bercak merah itu adalah tumor. Terlebih sejak muda Lisa adalah seorang perokok.

Lisa yang merupakan ibu tunggal dari 4 anak ini diberi tahu bahwa ia mengidap karsinoma kistik adenoid dari langit mulut keras, suatu kanker mulut langka yang membutuhkan perawatan segera.

Ia tinggal bersama dua anak terkecilnya, Maison (6) dan Tiffany (2). Sementara itu dua anak tertuanya, Sarah (14) dan Natasha (12) tinggal bersama ayahnya.

“Sekarat bukan pilihan bagiku. Aku harus kuat demi anak-anakku,” katanya.

Ia direncanakan untuk menjalani CT dan MRI scan untuk melihat seberapa jauh kankernya telah menyebar. Ada kabar buruk karena ketika biopsi ditemukan tumor sebesar bola golf di dalam hidung dan pipinya. Lisa pun sangat syok begitu mengetahui bahwa jika dalam 6 sampai 8 minggu ia tidak diobati, ia bisa saja kehilangan nyawa.

Dua minggu kemudian, pada Desember 2013 ia menjalani operasi besar. Sebelum operasi ia mencium anak-anaknya dengan berurai air mata.

“Aku amat takut tidak bisa bertemu mereka lagi. Aku melihat wajah mereka dan membuat ibuku berjanji ada untuk mereka jika terjadi sesuatu padaku,” ceritanya.

Selama operasi, dokter bedah mengambil hampir semua  tulang pipi dan langit mulut Lisa, lalu menggunakan jaringan dari pahanya untuk mengonstruksi kembali wajahnya.

“Ketika bangun, aku merasa seperti dari ring tinju. Wajahku diliputi rasa sakit. Aku meminta cermin segera untuk melihat wajahku, tetapi perawat ragu-ragu,” kenangnya.

Lisa sangat terkejut melihat wajah barunya hingga menangis. Ia berpikir bahwa ia terlihat seperti monster. Wajahnya saat itu sangat membengkak. Ia pun merasa tidak seperti dirinya sendiri. Akibatnya, anaknya baru bisa mengunjunginya tiga minggu setelah operasi di rumah sakit.

Yang paling membuat hati Lisa hancur adalah anak-anaknya takut melihatnya. “Maison bertanya apakah wajahku bisa kembali normal, aku pun menjelaskan bahwa meskipun terlihat berbeda dari luar, aku akan tetap menjadi ibu yang sama dari dalam. Dia hanya mengangkat bahu dan berkata ‘Aku tahu’ dan melompat ke pangkuanku untuk berpelukan,” ujar Lisa.

Lambat laun Tiffany juga terbiasa dengan tampilan baru ibunya. Lisa meninggalkan rumah sakit sebulan setelah operasinya. Tapi ia harus melakukan radioterapi selama 6 minggu. Terapi tersebut membuatnya sulit makan, ia mengalami penurunan berat badan drastis. Ukuran bajunya menyusut, bahkan ia sampai makan melalui tabung. Namu akhirnya pada Juli 2014, ia dinyatakan terbebas dari kanker.

Saat ini, delapan bulan kemudian, ia mulai berani muncul di hadapan publik, walaupun melihat tatapan orang banyak masih sulit ditanganinya. Ia juga menghindar dari cermin.

“Rasa percaya diriku sirna tetapi itu hal kecil untuk dibayar. Aku belajar bagaimana hidup lagi dan aku hidup, itu yang paling penting dari hal apapun. Aku telah belajar banyak hal tentang hal penting, aku memiliki keluarga dan teman yang luar biasa yang mendukungku langkah demi langkah,” katanya.  (kompas/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Doa dan Munajat untuk Keselamatan Dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Organization