Home / Berita / Silaturahim / Menggali Keilmuan Melalui Bedah Jurnal

Menggali Keilmuan Melalui Bedah Jurnal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Bedah Jurnal STEI SEBI.  (Fajriyah)
Bedah Jurnal STEI SEBI. (Fajriyah)

dakwatuna.com – Setelah menggelar pelatihan karya tulis ilmiah yang diselenggarakan sekitar satu bulan lalu, hari ini STEI SEBI mengadakan diskusi bedah jurnal yang dimulai pukul 16:00 sampai maghrib di kelas Ibnu Taimiyah 4. Hal ini membuat kampus yang terlihat mungil ini siap mencetak peradaban yang dapat mengguncang gelombang globalisasi dunia. Terbukti dari jurnal yang dibahas merupakan jurnal berbahasa inggris, sebagai pelatihan sebab kita telah memasuki era MEA.

Kegiatan bedah jurnal merupakan agenda rutin STEI SEBI setiap 2 pekan sekali. Agenda ini diprakarsai oleh Organisasi Mahasiswa IsEF (Islamic Economic Forum), dan ditujukan untuk para pengurusnya. Sebagai pengantar, tim Penilitian dan Pengembangan (Litbang) IsEF menampilkan video tentang bagaimana kedudukan ASEAN di antara negara lain, tentang Indonesia yang tergabung dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) atau disebut juga AEC (ASEAN Economic Community) serta sejauh mana kesiapan Indonesia menghadapinya.

“padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun sayang, kelemahan infrastruktur menjadi kelemahan kita yang menyebabkan sumber daya alam ini tidak dapat difungsikan secara maksimal”, ujar Zilal, mahasiswa jurusan Perbankan Syariah semester IV selaku anggota litbang.

Jurnal yang dibahas kali ini bertemakan Monetary Management in Islamic Economic (Manajemen Moneter dalam Ekonomi Islam), yang ditulis oleh Mohsin S. Khan dan Abbas Mirakhor dalam International Monetary Fund di Washington, DC. Jurnal ini membicarakan tentang bagaimana kestabilan moneter dapat terjaga dengan menjalanakn sistem ekonomi islam, dengan mengutamakan konsep musyarakah dan mudharabah, serta tidak melibatkan bunga dalam suatu investasi.

“bicara moneter berarti berbicara tentang uang. Dalam Al-Qur’an, Allah juga menjelaskan tentang transaksi yang dilakukan secara tidak tunai atau yang biasa kita kenal sebagai utang-piutang, dan itu juga bersangkutan dengan uang. Begitu detilnya islam sampai regulasi tentang perputaran uang pun diatur di dalamnya”, jelas Abdurrohman, salah satu presentator pada diskusi bedah jurnal.

Selain masalah musyarakah, mudharabah dan riba, jurnal ini juga membahas beberapa transaksi yang selama ini dikenal dalam lembaga perbankan syariah, seperti leasing, qardhul hasan, akad salam, bahkan sampai pasar sekunder dan pasar uang. “islam memberi solusi agar pasar sekunder dan pasar uang di kontrol oleh Pemerintah”.

Disamping itu, sistem ekonomi islam juga menjelaskan peran negara dalam menjaga kestabilan ekonomi diantaranya, yang pertama adalah memastikan bahwa setiap orang berhak memiliki matapencarian yang sama, artinya mengoptimalkan sumber daya manusia. Yang kedua, memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam menggunakan sumber daya alam. Yang ketiga menjamin pasar dapat difungsikan hanya dengan pengawasan yang sangat diperlukan (tidak berlebihan). Yang keempat, menjamin bahwa perpindahan harta hanya berlangsung dari yang pihak yang kelebihan dana kepada pihak yang membutuhkan dana namun tetap dalam peraturan syari’ah. Dan yang terakhir, distribusi keadilan tersebut diatas juga dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Sebagai penutup, tim presentator menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai sarana pembelajaran, masih memiliki beberapa kekurangan, baik itu dalam menerjemahkan, maupun dalam menyampaikan materi diskusi. Namun dari itu semua, kita dapat mengambil intisari bahwa ekonomi islam memang masih memiliki banyak tantangan apalagi bila memasuki kancah internasional yang didominasi sistem konvensional, sistem ekonomi islam harus tetap mempertahankan nilai – nilai syari’ah, namun juga dapat fleksibel berdampingan dengan ekonomi konvensional sebagai pendukung berputarnya regulasi moneter agar tetap stabil. Dan kami, selaku mahasiswa yang didedikasikan untuk menyebarluaskan ekonomi islam, berkewajiban untuk memahami sistem ekonomi islam secara menyeluruh dan dapat menyebarkannya ke masyarakat dengan bahasa yang mudah diterima. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Anak kedua dari tiga bersaudara yang hobi main diluar rumah. Lebih suka tidur dari pada nonton sinetron, suka tilawah dan belajar bahasa Inggris dari musik, serta sering iseng-iseng menulis.

Lihat Juga

Launching, Komunitas Sahabat Erdogan Gelar Diskusi Publik