Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Beasiswa Rokok, Mungkinkah?

Beasiswa Rokok, Mungkinkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (rsh-kredit.ru)
Ilustrasi. (rsh-kredit.ru)

dakwatuna.com – Di tengah polemikmya permasalahan UKT di kampus ini, mahasiswa disarankan mencari beasiswa-beasiswa. Apakah itu Beasiswa PPA, BUMN, Swasta, Provinsi dan lain-lain. Namun di sini ada suatu permasalahan unik, yaitu beasiswa dari perusahaan rokok.

Perusahaan rokok dalam upaya menciptakan citra positf mereka, mereka melakukan upaya-upaya, salah satunya Corporate Social Responsibility (CSR). CSR ini direalisasikan melalui pemberian beasiswa kepada wartawan, mahasiswa dan anak-anak sekolah yang berprestasi, proyek bantuan lingkungan dan kegiatan lainnya di bawah nama perusahaan atau nama produk industri rokok tersebut.

Beasiswa dari perusahaan rokok ini memfasilitasi mahasiswa mulai dari uang, training, dan mempromosikan beasiswa di TV. Satu hal yang mungkin kita yang harus gunakan hati dan pikiran kita, darimana beasiswa itu berasal? Bergerak di bidang apa pemberi beasiswa?

Rokok adalah penyebab 100 juta kematian manusia selama abad 20 dan berkembang menjadi 5,4 juta/tahun kematian di dunia pada awal abad 21 sekarang . Kematian akibat rokok di Indonesia pada tahun 2007 sekitar 390.000 orang/tahun dan telah mencapai 427.948 orang/tahun atau 1.172 orang/hari (sumber: WHO Report on The Global Tobacco Epidemic, The MPOWER Package dan Fakta Konsumsi Tembakau di Indonesia, data tahun 2007 dari Indonesia Tobacco Control Network dan Laporan Badan Khusus Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (TCSCIAKMI) tahun 2008)

Dalam pikiran mahasiswa penerima, beasiswa ini adalah prestasi kerja keras mereka. Mereka merasa berhak mendapatkannya. Itu sebabnya ketika dikritik, mereka cenderung curiga jangan-jangan pengritiknya pingin dapat beasiswa rokok tapi gagal. Mereka menganggap orang lain iri dan dengki. Lalu setelah menjadi penerima beasiswa, apakah mereka berkampanye mendorong harm reduction produk rokok? Tidak. Lalu di mana CSR-nya? Biar sampai menghasilkan ribuan angkatan, para alumni beasiswa rokok tidak bakal pernah ditugasi oleh industri rokok untuk melakukan misi CSR. Karena beasiswa itu bagi korporasi bukan alat CSR.

Bagi industri rokok, CSR itu tidak pernah eksis. Beasiswa itu adalah bentuk lain dari marketing. Dengan kata lain, penerima beasiswa rokok adalah tenaga pemasaran, brand ambassador. Beasiswa yang diterima tak lebih dari sekadar upahnya. Bagaimana mungkin penerima upah melawan pemberi upah. Hampir tidak mungkin, kecuali tidak cocok harga.

Hendaknya kita selektif dulu dalam hal penerima beasiswa, karena tindak tanduk kita dalam menerima beasiswa itu merupakan perwujudan mendukung atau tidaknya kita dalam program perusahaan tersebut.

Sumber:

  • Thabrany, Hasbullah.”Rokok mengapa Haram?”. Unit Pengendalian Tembakau FKM-UI
  • WHO Report on The Global Tobacco Epidemic, The MPOWER Package dan Fakta Konsumsi Tembakau di Indonesia, data tahun 2007 dari Indonesia Tobacco Control Network Laporan Badan Khusus Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (TCSCIAKMI) tahun 2008
  • Kartolo facebook.com

 

 

 

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya.

Lihat Juga

Meneguhkan Pesantren Tanpa Rokok