Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Umat Islam Menghadapi Berbagai Tantangan

Umat Islam Menghadapi Berbagai Tantangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)

dakwatuna.com –  Belakangan ini umat Islam sedang diguncang oleh banyak isu, baik dalam skala nasional maupun internasional. Polemik tentang peran agama di Indonesia, negara yang sangat heterogen, seakan tidak ada hentinya. Terlebih lagi, jika menyangkut sebuah kepercayaan yang pemeluknya adalah mayoritas dari warga bangsa.  Mulai dari fanatisme gerakan, pernikahan beda agama, upaya menghilangkan identitas muslim, hingga toleransi agama yang berlebihan di Amerika Serikat.

Memasuki abad 21, ancaman terhadap eksistensi Islam mulai muncul dari berbagai arah. Hal yang sederhana namun berbahaya, terkadang tidak terpikirkan oleh kita semua, bahkan cukup melebur di kalangan masyarakat. Tumbuh pesatnya aliran, keyakinan, firqah, mewarnai mazhab yang sudah ada di kalangan umat Islam. Semakin banyaknya aliran diikuti dengan perkembangbiakan pahamnya, nau’udzu billahi min dzalik, sangat memungkinkan terjadinya gesekan dalam tingkat mengkhawatirkan.

Sikap saling berbantahan akan menguras energi masing-masing kelompok untuk menunjukkan bahwa pahamnyalah yang paling benar. Tanpa disadari, musuh-musuh Islam akan tertawa melihat fenomena tragis ini.

Pernikahan Beda Agama

Di penghujung tahun lalu, Indonesia digegerkan lagi dengan persoalan menikah lintas agama. Sebenarnya polemik tersebut sudah terjawab dalam UU nomor 1 tahun 1974 yang menyebutkan pada pasal 2 ayat (1), “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.” Jika ada agama yang mengharamkannya, maka tidak sah. Secara tegas pun MUI melarang adanya pernikahan beda agama. Hal itu berlaku bukan hanya pada Islam.

Namun, ketegasan pemerintah masih belum terlihat sehingga terdapat celah untuk menikah beda agama di luar negeri karena Kantor Catatan Sipil tetap dapat mencatat pernikahan beda agama di luar negeri.

Dalam Islam, seorang pria Muslim diperbolehkan menikahi perempuan non Muslim dengan catatan mampu mengajaknya untuk menjadi mualaf. Namun, akan menjadi haram jika pemahaman agama dan akidah si pria lemah, karena akan berpotensi murtad, jika tetap dipaksakan. Sedangkan perempuan Muslim haram hukumnya untuk menikahi pria non Muslim seperti dinyatakan dalam Alquran, surat Al Baqarah ayat 2, “Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman”.

Penghapusan Identitas Muslim

Isu lain seputar identitas kependudukan. Akan menjadi tamparan besar bagi umat Islam di Indonesia, jika kolom agama pada kartu identitas penduduknya dihapus begitu saja. Seluruh penjuru dunia tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar sedunia, sekitar 205 juta jiwa atau 12,7 persen dari total penduduk dunia, menurut The Pew Forum on Religion & Public Life pada tahun 2010. Dengan total penduduk Muslim dunia sekitar 22,43 persen pada 2013 (30days.net), maka akan berdampak sangat kritikal jika identitas umat Islam di Indonesia dihilangkan.

Toleransi Agama Kebablasan

Beberapa waktu silam, sebuah gereja besar di Washington DC menjadi tempat shalat Jum’at berjama’ah. Satu peristiwa yang sangat mengejutkan. Seperti dilansir VOAIndonesia.com, 14 November 2014, menjadi hari yang ‘aneh’ dengan adanya peristiwa itu. “Katedral Nasional Washington adalah tempat ibadah bagi semua orang,” sambut Pendeta Gina Campbell. Pendeta Campbell bersama Duta Besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat, Ebrahim Rasool, yang menjadi pemrakarsa dari kegiatan tersebut pasca peringatan antar agama bagi almarhum Nelson Mandela, beralasan hal tersebut mampu menebarkan perdamaian serta mengurangi perselisihan antar agama di Amerika Serikat.

Peristiwa tersebut berpotensi memancing kontroversi dan menimbulkan toleransi agama yang berlebihan. Karena bisa saja setelah hal tersebut, akan muncul fenomena serupa di tempat lain dalam bentuk berbeda, misalnya diperbolehkan ada ritual kebaktian Kristen atau persembahan agama non-Islam lainnya di masjid-masjid. Sudah jelas, Islam adalah agama toleran, namun tidak menyangkut masalah akidah, ibadah, apalagi prinsip tauhid.

Evaluasi

Wawasan keumatan menjadi elemen penting untuk mencapai cita-cita bersama. Cita-cita yang ditegakkan Rasulullah Saw, Islam akan kembali berjaya. Imam Ahmad, Nasa’i, Abu Syaikh, dan Hakim meriwayatkan kabar dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw pernah membuat satu garis lurus dengan tangannya, lalu bersabda, “Ini jalan Allah yang lurus.” Kemudian kembali menggariskan beberapa garis dari kanan-kiri garis pertama tadi dan kembali bersabda, “Pada setiap jalan dari jalan-jalan itu ada setan yang mengajak untuk menempuhnya.” Kemudian Rasulullah membaca Alquran, petikan Surat Al An’am ayat 153.

Pesan itu jelas, bahwa Umat Islam harus konsisten mengikuti jalan yang lurus sebagaimana ditetapkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Selain itu, harus waspada terhadap jalan-jalan lain yang dipromosikan dan dipropagandakan orang yang tidak suka dengan Islam, meskipun dari lisannya mungkin meluncur kalimat-kalimat pemanis.

Masih banyak lagi masalah yang timbul (dan berpotensi timbul) ke permukaan. Saat ini, Indonesia bahkan dunia sangat membutuhkan soliditas kaum Muslimin. Tanpa persatuan yang teguh dan semangat untuk saling membantu, umat Islam akan kembali dijajah dalam berbagai aspek kehidupan. Setiap komponen umat harus menjalankan tugas dan memegang tanggung-jawab, jangan ada yang melalaikan kewajiban kolektif. Seperti saat perang Uhud, umat Islam dipukul mundur karena kelalaian kelompok pemanah yang tergoda dengan harta rampasan perang.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Rizky Yudo Atmaja
Pembina LDK Senada STT NF. Content Creator.

Lihat Juga

Anggota DPR AS: Trump Picu Kebencian pada Islam di Amerika

Figure
Organization