Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aulia Si Manis Bisu

Aulia Si Manis Bisu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: Fitrianti)
(Foto: Fitrianti)

dakwatuna.com – Tidak ada yang menginginkan terlahir sebagai seorang yang cacat. Menjalani keseharian dengan keterbatasan sungguh sangatlah menguji batin. Rasa kasihan, cacian maupun ejekan dari teman-temannya merupakan sesuatu yang melekat pada dirinya. Suatu hari dengan buku-buku yang terhimpit di badannya, ia tergopoh-gopoh datang ke rumahku setelah seharian bergelut dengan murid-muridku di sekolah. Dia seorang anak gadis yang cantik, putih nan bersih. Setiap hari ia ditemani oleh ibunya kemana-mana, bahkan saat ia datang belajar bersamaku, ia mengikut sertakan ibunya tuk menemaninya.

Aulia, yah itulah namanya. Lahir di sebuah desa terpencil di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. Seorang anak gadis yang tak bisa mendengar maupun berbicara dalam kesehariannya. Akan tetapi walaupun ia digeluti ama berbagai kekurangan tapi tidak mematahkan semangatnya untuk terus belajar maupun berinteraksi dengan teman-temannya yang lain. “Dia mah teh, walaupun tidak bisa maca ama nulis, tulisannya mudah dibaca. Kalau diajarin cepat sekali nangkapnya, cuman sekali dijelasin bisa lansung ngerti “ Kata Ibunya (dalam bahasa Sunda). Buah hati Ibu Umi dengan Pak Asep ini memiliki kecerdasan yang luar biasa. Setiap malam dia datang ke tempat istirahatku untuk belajar bersama teman-teman yang lainnya. Mengajaknya ngobrol dengan bahasa isyarat yang sedikit diajarkan oleh teman-temannya. Orang tuanya pun tidak tau lagi harus berbuat apa, berada dalam keterbatasan membuat mereka tak mampu berbuat banyak untuk anak tercinta mereka, orang tuanya hanya berharap ada tangan-tangan dermawan yang akan membantu anaknya untuk bisa mendengar dan berbicara lagi. Saat kami larut dalam percakapan mengenai anaknya, sang Ibu tak sengaja menitikkan air matanya. Akupun bertanya sambil mengelus pundak ibunya “Kenapa ibu nangis?” “Saya hanya kasihan sama anak saya Bu, jika saya melihat dia belajar kayak gini bersama teman-temannya saya sangat sedih karena dia tidak bisa seperti anak yang lainnya” Kata ibu Umi. Aku pun kembali mengelus pundaknya mencoba untuk menenangkannya sembari berkata “Ibu, Ibu harus kuat, cacat tubuhpun bukanlah sebuah halangan untuk anak ibu sukses di kemudian hari. Bu, yang bisa ibu lakukan adalah terus menyemangatinya, jangan biarkan dia kehilangan semangat karena keterbatasan yang ia miliki bu.”

Setiap malam aku hanya bisa mengajarinya untuk menulis, dan tulisannya pun cukup jelas dibaca untuk tulisan seusia dia. Banyak hal yang ingin kuajarkan padanya tapi karena keterbatasan ilmu untuk mengajar anak yang bisu dan tak bisa mendengar membuat saya tak bisa melakukan banyak hal padanya.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar

Lihat Juga

Manisnya Ramadhan