Topic
Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Gerakan Mahasiswa: Antara Realitas dan Dongeng-Dongeng Idealitas

Gerakan Mahasiswa: Antara Realitas dan Dongeng-Dongeng Idealitas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Siang itu begitu panas. Cuaca terik. Lalu lintas padat. Suara sang orator membelah keheningan massa di alun-alun istana negara. Suasana istana negara yang begitu tenang, sekejap berubah menjadi hiruk pikuk aksi mahasiswa gabungan dari perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.

“Rekan-rekan mahasiswa sekalian,
Kita merasa lelah dibodohi,
Isu KPK dan POLRI itu hanya isu yang berulang pada tatanan elite politik negeri ini,
Tentu hal ini tidak berdampak langsung terhadap masyarakat … .
Hari ini media terlalu fokus pada isu KPK vs POLRI sehingga melupakan kasus lain,
Seperti perpanjangan kontrak PT. Freeport, nasionalisasi Blok Mahakam dan isu BBM,
Maka hari ini kita harus berani mengatakan, hentikan pembodohan ini,
Hentikan dramaturgi politik dialektis yang memuakkan ini.”

Kalimat lantang penuh keberanian itu terucap dari mulut seorang mahasiswa UNJ yang berdiri di atas mobil sound di antara istana negara dan monumen nasional, 23 Februari 2015 yang lalu. Di hadapan massa aksi gabungan yang terhimpun dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesi (BEM SI). Massa aksi yang mengusung berbagai panji-panji gerakan mahasiswa dari berbagai kampus itu melebur menjadi satu suara dalam teriakan penuh gelora, hidup mahasiswa. Aksi kala itu menuntut presiden Joko Widodo untuk menyelesaikan kisruh antara dua institusi penegak hukum di Indonesia, yaitu antara KPK dan Polri. Massa menuntut penghentian pembodohan atas penggiringan opini pada masyarakat. Massa juga menuntut agar presiden dan media tidak terlalu fokus pada kekisruhan ini, dan sebaiknya mulai mengalihkan opini kepada isu-isu strategis yang memang memiliki dampak langsung pada rakyat banyak. Perpanjangan kontrak PT Freeport, nasionalisasi blok Mahakam, dan isu BBM yang hingga hari ini masih berpolemik tak kunjung dibahas dalam tatanan opini publik. Isu antara KPK dan Polri sebetulnya hanyalah konflik antar elite politik oportunis negeri ini yang terelaborasi menjadi isu bersama berbangsa.

Adalah sebuah realita bahwa bangsa ini sedang mengalami kehinaan dan kenistaan akibat jatuh dalam berbagai krisis. Berbagai runtutan masalah itu adalah maraknya mafia migas, mafia hukum, pendidikan yang amburadul, perampokan asing di perairan Indonesia, dominasi asing atas kekayaan alam bangsa, hingga berbagai skandal korupsi seperti BLBI, Hambalang hingga kasus Bank Century yang sampai hari ini tak kunjung selesai. Betapa tidak, pasca pemilu 2014 yang lalu, hutang bangsa Indonesia kepada IMF dan World Bank hampir menyentuh pada angka 2700 triliun rupiah. Ini berarti, jika dengan asumsi penduduk Indonesia berjumlah 250 juta jiwa, maka setiap bayi yang lahir di republik ini akan menanggung hutang lebih dari 10 juta rupiah. Betapa terpasungnya bangsa ini. Hingga akhirnya, semua itu akan berbenang merah kepada hak-hak seluruh rakyat Indonesia dan yang akan berdampak pada kelangsungan masa depan bangsa.

