Home / Berita / Nasional / Terpidana Mati Jilid dua: Dari Lubuk Hati Paling Dalam, Arwah Saya akan Gentayangan Menuntut Balas

Terpidana Mati Jilid dua: Dari Lubuk Hati Paling Dalam, Arwah Saya akan Gentayangan Menuntut Balas

Kutipan surat yang ditulis Zainal Abidin, satu-satunya terpidana mati asal Indonesia.  (antara.com)
Kutipan surat yang ditulis Zainal Abidin, satu-satunya terpidana mati asal Indonesia. (antara.com)

dakwatuna.com – Cilacap. Eksekusi mati tahap kedua selama ini banyak dihiasi dengan berita-berita seputar duo ‘Bali Nine’ Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Hampir-hampir nama  Zainal Abidin tak pernah terdengar pemberitaannya, padahal dialah satu-satunya Warga Negara Indonesia (WNI) yang bakal bergabung dalam eksekusi mati bersama dengan terpidana mati tahap kedua lainnya.

Hingga saat ini Zainal masih bersikeras dan mengaku tak pantas menerima hukuman ini. Ia merasa dikhianati, dan ironisnya, hal itu akan berujung kematian di tangan regu penembak bangsanya sendiri.

Diceritakan kembali dari The Canberra Times, dikutip dari jpnncom, Senin (9/3/14), Zainal adalah seorang buruh pabrik berusia separuh baya di Palembang Sumatera Selatan, yang upahnya sehari berkisar antara 10 sampai 15 ribu rupiah.

Berdasarkan kisah Zainal, suatu hari di tahun 2001, di saat dia sedang tidur, seorang kenalannya bernama Aldo datang ke rumahnya dengan membawa tiga karung beras yang padat terisi.

Aldo saat itu datang larut malam dengan bus. Dia ingin tinggal satu malam sebelum melanjutkan ke Pulau Jawa keesokan harinya. Zainal menegaskan dia tidak tahu apa yang ada di dalam karung, yang ternyata berisi 58,7 kilogram ganja.

Di saat Zainal kembali tidur, Aldo keluar untuk memperdagangkan sekitar satu kilo barang bawaannya. Dia tertangkap dan kepada polisi Aldo menuding Zainal.

Singkat cerita, Zainal ditahan dan mengklaim dipukuli oleh aparat. “Dia pikir dia akan mendapatkan cacat tetap, jadi terpaksa dia mengaku dialah organiser dari barang tersebut,” ujar pengacara Zainal Abidin, Ade Yuliawan.

Penjelasan itu ditolak oleh pengadilan, meskipun tersaji tubuh memar Zainal sebagai bukti.

“Saya tidak bisa menerima perlakuan ini. Hukum tidak adil buat saya. Untuk orang-orang kecil seperti saya,” tulis Zainal dalam surat yang dia buat pada 5 Maret itu.

“Apabila Bapak Jaksa Agung dan seluruh perangkat hukum yang terlibat dalam pelaksanaan eksekusi terhadap diri saya tetap memaksakan kehendak, maka arwah saya tidak tenang, gentayangan, akan menuntut balas termasuk kepada istri, anak, dan keturunannya. Ini dari lubuk hati saya yang paling dalam,” tulis Zainal.

Zainal mungkin pantas geram. Dengan kondisi ekonomi tidak mendukung, dia tidak bisa melacak apa yang terjadi. Mendekam putus asa di penjara.

Berbagai upaya telah dilakukan ketika pada persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, 13 Agustus 2001, Zainal dijatuhi vonis lebih berat dari tuntutan Jaksa yakni selama 18 tahun penjara.

Upaya banding ke Pengadilan Tinggi Palembang justru berbuah vonis hukuman mati pada 4 September 2001. Kemudian ia mengajukan kasasi atas putusan PT itu pada 3 Desember 2001 namun putusan tersebut justru diperkuat Mahkamah Agung.

Tak terhenti pada upaya kasasi saja, Zainal juga mengajukan Peninjauan Kembali (PK) pada 2005 dan hingga kini tidak pernah mendapatkan jawaban.

Puncak upaya hukumnya yakni pada 2015 dengan meminta grasi tapi ditolak Presiden Joko Widodo.

“Betapa terkejutnya saya mendengar pada 9 Januari 2015 yang grasi saya ditolak oleh Presiden Jokowi,” tulisnya.

Pekan lalu, keluarga Zainal mendapat kabar dari jaksa di Palembang bahwa mereka akan memiliki satu kesempatan terakhir untuk melihat Zainal sebelum dieksekusi.

Namun keluarga tidak punya uang untuk melakukan perjalanan ke Nusakambangan di Jawa Tengah untuk melihat dia. (adk/jpnn/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Jual Narkoba, Puluhan Tentara Israel Diberhentikan