Topic
Home / Berita / Internasional / Asia / Benarkah Arab Saudi Cambuk Korban Pemerkosaan?

Benarkah Arab Saudi Cambuk Korban Pemerkosaan?

Ilustrasi cambuk. (sindonews)
Ilustrasi cambuk. (sindonews)

dakwatuna.com – Jakarta. Baru-baru ini ramai di portal berita online dan media sosial diberitakan ada seorang wanita di Arab Saudi yang menjadi korban pemerkosaan justru dihukum cambuk. Namun, ternyata berita tersebut adalah berita hoax.

Ustadz Abdullah Haidir, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai tenaga pendidik di Arab Saudi mengatakan dalam akun Twitternya @abdullahhaidir1, bahwa berita tersebut adalah hoax.

“Cukup rame pemberitaan ttg hukuman cambuk di Saudi thd wanita korban perkosaan. Di sini (Arab Saudi. Red) saya cari2 beritanya di koran nasional tdk ada. Kaum liberal spt dapat durian runtuh denger berita ini. Padahal di koran2 nasional di sini ga ada beritanya. Yg rame justeru polemik hukuman cambuk thd seorang pemuda yg publikasi paham atheis,” tulis Ustadz Abdullah Haidir, Senin (9/3).

Jusru, lanjut Ustadz Haidir, sapaan akrab Ustadz Abdullah Haidir, dirinya baru mengetahui informasi ini karena ada yg mention ke akun Twitternya tentang masalah ini. “Ada yg ngotot banget kalau berita ini bener. Kasian bingit,” tambahnya.

Menurutnya, dirinya justru mengambil informasi dari tweet akun @putrisosmed, sebuah akun yang ikut menyebarkan berita hoax tersbeut. “Beruntung ada akun @putrisosmed yg semangat 45 nyebarin berita ini. Maksud die sih pengen memojokkan saudi. Mumpunglah. Tapi, justeru dari mba @putrisosmed saya dapat info menarik. Ada dua sumber berita masalah ini, dari Iran dan Human Rights,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, inilah yang menjadi pegangan akun @putrisosmed membuat berita tersebut. “Tampaknya inipula yg dijadikan rujukan media di tanah air,” ujarnya.

Anehnya, masih kata Ustadz Haidir, media-media hanya menyebutkan sumbernya dengan tulisan “PressTV” saja. “Tdk menyebut Iranian PressTV. Mengapa? *YouKnowLah,” tambahnya.

Ustadz Haidir mengaku, dirinya jadi ingat tentang isu pembongkaran makam Nabi yang membuat umat Islam marah. setelah ditelusuri ternyata sumbernya berawal dari media kaum syiah.

Sementara itu, sumber kedua berita hoax tersebut, lanjut Ustadz Haidir, yaitu dari direktur Human Rights Kenneth Roth yang langsung di retweet ribuan orang pengguna sosial media Twitter.

“Kontan saja berita ini dibantah oleh media2 Saudi, tak kurang MBC yg lumayan dikenal liberal juga ikut membantahnya. Lucunya, Kennet Roth, ketika menyadari bhw berita tsb hoax, buru2 menghapus twitnya. Coba aja cek akunnya @KenRoth dah ga ada. Ini berita di Saudi bhw beliau hapus twitnya. Nama Indonesia akhirnya disebut2. Kata mrk itu poto dari Indonesia,” tulis Ustadz Haidir.

Anehnya, kata Ustadz Haidir, di Indonesia masih ada yang tetap yakin bahwa berita itu benar. Menurutnya, dia merasa kasihaan adanya kedengkian yang menutup nalar dalam berpikir.

“Kemungkinan berita tsb didaur ulang lagi dari putusan pengadilan yg pernah terjadi di Saudi tahun 2006. Mmang ada pengaduan korban perkosaan. Para pelakunya 6 atau 7 orang, dihukum penjara, sedang wanitanya dihukum cambuk. Mengapa? Menurut pengadilan ada kasus hubungan gelap. Di Saudi, perbuatan zina mmang masuk dlm delik hukum. Jk ada pria wanita berada di tempat yg mencurigakan tanpa bukti pernikahn, dpt dihukum
Nah.. lalu berita tsb dirame2in oleh pers barat, dg isu korban perkosaan dihukum cambuk. Sudah jadi korban dihukum pula,” tuturnya.

Sebelumnya, tambah Ustadz Haidir, di Aceh, seorang wanita yang diberitakan merupakan korban pemerkosaan yang juga dihukum cambuk, ternyata ada kasus lain mengapa perempuan tersebut dihukum.

“Yaahh begitu deh, ngadepin org liberal. Sabar2 gemes, nalarnya mati, dengkinya setengah mati,” tutup Ustadz Haidir akhiri kultwitnya.

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Figure
Organization