***

Mahasiswa. Ada dua kata penuh makna yang terlintas ketika mendengar sebutan ini; yang pertama adalah idealisme, dan yang kedua adalah semangatnya. Kata “mahasiswa” telah mewakili sisi intelektualitas pemuda, keberanian dan semangat juang yang terimplikasi dalam gerakan perjuangan. Sejarah membuktikan, episode-episode bangsa kita tak lepas dari sejarah pemuda. Tinta sejarah bangsa ini tak lepas dari merah darah para mujahid kemerdekaan, hitam pena intelektual bangsa, hingga resolusi jihad pemuda yang pada akhirnya berhasil menggusur penjajah kolonialistik dari bumi pertiwi. Rentetan-rentetan sejarah paska kemerdekaan pun membuktikan; gerakan mahasiswa ’66, Gema 77/78, hingga reformasi ’98 yang begitu heroik telah berhasil membungkam rentetan kezhaliman rezim dan menghapuskan mereka yang sok kuasa di republik ini. Mereka adalah perisai kebenaran, pedang keadilan, dan tombak peradaban bangsa yang terpatri dalam buku sejarah bangsa hingga merekah mewangi menghiasi taman peradaban bangsa.

Gerakan mahasiswa hari ini hanyalah sebuah buih kecil di tengah lautan peradaban bangsa. Suara gerakan mahasiswa tak cukup nyaring untuk menjamah hati-hati elite politik negeri ini. Dengan kerelaan berpanas-panas ria, berdiri menentang hujan, berteriak-teriak di jalanan, hingga mendendangkan mimpi-mimpi idealis dan berharap elite-elite bangsa ini mendengarkan riuh gemuruh teriakan mereka, mengetuk hati yang membatu, meleburkan asa yang membuncah. Orasi, narasi dan aksi tak henti mengiringi detik-detik aksi mereka. Mereka berpikir, mereka gelisah, mereka marah, lalu mereka realisasikan dengan turun ke jalan. Bagi mereka, almamater adalah jubah kebesaran. Digunakan untuk orasi dan debat dengan pemerintah yang melakukan kezhaliman. Mereka tak rela almamater mereka hanya digunakan di televisi dan menjadi penonton acara lawak. Hanya senyum-senyum dan tepuk tangan dengan pengisi acara. Hingga kini, semangat itu tak pernah luntur. Seperti kibaran panji-panji gerakan yang tak pernah luntur di bawah gemuruh langit yang menghujan.

Namun hari ini, bukanlah saatnya lagi terhanyut dalam masa lalu. Gerakan mahasiswa hari ini hanya mewarisi dongeng-dongeng tentang idealitas para pendahulunya. Idealitas itu kini menyerah tak berdaya pada realitas zaman. Gerakan itu kini terjebak antara realitas dan dongeng-dongen idealitas. Paska reformasi, sudah tak ada lagi sosok yang menjadi “musuh bersama” antar gerakan mahasiswa. Musuh-musuh dari luar itu kini berparasit membelit dan bercabang di tubuh sendiri. Dunia mahasiswa hari ini hanya berisi hal-hal yang paradoks berbalut dialektika pragmatisme. Lihat saja, suatu ketika mereka berteriak-teriak di jalanan, memaki-maki pemerintah, meneriakkan kecaman pada rezim berkuasa, namun di sisi lain rentetan fenomena yang membuat kita akhirnya mengernyitkan dahi. Lihatlah di kelas-kelas, betapa banyak parasit mahasiswa yang mencontek saat ujian, plagiarisme dalam membuat makalah, hingga virus apatisme yang tak bisa direda. Di satu sisi mereka berteriak-teriak tentang kebenaran. Di sisi lain, mereka sedang mengkonstruksikan diri mereka menjadi perampok baru di republik ini. Seperti mereka yang berteriak-teriak tentang kebenaran, namun lupa memakai celana. Jika begini, mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang mereka olok-olok saat aksi di jalanan.

