Home / Narasi Islam / Wanita / Kecantikan Wanita Muslimah

Kecantikan Wanita Muslimah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

muslimahdakwatuna.com – Hai Nabi katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang-orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. al-Ahzab: 59)

Menurut tafsir Ibnu katsir ayat di atas menerangkan tentang perintah memakai jilbab. Menurut Ibnu Mas’ud, Ubaidah dan Qatadah jilbab berarti selendang yang lebih lebar daripada kerudung. Yakni yang dapat menutup sampai ke dada sehingga bentuk lekuk tubuh wanita dapat ditutupi. Hal ini sebagai pembeda antara muslimah dengan wanita jahiliyah dan agar para muslimah tidak diganggu oleh orang fasik dengan suatu gangguan atau ejekan.

Namun permasalahannya tidak semua wanita muslim menyadari akan kewajiban menutup aurat ini. Kalau kita lihat saudari-saudari kita sekitar tahun 1980-an, mengenakan jilbab adalah perjuangan besar bagi mereka. Tak sedikit dari mereka yang rela dikeluarkan dari sekolah atau dipecat dari pekerjaannya lantaran azzam mereka yang begitu kuat untuk terus mengenakan jilbab. Wanita-wanita yang berjilbab pada era itu selalu dicurigai dan diintimidasi. Sebaliknya saat ini berjilbab bukan lagi menjadi batasan untuk siapapun. Semua orang bebas mengenakannya. Hanya saja masih sedikit wanita muslimah yang terketuk hatinya untuk istiqamah mengenakannya saat berada di luar rumah atau bertemu dengan orang yang bukah mahramnya.

Ketika awal-awal mengenakan jilbab aku pun beranggapan bahwa jilbab hanyalah sebatas peraturan sekolah. Karena Alhamdulillah sejak sekolah dasar aku bersekolah di sekolah Islam. Dan terus melanjutkan ke sekolah tsanawiyah hingga aliyah. Aku mengenakan jilbab secara istiqamah baru ketika beranjak kelas dua tsanawiyah. Waktu masih duduk di madrasah ibtidaiyah atau SD tak jarang jilbab itu telah kulepas, ketika masih di jalan, sebelum aku sampai rumah. Namun ketika menginjak masa remaja, saat itulah hatiku terketuk, aku merasa menjadi orang munafik, karena mengenakan jilbab hanya untuk mematuhi peraturan sekolah, bukan untuk mentaati perintah Allah. Saat guru ngajiku menerangkan tentang ayat yang membahas kewajiban mengenaka jilbab, yakni surat al-Ahzab ayat 59, ada dorongan kuat untuk sesegera mungkin istiqamah dalam mengenakan jilbab.

Memang pada masa awal-awal aku mengenakannya secara istiqamah, ada perasaan canggung, takut dianggap sok alim, bahkan ada teman yang mengatakan kepalaku botak, lantaran rambut penuh kutu hingga akhirnya aku menutupinya dengan jilbab. Benar-benar ujian buatku, kala itu. Ingin rasanya aku membatalkan niatku untuk mengenakan jilbab tatkala mendengar berbagai celaan itu. Namun guru mengajiku selalu menguatkan langkahku dan terus memotivasiku untuk istiqamah mengenakannya.

Satu hal yang selalu kuingat, tatkala beliau mengutip sebuah hadist untuk mengobati keraguan dalam hatiku. Mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan itu adalah apa-apa yang tentram jiwa padanya, dan tentram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang ragu dalam jiwa dan ragu pula dalam hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan membenarkannya.(H.R Musli ).

Ya bisikan suara hati yang suci memang tak pernah bisa dibohongi. Bila memang niatku untuk menutup aurat hanya karena Allah, meskinya aku tak menghiraukan apapun yang dikatakan orang terhadapku. Karena menuruti perkataan setiap mausia adalah suatu kemustahilan. Sumber kebenaran hakiki hanyalah Alquran dan hadist, bukan pendapat manusia. Kalau ada orang yang mengatakan “Buat apa berjilbab kalau hatinya belum baik, mending nggak usah berjilbab aja tapi hatinya baik”. Maka akan kujawab dengan tegas bahwa “Semua wanita yang berjilbab itu memang belum tentu baik atau shalihah. Namun setiap wanita baik dan shalihah mereka pasti mengenakan jilbab.” Karena itu adalah harga mutlak yang telah diperintahkan Allah kepada semua wanita muslim. Itu adalah sebuah ajaran Islam agar wanita senatiasa menjaga diri dan tidak mengumbar aurat yang dapat mengundang nafsu syahwat.

Saudariku, yang merindukan perubahan untuk menjadi pribadi muslimah yang lebih baik bisikkanlah ini dalam lantunan doamu, “Ya Allah yang maha membukakan hati, aku letih dengan keadaanku yang hanya begini-begini saja. Aku tahu aku tak boleh berharap agar Engkau mengubah kualitas hidupku, tanpa aku sendiri tegas membersihkan pikiranku, membeningkan hatiku dan mengindahkan perilakuku. Allah dampingilah aku dalam ketegasan upayaku.” Hanya Allah sematalah sumber kekuatan. Dia tak akan tinggal diam melihat hamba-Nya yang senantiasa berupaya untuk mengejar cinta-Nya.

Kututup goresan tinta cintaku ini dengan sebuah doa untukmu saudariku. “Seperti apapun kita hari ini semoga Allah mengusap lembut hati kita, menjadikan kita bagian dari orang-orang yang berjiwa tenang, yang kelak akan datang kepada Allah dengan wajah yang bercahaya dan amal yang diridhai.” Kecantikan wanita muslimah bukan dilihat dari kulitnya yang putih atau pesona wajahnya yang menawan. Namun dari pandangannya yang terjaga, tutur katanya yang lembut, wajah yang senantiasa dihiasi dengan senyum dan air wudhu, aurat yang senantiasa terlindungi serta keistiqamahannya dalam menjalankan perintah Allah. Subhanallah, engkaukah wanita muslimah itu saudariku?

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Safira Rahima adalah nama pena dari Santy Nur Fajarviana. Ingin selalu menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan yang tak ada batas usianya ini. Pernah mendapat juara harapan 2 lomba menulis novel tingkat nasional juga juara 3 lomba menulis artikel tingkat provinsi. Saat ini ia sedang berjuang menggapai mimpinya untuk menjadi penulis best seller dan bercita-cita mendirikan sekolah menulis di kota kelahirannya, Madiun.

Lihat Juga

Mencintai Diri Sendiri

Organization