Tombak peradaban bernama mahasiswa itu kini kian rapuh. Musuh terbesar gerakan mahasiswa hari ini adalah apatisme, entah itu mereka yang memang apatis, atau mereka yang memilih untuk apatis. Invasi globalisasi dan hedonisme kian hari semakin menggerogoti tubuh dan pikiran mahasiswa. Mereka yang apatis, memilih kuliah-pulang, dengan sedikit shopping, dugem, dan lain-lain. Memang terkadang bermanfaat, tetapi ini terkadang pula menciderai semangat sosial kemasyarakatan. Sementara itu, mereka yang memilih apatis, dengan logika yang sederhana pula. Mereka berteriak bahwa aksi jalanan itu tak cerdas, bahwa gerakan mahasiswa tertentu sudah “ditunggangi”, gerakan mahasiswa tertentu sudah “disetir”, tanpa bukti dan tak pernah ingin membuktikan dengan ikut aksi. Inilah potret antar gerakan. Mereka yang mengatakan dan menyatakan diri sebagai yang “paling mahasiswa di antara mahasiswa”, dengan saling menjatuhkan antar pergerakan mahasiswa.

Mereka yang mengelu-elukan bahwa “mahasiswa harus netral”, seharusnya sadar bahwa merekalah yang sedang tidak netral, karena sedang berpihak pada kenetralannya. Mereka yang menggaungkan bahwa “Mahasiswa harus Netral”, seharusnya sadar bahwa kenetralan itu kini menjadi senjata ampuh agar mahasiswa menjadi gamang pemikirannya, tak jelas pendiriannya. Akhirnya, mahasiswa di-galau-kan oleh komodifikasi kata yang disebut “netralitas semu”. Pada akhirnya, mahasiswa harus berpihak, dan keberpihakan yang terbaik adalah berpihak pada kebenaran.

Sementara itu, mereka yang berada di gedung-gedung mewah sana mengatakan; tugas mahasiswa hanyalah melakukan penelitian; tugas mahasiswa hanyalah belajar di dalam kelas; dan tugas mahasiswa hanyalah belajar, kejar IPK tinggi dengan apapun caranya, dan siaplah menghamba menjadi pekerja, bukan pemikir. “Tak perlu kalian meneriaki pemerintah. Mahasiswa jangan hanya banyak bicara, tapi beri solusi nyata.”

Lalu mahasiswa tiba-tiba terdiam, kerena diteriaki “solusi nyata”.

Memang apa yang bisa dilakukan oleh para mahasiswa, yang hanya mampu menyewa mobil sound dari kantong pribadi mereka, untuk mengubah langsung kondisi bangsa yang morat-marit ini?

Padahal, aksi jalanan itu bukan bukti tak cerdas. Mereka yang meneriakkan bahwa aksi jalanan itu tak cerdas, seharusnya sadar bahwa aksi jalanan adalah lumrah dalam negara demokrasi, dan di fasilitasi konstitusi. Mereka yang meneriakkan bahwa aksi jalanan itu tak cerdas, seharusnya sadar bahwa sejarah bangsa ini diubah oleh para pemuda melalui aksi jalanan yang kalian caci maki itu. Mereka yang meneriakkan bahwa aksi jalanan itu tak cerdas, seharusnya sadar bahwa mereka bisa hidup tenang di negara ini karena keringat para mujahid kemerdekaan yang sebagian besarnya adalah pemuda.

Bagi saya, logika mahasiswa itu sederhana, logika rakyat. Jika rakyat menderita karena kezaliman kebijakan penguasa, maka lawan. Jika rakyat sengsara karena pejabat-pejabat tak tahu diri merampok uang negara, maka lawan. Jika kekayaan alam bangsa dirampok oleh asing, dan negara tertindas oleh aseng, maka lawan. Jika rakyat menjerit, sementara politisi “berperut buncit”, maka lawan. Jika rakyat hampir mampus, sementara pemangku kekuasaan semakin rakus, maka lawan. Sesederhana itulah sebuah gerakan mahasiswa. Aksi, aksi, aksi, itulah fokus gerakan mahasiswa. Entah itu aksi sosial, aksi intelektual, ataupun aksi jalanan. Kerja, kerja, kerja, itu kewajiban pemerintah. Logika mahasiswa jangan mudah dipelintir. Gerakan mahasiswa bukanlah kumpulan para profesor. Kalau ingin kajian, tanya ICW, BPS, KPK, LIPI, tanya juga DPR RI. Sudah banyak kajian, sudah banyak solusi, tinggal bagaimana realisasi. Tugas mahasiswa hanyalah watch-dog atas nama rakyat, anjing penjaga yang setiap saat bisa meneriaki pemerintah yang melakukan kezaliman.

Jika demikian adanya, apakah dunia pergerakan mahasiswa hari ini hanya berisi kepentingan pragmatis dan sosok-sosok oportunis?

Generalisasi ini tentu saja tidak dibenarkan. Sangat tidak layak jika hanya menggunakan logika “jika A, maka B”. Sangat tidak pantas menggunakan logika generalisasi dalam memandang mereka. Masih ada mereka yang punya harapan, punya iman, dan punya kemampuan. Lihatlah sekitar, tidakkah kita menyadarinya? Ada yang rela malam-malam berkumpul, berdiskusi untuk memikirkan nasib bangsa ini. Masih ada segolongan mahasiswa yang masih terus bertarung dengan realitas, mendendangkan mimpi tentang idealitas, mencengkram teguh idealismenya. Masih ada yang mereka yang tersadar bahwa di setiap benang yang menyusun almamater mereka itu terdiri dari keringat para petani, nelayan, dan rakyat yang membayar pajak. Mereka memahami bahwa eksistensi mereka bukan hanya untuk mendapatkan materi, popularitas, dan kebanggaan atas kesuksesan pribadi. Sehingga mereka mampu menjadi pembuat sejarah, bukan hanya penikmat alunan sejarah. Ada mereka yang berteriak lantang menyuarakan kebenaran di jalanan, namun tidak lupa mengikuti kegiatan akademis tanpa ada masalah. Mereka masih berkumpul bermalam-malam untuk berada logika dialektis, memecah solusi bagi negeri. Sehingga organisasi dimana mereka berada bukan hanya berstatus sebagai event organizer, tetapi history creator, pembuat sejarah. Mereka paham betul, bahwa kehidupan mereka bukan hanya ada di dalam kampus, namun di negeri surga bernama Indonesia. Mereka tahu persis kapan harus berpikir, kapan harus diskusi dan kapan harus turun ke jalan.

Menilai gerakan mahasiswa hari ini, bagi mereka yang mengaku peduli dengan republik ini, bagi mereka yang mengaku “paling bergerak dalam gerakan mahasiswa”, seharusnya sadar bahwa bangsa ini tak akan baik jika saling menjatuhkan, saling mencaci dan saling menebar kebencian. Bagi mereka yang hari berada dalam tim aksi mahasiswa, community development, lembaga dakwah kampus, badan eksekutif mahasiswa, dan organisasi mahasiswa dalam kampus hingga organisasi mahasiswa ekstra kampus, seharusnya sadar bahwa tugas mereka bukan untuk saling menghakimi dan mengadili satu sama lain. Mereka yang tergabung dalam itu semua seharusnya sadar, bahwa musuh mereka bukan sesama mereka, tetapi perampok negeri, mafia bangsa, dan penindas global bertopeng liberalisasi dan kapitalisme yang terus menggerogoti keadilan sosial umat. Maka, mainkan saja peranmu. Dan bersama, ubahlah negeri yang gersang ini menjadi dunia baru.

Allahu a’lam.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Ketua BEMJ Sosiologi UNJ. Pusgerak, Reds Soldier UNJ. Pusgerak, Greenforce UNJ.

Lihat Juga

Relawan Nusantara Jakarta Timur Gelar Indonesia Mendongeng 6

Figure
Organization